Menambal Retak Jiwa di Balik Dinding Sekolah Rakyat
- 26 Jun 2026 18:23 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Masih berkelebat erat dalam ingatanku, tangis pilu dan penyesalan mendalam Tuti. Sahabatku itu mengurai kisah tentang putra semata wayangnya yang kini tak lagi mengenalinya. Hari-hari si anak habis dalam rangkulan dingin layar gawai yang pada akhirnya menjungkirbalikkan masa depan anak tercinta.
Tuti menuturkan, tontonan radikal dan kejahatan digital yang saban hari dikonsumsi telah mengubah sosok hangat si anak menjadi beringas. Semua berujung pada catatan hitam kriminalitas hingga pihak sekolah angkat tangan dan mengeluarkannya. Jerit keputusasaan Tuti adalah awal dari penjajakanku, menelusuri sudut-sudut buram Kota Padang yang diselimuti sisi gelap dunia maya.
Di sinilah kusadari, betapa mulia cita-cita besar Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto untuk menyelamatkan generasi muda melalui Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025.

Sebuah langkah berani untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera dan kelompok rentan yang berisiko putus sekolah. Saat ini, negara memang sedang bertaruh nyawa melawan musuh tak kasat mata yang perlahan merenggut masa depan anak-anak bangsa dari genggaman tangan mungil mereka sendiri.
Sekolah Rakyat, Perisai Negara Menjemput Jiwa yang Tersesat
Kisah kelam yang dialami anak sahabatku nyatanya bukan riak tunggal di tengah samudra. Jika ditarik garis lurus ke lingkup regional, fenomena kekerasan yang melibatkan perempuan dan anak di Sumatera Barat memang menunjukkan grafik yang mencemaskan. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sumbar, Herlin Sridiani membeberkan, sepanjang tahun 2025, laporan kekerasan terhadap anak menembus angka fantastis, yakni lebih dari 700 kasus dengan korban mencapai lebih dari 800 anak. Sementara kekerasan terhadap perempuan tercatat sebanyak 327 kasus dengan 366 korban.
Angka ini melonjak signifikan, dipicu sikap masyarakat yang mulai berani melapor serta adanya aksi aktif screening dan jemput kasus oleh petugas. Herlin menegaskan, faktor lingkungan serta rendahnya edukasi menjadi pemantik utama di balik angka-angka mengerikan itu. Negara pun dipaksa bergerak melakukan dua langkah sakral yakni, penanganan lewat pendampingan psikologis serta pencegahan melalui penguatan ketahanan keluarga dari hulu.
Di tingkat akar rumput, liarnya ruang siber berbanding lurus dengan data tersebut. Tak bisa dipungkiri, gawai dan media sosial telah menjelma menjadi instrumen paling berbahaya yang menyeret anak-anak di bawah umur, baik sebagai korban yang terluka maupun pelaku yang tersesat.
“Paparan pornografi, judi online hingga cyberbullying yang masuk lewat gawai telah merusak sistem emosi anak-anak. Akibatnya, terjadi lonjakan kasus kekerasan seksual digital dan perundungan yang pelakunya masih di usia sekolah. Tanpa benteng yang kuat, anak-anak akan terus terperosok ke dalam lubang hitam kejahatan siber,” ungkap Herlin, kamis, 16 April 2026.

Luka sosial akibat gawai ini bukan lagi sekadar angka statistik yang diperbarui berkala di atas kertas laporan bulanan. Publik Kota Padang tentu belum melupakan tragedi robeknya rasa kemanusiaan saat duka sedalam palung, membungkus kepergian Afif Maulana. Bocah malang yang ditemukan tak bernyawa di bawah jembatan Kuranji, Kota Padang adalah potret berdarah dari hulu petaka yang sama.
Isyarat perang, saling tantang dan ego kelompok yang membakar bara tawuran pada malam kejadian itu, bermula dari ketukan jari di layar gawai melalui media sosial. Medsos telah bertransformasi menjadi panggung provokasi yang instan, yang dalam hitungan detik mampu mencabut nyawa dan melenyapkan masa depan seorang anak manusia di jalanan sunyi.
Ironi yang mengiris hati ini memuncak saat langkahku menyisir sekat demi sekat ruang kelas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) Negeri 4 Padang yang beroperasi di lingkungan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Padang, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh. Realita di sini justru berbanding terbalik dengan kisah tragis anak sahabatku atau darah anak yang tumpah di jembatan Kuranji.
Menjinakkan Magnet Gawai dengan Seutas Benang
Di balik dinding sekolah rintisan ini, sebuah benteng pertahanan digital sedang dibangun dengan senyap namun kokoh. SRMP Negeri 4 Padang mengambil langkah berani demi memutus rantai ketergantungan gawai yang lazim ditemui di bangku sekolah pada umumnya. Ponsel pintar tidak lagi menjadi raja di tangan siswa. Penggunaannya dibatasi dengan ketat, hanya diizinkan pada waktu tertentu, seperti saat anak-anak mengabari orang tua mereka di jam pulang sekolah.
Lalu, bagaimana cara sekolah mengisi kekosongan jemari anak-anak yang biasanya menari liar di atas layar kaca? Jawabnya sederhana, mengarah pada seutas benang, jalinan manik-manik dan ketekunan yang tumbuh kembali. Sekolah mengalihkan kecanduan digital anak menjadi energi kreatif melalui pembelajaran kriya.
Benar saja, langkahku ketika itu terhenti pada sebuah sudut kelas yang hangat. Di sana, Yessi Priasti, seorang Tenaga Pengajar Asuh dengan sabarnya menuntun jemari kecil anak-anak didik. Baginya, kriya bukan sekadar mata pelajaran keterampilan biasa, melainkan sebuah terapi psikologis untuk memulihkan jiwa-jiwa remaja yang sempat retak dan dikaburkan oleh dunia maya.
“Kami ingin mengembalikan fungsi tangan anak-anak untuk karya cipta, bukan sekadar menyentuh layar. Mulai dari belajar meronce manik-manik yang melatih fokus, hingga merajut benang yang mengajarkan kesabaran. Saat fokus mereka beralih ke benda nyata yang berwujud, pelan-pelan magnet gawai itu akan melonggar dari pikiran mereka,” ujar Yessi Priasti pada Rabu, 3 Juni 2026.

