Dari Gang Sempit ke Layar Gawai, Wajah Baru Ekonomi Sumbar
- 31 Jul 2026 00:01 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang – Pandemi Covid-19 pernah menjadikan jalan-jalan kota kehilangan denyutnya. Pintu pertokoan tertutup rapat, destinasi wisata lengang, dan pasar tradisional tak lagi seramai biasanya. Seolah ada jeda panjang ketika roda ekonomi dipaksa melambat oleh virus yang tak kasatmata.
Namun, di balik sunyinya etalase dan padamnya lampu sejumlah gerai usaha, lahir ruang baru yang perlahan menjadi tempat masyarakat bertahan. Ruang itu tidak memiliki dinding, tidak pula beralamat di pusat perbelanjaan. Ia hadir di layar telepon genggam, menjelma menjadi media sosial, toko daring, kanal YouTube, hingga siaran langsung yang menghubungkan penjual dan pembeli tanpa harus saling bersalaman.
Pandemi memang merenggut banyak hal, tetapi sekaligus memaksa masyarakat berkenalan dengan wajah baru ekonomi. Ketika toko fisik gulung tikar, ruang digital justru membuka pintunya lebih lebar.
Di Sumatera Barat, fenomena itu tidak sekadar melahirkan pola belanja baru. Ia juga menghadirkan profesi-profesi yang sebelumnya nyaris tak diperhitungkan sebagai pelaku ekonomi. Konten kreator, pengelola media sosial, editor video, pengisi suara, hingga pemasar digital tumbuh menjadi bagian dari denyut ekonomi kreatif yang bergerak nyaris tanpa batas ruang.
Di antara gelombang perubahan itu, muncul nama Rico Sapta Hadi atau yang lebih dikenal sebagai Da Lipp. Pria asal Kabupaten Agam tersebut tak pernah membayangkan akun media sosial yang ia bangun sejak 2015 akan menjadi salah satu jembatan penyelamat bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Awalnya, akun MinangLipp hanya berisi video dubbing berbahasa Minangkabau yang mengundang tawa. Kontennya ringan, sekadar hiburan di sela aktivitas masyarakat. Namun ketika pandemi datang, arah angin berubah.
Permintaan promosi dari pelaku UMKM berdatangan hampir setiap hari. Banyak pedagang kehilangan pelanggan akibat pembatasan aktivitas. Mereka tidak lagi membutuhkan baliho besar atau brosur cetak. Yang mereka cari hanyalah satu hal: ruang agar produknya tetap terlihat.
Awalnya akun MinangLipp saya buat untuk mengisi konten lucu-lucuan dubbing berbahasa Minangkabau sejak 2015. Nah, karena pas Covid-19 melanda, kontennya lebih fokus ke kuliner dan saya coba membantu UMKM bisa promosi," ujar Rico.
Niat awalnya sederhana. Ia ingin memanfaatkan media sosial untuk menjual produknya sendiri. Namun keadaan justru membawanya ke jalan berbeda.
"Saat Covid-19 melanda seluruh usaha gerai tutup. Banyak yang meminta di-endorse dan dibantu promosi di Instagram maupun YouTube. Akhirnya saya berpikir, ternyata potensi konten kreator juga bagus untuk dikembangkan," katanya.
Apa yang dialami Rico sesungguhnya menggambarkan perubahan besar dalam struktur ekonomi masyarakat. Nilai ekonomi tidak lagi hanya lahir dari pabrik, toko, atau kantor. Kini, sebuah telepon pintar, kamera sederhana, kreativitas, dan jaringan internet mampu melahirkan lapangan pekerjaan baru.
Di balik layar media sosial yang dipenuhi video pendek dan unggahan kuliner, sesungguhnya sedang tumbuh ekosistem ekonomi baru yang belum sepenuhnya terbaca dalam statistik konvensional. Fenomena itu menjadi semakin menarik ketika dibandingkan dengan hasil Sensus Ekonomi 2016. Saat itu, Badan Pusat Statistik mencatat terdapat 593,1 ribu usaha di Sumatera Barat atau bertambah sekitar 91,7 ribu usaha dibandingkan hasil Sensus Ekonomi 2006.
Aktivitas ekonomi masih didominasi sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi kendaraan bermotor, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta industri pengolahan. Lebih dari itu, Usaha Mikro dan Kecil (UMK) menjadi tulang punggung perekonomian daerah dengan proporsi mencapai 98,60 persen dari seluruh aktivitas usaha.

Sumber: Hasil Pendataan Sensus Ekonomi 2016 Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat
Angka tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi Sumatera Barat sejak lama bertumpu pada usaha rakyat. Ketika badai krisis datang, sektor inilah yang paling lentur menghadapi guncangan.
