Menjemput Takdir di Sela Dinding Huntara, Ketangguhan Warga Kayu Pasak Merajut Asa
- 30 Apr 2026 17:37 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Di bawah bayang-bayang Bukit Barisan yang kokoh, kehidupan warga terdampak bencana di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia kembali berdenyut. Diantara barisan dinding papan hunian sementara (huntara), suara tawa anak-anak dan kepul asap dapur menjadi tanda, trauma bencana perlahan telah berganti menjadi tekad untuk bertahan hidup.
Menjelang dimulainya pembangunan hunian tetap (huntap), warga yang menjadi penyintas bencana galodo ini masih setia menempati bangunan sederhana tersebut. Bagi mereka, huntara bukan sekadar tempat berlindung dari hujan dan panas, melainkan saksi bisu perjuangan mereka bangkit dari titik nol.
Kondisi kondusif ini pun mendapat perhatian dari Dandim 0304/Agam, Letkol Inf Slamet Dwi Santoso. Ia mengungkapkan, sejauh ini aktifitas warga telah berjalan normal tanpa gangguan berarti.
“Warga kembali menekuni mata pencaharian lama dengan memulai lagi berladang hingga berdagang kecil-kecilan,” ujarnya kepada RRI, Kamis, 30 April 2026.
Meski hidup dalam keterbatasan ruang, martabat dan semangat warga tidak luntur. Hal itu tercermin dari penuturan Ratna (42), salah seorang penghuni huntara yang kini kembali aktif berjualan kebutuhan harian di teras hunian.
"Di sini kami belajar rumah bukan soal luas bangunannya, tapi soal nyawa di dalamnya. Walau ini hanya huntara, di sinilah kami kembali membvangun masa depan. Kami sudah kembali ke sawah, anak-anak sudah sekolah. Kami bertahan di sini dengan tenang sambil menunggu pintu rumah (huntap) kami yang baru terbuka," ujar Ratna dengan mata yang berkaca-kaca.
Senada dengan itu, Sutan (55), seorang petani yang kini mulai membersihkan lahan sisa bencana, merasa ketenangan di huntara menjadi modal utama mereka untuk bekerja kembali.
"Alhamdulillah, tidak ada gangguan. Kami sesama warga di huntara sudah seperti keluarga. Kalau ditanya lelah, tentu lelah tinggal di bangunan sementara, tapi semangat kami untuk bangkit jauh lebih besar daripada rasa lelah itu," ungkapnya.
Pihak TNI bersama instansi terkait terus memastikan stabilitas dan keamanan di lingkungan huntara. Kehadiran negara di tengah para penyintas bertujuan agar proses transisi menuju hunian tetap berjalan tanpa kendala psikologis maupun sosial.
Aktivitas warga yang telah kembali manunggal dengan rutinitas harian menunjukkan pemulihan pascabencana di Kabupaten Agam tidak hanya menyentuh fisik bangunan, tetapi juga berhasil memulihkan mentalitas masyarakatnya.
Di Jorong Kayu Pasak, sebuah pesan tersirat jelas. Bencana boleh saja meruntuhkan dinding rumah, namun ia tak pernah mampu merobohkan sendi-sendi kehidupan orang Minang yang terbiasa tegak di atas kaki sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....