Secara ilmiah, metode memutus candu gawai lewat untaian benang ini memiliki landasan psikologis yang sangat kuat. Hal itu diungkap Psikolog Yuni Ushi Johan kepada RRI. Dikatakan, kriya adalah penawar bagi otak anak yang telanjur rusak oleh kepalsuan dopamin instan dari media sosial.

“Saat jemari anak merajut atau meronce, terjadi proses mindfulness, sebuah kondisi dimana koordinasi mata, motorik halus dan kesadaran penuh menyatu pada satu titik riil. Gerakan berulang ini merangsang otak mengeluarkan hormon ketenangan. Ini adalah terapi pemulihan yang sangat humanis untuk menambal kembali saraf-saraf fokus yang sempat dikikis oleh stimulasi visual gawai yang terlalu cepat. Jiwa remaja yang tadinya cemas, agresif dan gelisah, perlahan menemukan kembali kedamaiannya di sini,” urainya.
Dalam kenyataannya, metode pengajaran asuh yang diterapkan Yessi Priasti terbukti ampuh. Kelas kriya yang dikomandoinya bertransformasi menjadi ruang katarsis bagi 145 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar di sana. Siswa yang dulunya kerap gelisah dan cemas jika dipisahkan dari ponsel, kini justru telaten berkompetisi, menuntaskan rajutan demi rajutan.
Riko (14), salah seorang anak didik mengaku, awalnya merasa tersiksa dengan aturan pembatasan gawai di sekolah. Namun, ego remajanya runtuh sejak ia berhasil menyelesaikan karya ronceannya yang pertama.
"Dulu kalau bosan, pelariannya pasti buka game atau nonton video di medsos sampai pusing. Sekarang kalau jam kosong atau setelah belajar, saya lebih milih lanjutin rajutan. Ada rasa bangga yang beda waktu lihat benang ini berubah jadi tas kecil buatan tangan sendiri," ungkap sulung dari tiga bersaudara ini sembari memamerkan tas anyamannya kepada penulis, Rabu, 3 Juni 2026.
Dekapan Hangat 24 Jam di Ruang Asrama
Langkah preventif yang diambil pihak sekolah bagaikan oase di tengah gurun bagi para orang tua yang selama ini dideru kecemasan massal akan ganasnya internet, bahaya perundungan (bullying) hingga ancaman kekerasan seksual digital.
Cemas dan perasaan bersalah itu pula yang sempat menggunung di dada Rusda (32). Wali murid ini tak pernah menyangka, perubahan besar akan memeluk putranya dalam setahun terakhir. Kebijakan sekolah menjadi bentuk penyelamatan nyata yang mengalirkan secercah harapan baru baginya.
“Sebagai ibu, jujur saya ketakutan melihat perilaku anak-anak zaman sekarang yang rusak karena gawai. Tapi sejak anak saya sekolah di sini dan diajari bikin kerajinan tangan oleh guru asuhnya, ia berubah total. Saat di rumah pun ia sibuk dengan kriya-kriyanya. Sekolah ini benar-benar membantu kami dalam menjaga perilaku anak yang sebelumnya tidak kontrol,” tutur Rusda dengan suara yang bergetar menahan haru.
Di SRMP Negeri 4 Padang, perlindungan anak dilembagakan lewat sistem asrama yang komprehensif. Kurikulumnya dirancang lewat tiga pilar yakni program persiapan melalui talent mapping untuk memetakan bakat, program akademik berbasis kurikulum nasional, dan program asrama yang menjadi jantung pembentukan karakter.
Di sinilah, 14 wali asuh dan 6 wali asrama serta tenaga pendidik bersiap siaga mendampingi anak-anak ini selama 24 jam penuh. Di bawah atap perpustakaan, laboratorium IPA, laboratorium komputer, hingga studio teater, anak-anak yang mulanya terpinggirkan ini dirawat spiritualitasnya, diasah kecakapan hidupnya, dan ditempa kemandiriannya agar tidak mudah goyah diterjang badai zaman.
Catatan Ombudsman, Regulasi Kuat demi Perisai Anak Bangsa
Selasa, 9 Juni 2026, angin segar berembus ke sekolah rintisan ini. Anggota Ombudsman RI, Maneger Nasution bersama Kepala Perwakilan Ombudsman RI Sumatera Barat, Adel Wahidi, langsung menyisir sekat-sekat kelas dan fasilitas asrama. Kunjungan kerja ini menjadi penanda pentingnya negara hadir mengawasi dan memastikan program prioritas nasional ini berjalan di atas rel pelayanan publik yang humanis dan protektif.
Mereka melihat langsung bagaimana jemari anak-anak sibuk merajut benang dan meninggalkan gawai. Pada kesempatan itu, Maneger Nasution memberikan catatan khusus. Sekolah Rakyat menurutnya instrumen strategis dalam memutus mata rantai kemiskinan, namun tetap membutuhkan fondasi yang kokoh agar tidak roboh di kemudian hari.
“Sekolah Rakyat memerlukan penguatan regulasi serta penguatan penerapan prinsip-prinsip pelayanan publik agar penyelenggaraan program berjalan efektif, akuntabel, transparan, dan berorientasi sepenuhnya pada pemenuhan hak masyarakat,” ujar Maneger tegas saat meninjau lingkungan sekolah.

