Jembatan Garuda: Mengembalikan Nutrisi yang Hilang di Piring Makan Rumah Gadang

  • 31 Agt 2026 03:35 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - "Ayo Udin, kejar aku! Siapa yang lebih dulu sampai ke ujung jembatan? Aku sudah tidak sabar lagi mencicipi masakan ibu di rumah!" seru Nurman (10) sembari melompat gembira.

"Benar kata ibu, sejak Jembatan Garuda ini dibangun, kita bisa makan enak lagi. Setiap hari ada ayam, ikan, telur, pokoknya lengkap semua," balas Udin (9) dengan napas terengah, diiringi tawa lepas yang memecah keheningan lembah.

"Samalah, piring makanku tak lagi kosong bercelah, penuh dengan lauk pauk!" timpal Siti (11) dengan wajah berseri-seri.

Percakapan ringan anak-anak di Nagari Nago Baraliah itu seakan menjadi penanda, berakhirnya belenggu krisis pangan di nagari mereka. Berakhirnya krisis gizi yang mengancam kesehatan anak-anak nagari. Di sadari, bencana banjir bandang yang menerjang sejumlah daerah di Sumatera Barat pada penghujung November lalu telah merampas keceriaan warga, mengisolasi permukiman hingga memutus rantai suplai gizi harian anak-anak di Ranah Minang.

Hari-hari pascabencana sempat membentangkan kepiluan di ruang pemeriksaan kesehatan desa. Rahma, salah seorang tenaga kesehatan di Nagari Nago Baraliah mengingat betul, bagaimana kondisi kesehatan anak-anak menurun drastis ketika isolasi mengurung diri. Akses jalan terputus, begitu pun jembatan besar dan kecil ambruk. Transportasi warga ketika itu hanya mengandalkan kekuatan kaki dan nyatanya hal itu juga tidak banyak membantu.

"Saat akses terputus, pasokan bahan pangan segar terhenti total. Anak-anak hanya makan seadanya dari sisa logistik darurat, dominan karbohidrat tanpa protein dan vitamin yang cukup. Dalam beberapa minggu saja, berat badan anak-anak turun drastis, daya tahan tubuh mereka melemah dan mengeluhkan lemas serta rentan sakit. Kami di posko kesehatan sangat khawatir akan ancaman krisis gizi buruk jangka panjang tersebut," kenang Siti dengan nada prihatin.

Bagi anak-anak nagari, berdirinya Jembatan Garuda adalah keajaiban nyata di masa pemulihan. Gelak tawa yang sempat redup kini menggema kembali saat mereka melintasi jembatan garuda. Sepatu sekolah bersahaja, beradu hangat dengan bilah kayu dan rangka baja jembatan. Ada binar bahagia di mata mereka, sebuah kesadaran tentang jalur yang tidak hanya mengembalikan akses ke sekolah dan tempat bermain, tetapi juga membawa pulang kesejahteraan dan kesehatan hidup mereka.

Gelak tawa yang sempat redup kini menggema kembali saat anak-anak nagari melintasi jembatan garuda. Ada binar bahagia di mata mereka, tidak hanya mengembalikan akses ke sekolah namun menawarkan kembali kesejahteraan dan kesehatan hidup yang sesungguhnya. (Foto: Sri Darni/RRI).

Kerja keras di balik perjuangan membangun jembatan penyeberangan ini merupakan buah dedikasi para prajurit di lapangan. Pangdam XX/TIB, Mayjen TNI Arief Gajah Mada menegaskan, pembangunan infrastruktur darurat ini adalah bentuk kepedulian nyata dalam upaya memulihkan kehidupan masyarakat.

"Prajurit TNI hadir bukan hanya untuk memindahkan batu dan membentangkan besi, tetapi menyambung kembali urat nadi kehidupan warga. Jembatan Garuda ini kami bangun agar anak-anak bisa kembali bersekolah dengan rasa aman dan pasokan pangan nagari kembali berjalan lancar," ungkap Pangdam XX/TIB.

Jembatan Garuda menyambung kembali urat nadi kehidupan warga. Pasokan pangan ke nagari kembali terdistribusi. Gizi dan nutrisi yang dibutuhkan anak-anak nagari otomatis terpenuhi. Di gambar terpampang, Pangdam XX/TIB, Mayjen TNI Arif Gajah Mada saat meninjau lokasi pembangunan Jembatan Garuda Merah Putih di Nagari Nago Baraliah. (Foto: Sri Darni/RRI).

Dampak langsung kembalinya akses transportasi dirasakan oleh pemerintahan lokal dan warga setempat. Wali Nagari Batu Kalang Utara, Afri Ismedi menyatakan rasa syukurnya atas sinergi pihak-pihak yang berkolaborasi dalam upaya mengakhiri masa-masa sulit pascabencana.

"Saat banjir menerjang, nagari kami benar-benar lumpuh dan pasokan bahan pangan terhenti total. Hasil panen seperti jagung tak bisa dijual ke pasar, begitu pun para peternak ayam, mereka kehilangan peluang memasarkan hasil ternaknya. Perekonomian lumpuh, warga kehilangan pendapatan dan berdampak pada pemenuhan kebutuhan harian keluarga. Meja makan kekurangan gizi, anak-anak pun kehilangan semangat dan rasa percaya diri," ungkap Afri Ismedi dengan mata berkaca-kaca.