Ketahanan itu kembali terlihat ketika pandemi menghantam. Saat perusahaan besar melakukan efisiensi, banyak pelaku UMKM justru mencari cara baru untuk tetap bertahan. Ada yang berjualan melalui marketplace, memproduksi masker kain, membuka layanan makanan siap saji, hingga memanfaatkan media sosial sebagai etalase utama.
Kini, transformasi itu semakin nyata. Hingga April 2026, jumlah UMKM di Sumatera Barat telah melampaui 740 ribu unit usaha, dengan sekitar 99 persen di antaranya merupakan usaha mikro. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi rakyat tidak sekadar bertahan, tetapi terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Bersamaan dengan itu, lahirlah pelaku-pelaku ekonomi baru yang bekerja tanpa toko, tanpa papan nama, bahkan tanpa kantor tetap. Mereka mengelola akun media sosial dari ruang tamu, menyunting video dari kamar tidur, dan menghasilkan pendapatan dari layar yang hanya selebar telapak tangan.
Menurut Kepala BPS Sumatera Barat, Nurul Hasanudin, perubahan tersebut menjadi alasan mengapa Sensus Ekonomi 2026 memiliki arti strategis. "Banyak pelaku ekonomi kreatif saat ini bekerja dalam sektor semi informal, termasuk konten kreator, admin media sosial, pengisi suara, editor video, hingga pelaku promosi digital yang menjalankan aktivitas usaha tanpa badan usaha resmi maupun lokasi usaha tetap," ujarnya.
Karena itu, Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya menghitung toko, restoran, hotel, atau industri pengolahan. Sensus juga akan mendata para pelaku ekonomi digital yang selama ini bergerak di ruang-ruang virtual.

Hasanudin menjelaskan, konten kreator seperti YouTuber, streamer, maupun influencer resmi menjadi sasaran pendataan. Seluruh aktivitas tersebut masuk dalam kategori Informasi dan Komunikasi sesuai Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025.
Langkah tersebut dinilai penting karena selama ini pemerintah masih menghadapi keterbatasan data sektor informal. Banyak masyarakat bekerja dari rumah, menjalankan usaha secara daring, atau memperoleh penghasilan dari media sosial, tetapi belum tercatat dalam sistem statistik nasional.
Padahal, tanpa data yang akurat, pemerintah akan kesulitan menyusun kebijakan yang tepat sasaran. Pengamat Ekonomi Pembangunan Universitas Andalas, Delfia Tanjung Sari, menilai geliat ekonomi digital telah mengubah struktur perekonomian daerah.
Menurutnya, gelombang bisnis daring, konten kreator, hingga jasa kreatif berbasis internet bukan lagi fenomena sesaat, melainkan sektor ekonomi baru yang harus dipetakan secara komprehensif. "Struktur ekonomi modern tersebut perlu dipetakan secara akurat guna melihat kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja hingga masyarakat yang terlibat dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan," katanya.
Melalui tema "Menyongsong Sensus Ekonomi 2026, Untuk Indonesia Maju", Badan Pusat Statistik ingin memastikan tidak ada aktivitas ekonomi yang luput dari pendataan. Petugas Pencacah Lapangan atau Petugas Pendataan Lapangan (PPL). akan menggali informasi secara lebih terbuka, termasuk pekerjaan yang dijalankan dari rumah, usaha digital, hingga aktivitas ekonomi yang selama ini berada di wilayah abu-abu statistik.
Pendataan itu bukan sekadar menghitung jumlah usaha. Lebih jauh, sensus akan menjadi kompas bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan ekonomi nasional maupun daerah, mulai dari penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, hingga penyusunan regulasi yang lebih adaptif terhadap perkembangan ekonomi digital. Sebab, di era ketika seseorang dapat membangun usaha hanya bermodal kreativitas dan koneksi internet, batas antara sektor formal dan informal semakin kabur. Yang dahulu dianggap sekadar hobi kini mampu menjadi sumber penghidupan.
Pandemi memang pernah memaksa dunia berhenti sejenak. Namun dari keheningan itulah lahir keberanian untuk beradaptasi. UMKM bertahan dengan inovasi, konten kreator membuka pasar baru, dan masyarakat menemukan cara berbeda untuk menggerakkan ekonomi.
Kini, ketika Sensus Ekonomi 2026 bersiap mengetuk setiap pintu usaha, ia bukan hanya sedang menghitung angka. Ia sedang merekam perubahan zaman—bahwa ekonomi hari ini tidak lagi hanya tumbuh di pusat perbelanjaan atau kawasan industri, melainkan juga di balik layar gawai, di ruang tamu rumah, dan dari kreativitas anak-anak muda yang berhasil mengubah ide menjadi penghidupan.
Karena pada akhirnya, data yang akurat bukan sekadar deretan statistik. Ia adalah cermin yang memperlihatkan bagaimana masyarakat bertahan, beradaptasi, dan menciptakan harapan baru di tengah perubahan yang tak pernah berhenti.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....