Baginya, lingkungan belajar yang aman dan nyaman adalah harga mati untuk melindungi anak dari bahaya bullying dan predator seksual. Sekolah perlu memastikan adanya sistem perlindungan yang kuat bagi peserta didik, terutama dalam mencegah potensi kekerasan seksual di lingkungan pendidikan berasrama.
Senada dengan pernyataan tersebut, Kepala Perwakilan Ombudsman RI Sumbar, Adel Wahidi, menegaskan komitmennya untuk terus mengawal Sekolah Rakyat di Ranah Minang.
"Keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya diukur dari jumlah siswa yang terlayani, tetapi juga dari kualitas layanan pendidikan yang diterima peserta didik sesuai standar pelayanan publik yang berlaku. Kami berharap program ini mampu menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas, inklusif, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan," ucap Adel Wahidi optimis.
Menenun Asa Menuju Rumah Permanen
Pihak sekolah tidak menampik adanya tantangan nyata. Keterbatasan kapasitas ruang belajar serta penataan jadwal kunjungan wali murid yang belum tertib masih menjadi riak kecil di tengah berjalannya program. Namun dari evaluasi itu, asa baru justru sedang dibangun lebih megah.
Saat ini, pemerintah tengah mempercepat pembangunan 104 Sekolah Rakyat permanen di seluruh penjuru Indonesia. Untuk Sumatera Barat, sebuah kompleks Sekolah Rakyat permanen seluas 10 hektare tengah dibangun di Kabupaten Dharmasraya. Secara bertahap, anak-anak dari sekolah rintisan seperti Riko akan dipindahkan ke sebuah pusat peradaban baru yang lebih representatif. Pada tahun 2027, Kecamatan Koto Tangah dijadwalkan akan memulai pembangunan Sekolah Rakyat permanen kedua di Sumatera Barat.
Melalui tangan-tangan dingin para pengajar asuh dan pengawasan ketat dari lembaga seperti Ombudsman, negara memastikan anak-anak ini tidak berjalan sendirian di tengah belantara digital yang kejam. Mereka tidak sekadar diselamatkan dari kecanduan layar, tetapi jiwanya sedang dipeluk kembali agar tidak jatuh ke lubang hitam kekosongan karakter.

Apa yang terjadi di SRMP Negeri 4 Padang adalah potret kecil dari sebuah kemenangan besar yang sedang diperjuangkan bangsa. Di tengah gempuran badai digital yang tak terbendung, seni kriya tradisional, ketatnya pengawasan pelayanan publik, perlindungan ketahanan keluarga dari DP3AP2KB Sumbar, ingatan kolektif atas tragedi kemanusiaan, pemulihan klinis psikolog dan sentuhan kasih dari seorang pengajar asuh, terbukti mampu menjadi penambal retak jiwa generasi muda.
Dari sekat-sekat ruang kelas di sudut Kota Padang inilah, asa baru ditenun kembali dengan penuh air mata haru dan keyakinan demi melahirkan generasi emas yang mandiri, kreatif dan merdeka dari belenggu layar gawai. Sebuah pengejawantahan nyata dari visi Asta Cita yang digaungkan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto untuk anak-anak bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....