Namun kini, suasananya telah berganti. Pembangunan Jembatan Garuda menularkan aura positif bagi kehidupan generasi penerus. Keceriaan di atas jembatan merambat hangat hingga ke dapur Rumah Gadang. Langkah kaki Nurman dan Udin yang bergegas pulang ke rumah membawa serta aroma kemenangan atas keputusasaan yang dirasakan sebelumnya.

Aminah (38), ibu dua anak ini tak mampu menyembunyikan rasa haru saat menyiapkan makan siang untuk keluarganya.

"Saya bingung mau masak apa karena tidak ada bahan makanan yang masuk. Sekarang, alhamdulillah, pasar sudah buka dan lauk-pauk segar gampang didapat. Melihat anak-anak makan dengan lahap adalah kebahagiaan tertinggi bagi kami para ibu," tutur Aminah penuh syukur.

Di atas jalinan lantai Rumah Gadang, kain marawa kembali terkembang gagah. Kepulan asap dari dapur yang tadinya dingin kini membawa harum gulai, gurihnya ikan dan telur, serta beras baru yang melintas mantap di atas Jembatan Garuda. Saat hidangan disajikan, piring makan anak-anak nagari tak lagi sekadar terisi untuk bertahan hidup. Nutrisi yang utuh telah kembali ke tempatnya. Membawa energi baru dan memulihkan kesehatan bahkan menyempurnakan kehangatan keluarga. Anak-anak di Rumah Gadang idealnya tumbuh kuat dan sehat.

Gemericik Air dan Binar Merah Putih di Nagari Balah Hilia

Bencana tak hanya memutus akses pangan, tetapi juga merusak sumber air yang menjadi kebutuhan paling mendasar masyarakat. Bagi warga di nagari terdampak, hadirnya pasokan air bersih membawa kebahagiaan yang tak ternilai, layaknya suasana yang terpampang di Nagari Balah Hilia, Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Sumur bor yang dibangun prajurit TNI mengalirkan canda tawa anak-anak nagari. Mereka menyerbu kran air yang terpajang lebih dari satu. Air bersih dan jernih mengalir dari masing-masing kran. Para bocah berebut mandi, menikmati kejernihan air yang lama tak mereka rasakan.

Ivan, bocah berusia 5 tahun itu merengek saat sang ibu memintanya berhenti dan berganti pakaian. Sembari memegang bendera kertas merah putih, Ivan kembali meminta jeda waktu agar bisa terus bermain air dengan teman sebayanya.

Akses air bersih dan sanitasi yang layak salah satu fondasi utama dalam pencegahan dan penanganan stunting (tengkes) pada anak. Keceriaan anak-anak di Nagari Balah Hilia terpampang saat gemericik air bersih menyapa tubuh yang lama dilanda kekeringan akibat bencana alam. (Foto: Sri Darni/RRI).

“Pasca banjir, air sumur warga berubah warna dan berlumpur. Sekian lama menanggung penderitaan sampai akhirnya bantuan air bersih itu datang untuk menyelamatkan kehidupan warga. Anak-anak bisa minum air sehat dan kami tidak khawatir lagi soal penyakit saat mereka mandi menggunakan air yang mengalir dari kran," tutur Tifa, warga Nagari Balah Hilia kepada RRI.

Wali Nagari Balah Hilia, Rahman Hidayat saat diwawancara RRI mengatakan, ada empat titik lokasi pembangunan sumur bor dengan jumlah penerima manfaat program terdiri dari 150 Kepala Keluarga. Sumur bor yang digarap tangan cekatan prajurit TNI memberikan keleluasaan warga bangkit dan pulih dari keterpurukan.

Akses air bersih dan sanitasi yang layak salah satu fondasi utama dalam pencegahan dan penanganan stunting (tengkes) pada anak. Stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi, tetapi juga oleh tingginya frekuensi infeksi berulang pada balita akibat lingkungan yang tidak higienis.

Dalam strategi penanganan stunting, penyediaan air bersih dan sanitasi masuk ke dalam intervensi sensitive. Intervensi di luar sektor kesehatan yang menyumbang hingga 70% keberhasilan pemulihan tumbuh kembang anak. Tanpa air bersih, pemberian makanan bergizi tinggi (seperti telur, ikan, dan susu) tidak akan memberikan hasil optimal karena nutrisinya terus terkikis oleh infeksi.

Melalui sinergi terpadu antara penyediaan pangan gizi tinggi dan jaminan air bersih, JAPFA membuktikan kepedulian yang menyeluruh. Di atas tanah Ranah Minang yang tengah bangkit, aliran air bersih dan kepedulian tentu menjadi simbol harapan baru bagi warga untuk menata kembali kehidupannya.

