Keberanian Sutarto dan Siaran Radio Gerilya
- 01 Sep 2026 08:55 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Ketika Agresi Militer Belanda II pecah pada Desember 1948 dan Kota Surakarta diduduki tentara penjajah, gemuruh dentuman meriam menyapu bersih ketenangan di kota itu. Bagi Belanda, memadamkan pemancar RRI Surakarta berarti mematahkan moral rakyat.
Namun, mereka lupa bahwa semangat perjuangan tidak pernah bergantung pada gedung beton, melainkan pada manusia di dalamnya. Di tengah situasi mencekam itu, Sutarto, seorang teknisi sekaligus pejuang penyiaran dari RRI Surakarta, mengambil keputusan nekad. Bersama rekan-rekannya, ia membongkar pemancar radio seberat puluhan kilogram, membungkusnya dengan kain terpal seadanya, dan memikul peralatan berat tersebut menembus barikade musuh menuju daerah pedalaman di Lemah Abang, lereng Gunung Lawu.
Di bawah naungan gubuk bambu dan rimbunnya dedaunan hutan, Sutarto mendirikan stasiun radio darurat. Tanpa pasokan listrik kota, ia dan timnya memutar generator pendorong dengan tenaga manusia—dikayuh bergantian hingga peluh membasahi tubuh di tengah dinginnya udara pegunungan.
Setiap kali jarum pemancar bergetar dan gelombang radio mengudara, kabar perjuangan kembali menyapa telinga rakyat di sembunyi-sembunyi:
"Di sini Radio Republik Indonesia, Surakarta... Republik kita masih ada! Tentara kita masih berjuang!"
Suara dari pemancar tersembunyi itu menjadi obat penawar ketakutan bagi warga yang bersembunyi di gubuk-gubuk desa, sekaligus menjadi tamparan keras bagi propaganda Belanda yang mengklaim Indonesia telah runtuh. Belanda berulang kali melacak sinyal dan membombardir wilayah pedalaman, namun Sutarto selalu selangkah lebih maju—membongkar pemancar, berpindah dari satu desa ke desa lain, dan kembali menyiarkan kebenaran.
Sutarto membuktikan, pertahanan sebuah bangsa tidak hanya dibangun dengan senapan dan sangkur, tetapi juga dengan gelombang suara yang menjaga nyala harapan rakyatnya agar tak pernah padam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....