Memetik Manisnya Melon Wakaf Produktif Ar Risalah

  • 09 Apr 2026 17:22 WIB
  •  Padang

Berawal dari Wakaf Ratusan Wakif

Cuaca pagi di kawasan pendidikan Yayasan Ar Risalah, di Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) terasa sejuk. Matahari belum terlalu terik. Di kaki perbukitan Bukit Barisan, hamparan kebun melon hidroponik tampak rapi.

Deretan tanaman melon menggantung dengan penopang tali, dialiri nutrisi melalui pipa-pipa kecil. Di balik keteraturan itu, para petugas kebun bergerak teliti, memastikan setiap tanaman mendapatkan perlakuan terbaik. Pada April ini, 800 buah melon siap dipanen.

Ketua Yayasan Badan Wakaf Ar Risalah, Arwim Al Ibrahim membeberkan, penanaman melon hidroponik dimulai pada pertengahan 2025 ini. Seluruhnya dibiayai menggunakan dana wakaf yang terkumpul dari ratusan waqif.

“Kami mulai menanam pada 2025, ini penanaman yang ketiga. Tapi kalau untuk panen, ini panen yang kedua,” ucapnya, Kamis, 9 April 2026.

Gagal Diterpa Badai, Bangkit di Penanaman Ketiga

Arwim menjelaskan, kegiatan usaha melon hidroponik ini awalnya berjalan mulus. Sebab, penanaman ini diadopsi dari kegiatan serupa yang lebih dulu sukses, yakni dari kebun hidroponik melon di kawasan Kecamatan Bungus Teluk Kabung.

Namun dalam perjalanan, ternyata tidak selalu berjalan mulus. Arwim berkisah, pada penanaman kedua, mengalami gagal panen karena gangguan cuaca. “Pada November 2025, kami gagal karena badai dan hujan lebat. Banyak air masuk ke green house sehingga hama masuk juga,” tuturnya.

Namun, kegagalan itu tidak membuat semangat pengelola patah. Penanaman kembali dilakukan di pengujung Januari. Ada empat varietas yang ditanam, yakni The Blues, Golden Apollo, Golden Lavender, Sani. Seluruhnya berbuah dengan baik. Jumlah melon yang akan dipanen diperkirakan 800 buah.

Membuka Wisata Petik Melon untuk Pendidikan dan Kemanusiaan

Dengan panen yang optimal, pengelola menjadwalkan pembukaan untuk kunjungan publik bertajuk wisata petik melon. Konsepnya, saat masuk dalam green house melon Ar Risalah, pengunjung disuguhi potongan melon premium sebagai uji rasa. Jika berminat, pengunjung bisa membeli dengan memetik langsung melon yang sudah matang.

“Akhir pekan ini kami buka untuk umum sebagai wisata petik melon premium. Sebagai sarana edukasi dan wisata agro. Pengunjung bebas untuk memilih jenis melon yang mereka inginkan. Melon yang sudah siap panen sudah kami beri label,” ucapnya.

Arwim menuturkan, hasil pengelolaan melon hidroponik digunakan untuk pembiayaan pendidikan bagi anak-anak dhuafa. Sebagian disumbangkan untuk kemanusiaan bagi masyarakat Palestina yang mengalami krisis kemanusiaan akibat agresi Israel.

Dukungan Bank Indonesia dan Digitalisasi

Arwim mengaku, kegiatan kebun melon hidroponik ini juga mendapat dukungan dari Bank Indonesia (BI) Sumbar melalui program pemberdayaan ekonomi pesantren. Pendampingan yang diberikan membantu memperkuat pengelolaan usaha berbasis pertanian modern, digital dan berkelanjutan.

“Sebagian wakaf ini dari pegawai BI Sumbar. Nama-nama seluruh waqif kami pajang di depan green hosue itu. Ada pula dukungan BI lainnya, seperti terkait digitalisasi dalam pembayaran menggunakan QRIS, serta dukungan fasilitas lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Tim Implementasi Kebijakan Ekonomi Keuangan Daerah BI Sumbar, Lukman Hakim menyebut, keberadaan kebun ini sebagai bukti nyata keberhasilan waqaf produktif. Menurutnya, pengembangan ekonomi syariah di daerah terus didorong agar mampu memberi manfaat yang lebih luas.

Ia menjelaskan, wakaf tidak hanya dimaknai sebagai penggunaan konsumtif, tetapi juga bisa dikelola secara produktif. Melalui pendekatan ini, wakaf mampu memberikan efek berganda, baik dari sisi ekonomi maupun sosial.

“Tidak hanya wakaf tunai yang digunakan secara konsumtif, tapi bisa diupayakan secara produktif yang memiliki dampak lebih luas,” ujar Lukman. Ia menilai, model seperti Ar Risalah layak menjadi contoh bagi lembaga lain.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....