Komitmen JAPFA Memulihkan Nutrisi Ranah Minang

Masih membekas dalam ingatan penulis, saat aroma tanah basah dan sisa duka banjir bandang menyelimuti Ranah Minang. Pada salah satu dapur umum, kepulan asap tipis membumbung di posko pengungsian. Dari balik riuhnya suasana penanganan bencana, tawa riang anak-anak terdengar menembus dingin. Hari itu, piring-piring plastik mereka tak lagi hanya terisi mie instan atau makanan seadanya, melainkan bertengger telur rebus yang hangat serta segelas susu yang sudah lama dirindukan.

Bagi anak-anak korban bencana, pemenuhan gizi di tenda pengungsian bukan sekadar urusan kenyang, melainkan benteng pertahanan terakhir agar tubuh mungil mereka tidak tumbang digerogoti penyakit. Menyadari krusialnya asupan nutrisi di masa krusial, JAPFA Unit Sumatera Barat bergerak cepat mengambil peran, merangkul pemerintah daerah demi memastikan piring makan anak-anak pengungsian tetap terisi pangan bergizi utuh.

Langkah nyata kepedulian itu terpatri di Istana Gubernur Sumatra Barat, Padang. Dengan penuh kehangatan, manajemen JAPFA Unit Sumbar menyerahkan paket bantuan darurat kepada Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi Ansharullah. Bantuan yang digelontorkan tak main-main, 30.000 butir telur kaya protein, 50 dus susu untuk kecukupan gizi anak, 100 kantung beras kualitas unggul kemasan 10 kg dan 20 dus air mineral. Tidak hanya berhenti di istana, JAPFA bersama para mitra peternak lokal juga menyisir posko-posko pengungsian di pelosok nagari untuk membagikan bahan pangan dasar tersebut.

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyampaikan apresiasi mendalam atas gerak cepat yang ditunjukkan JAPFA.

Manajemen JAPFA Unit Sumbar menyerahkan paket bantuan darurat kepada Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi Ansharullah. Paket bantuan darurat yang langsung didistribusikan di posko pengungsian guna memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizi anak-anak terdampak bencana di daerah. (Foto: JAPFA).

"Bencana ini memukul banyak keluarga, dan yang paling rentan adalah anak-anak kita. Bantuan protein dan nutrisi dari JAPFA ini sangat krusial di masa darurat. Pemerintah Provinsi Sumatra Barat akan segera menyalurkan seluruh bantuan ini ke posko-posko pengungsian agar piring makan warga, khususnya anak-anak, kembali berisi makanan kaya gizi," tegas Mahyeldi Ansharullah usai penyerahan bantuan di Istana Gubernur Sumatera Barat.

Komitmen JAPFA dalam merespons krisis kemanusiaan adalah wujud tanggung jawab moral perusahaan terhadap masyarakat, khususnya generasi penerus yang paling terdampak saat krisis terjadi. Direktur JAPFA, Rachmat Indrajaya, mengungkapkan, aksi dimaksud bagian dari gerakan terpadu untuk merangkul korban bencana di Sumatera Barat.

"Melalui program JAPFA Peduli, kami berkomitmen bergerak cepat untuk memberikan dukungan bagi sesama yang terdampak banjir, tidak hanya di Sumatera Barat, namun juga Aceh dan Sumatera Utara. Sinergi JAPFA dengan Kementan RI serta lembaga lainnya wujud nyata kolaborasi yang sewaktu-waktu memastikan bantuan tersalurkan secara cepat dan tepat.," ungkap Rachmat Indrajaya.

Dampak uluran tangan ini langsung merambat ke tenda-tenda darurat. Bagi para ibu di pengungsian, hadirnya pasokan telur dan susu segar memberikan kelegaan luar biasa setelah berhari-hari dilanda kecemasan akan kesehatan buah hati mereka.

Rosma (34), ibu rumah tangga yang terpaksa mengungsi bersama dua anaknya yang masih balita, tak mampu menahan harunya saat menerima bantuan susu dan telur.

"Sejak air menghantam rumah kami, jujur saya paling takut anak-anak jatuh sakit karena makanannya kurang gizi. Kadang cuma ada nasi dan mie seadanya. Begitu ada pembagian telur dan susu, rasanya lega sekali. Anak saya senang bisa minum susu lagi. Terima kasih JAPFA sudah peduli dengan nasib anak-anak kami di sini," tutur Rosma dengan mata berkaca-kaca.

Aksi tanggap darurat ini membuktikan, di tengah ujian bencana yang melanda Sumatera Barat, kepedulian tak pernah runtuh. Lewat sinergi yang kokoh antara TNI, JAPFA, pemerintah daerah dan mitra peternak serta petani, rantai pemenuhan gizi anak-anak di nagari tetap terjaga. Menutrisi harapan mereka untuk kembali bangkit dan tersenyum menatap hari depan***

Repoter RRI Padang (Sri Darni) saat menjajaki Jembatan Garuda Merah Putih di Nagari Nago Baraliah, Kabupaten Padang Pariaman pada Jumat, 28 Agustus 2026. Jembatan yang memberi kemerdekaan bagi warga terutama anak-anak sekolah untuk mendapatkan kehidupan yang layak dengan asupan gizi dan nutrisi yang memadai. (Foto: RRI).
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....