Lebaran di Hunian Sementara, Menjaga Semangat dalam Hari Kemenangan
- 22 Mar 2026 14:36 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Sore itu aroma masakan tercium dari salah satu sudut hunian sementara di kawasan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah. Di depan bangunan berderet itu, beberapa ibu tampak sibuk sedang mengendong anaknya dan sibuk di dapur dengan wajan. Sementara anak-anak berlarian sambil tertawa, seolah melupakan keterbatasan yang ada.
Di antara mereka, Heriyanti duduk sejenak di depan pintu huniannya. Tatapannya sesekali kosong, sebelum akhirnya kembali tersenyum ketika disapa tetangga di sebelahnya. Lebaran tahun ini, baginya, terasa begitu berbeda.
“Tentu saja ada sedikit kesedihan di hati. Biasanya kami Lebaran di rumah sendiri,” ujar Heriyanti dengna nada yang pelan.
Kenangan tentang rumah lama masih melekat kuat. Tempat di mana ia biasa menyiapkan hidangan, menyambut tamu, dan berkumpul bersama keluarga kini tinggal cerita, setelah banjir bandang pada pengujung November 2025 merenggutnya.
Kini, Heriyanti bersama ratusan warga lainnya harus merayakan Idulfitri di hunian sementara. Sebanyak 109 kepala keluarga terdampak bencana tersebut masih bertahan di kawasan ini, menjalani hari-hari dengan segala keterbatasan.
Hunian sederhana yang berdiri berderet itu tidak ada ruang tamu luas, tidak ada halaman untuk menyambut tamu seperti dulu. Namun, justru, kedekatan antarwarga terasa semakin kuat.
Perlahan, rasa kehilangan yang sempat mememuhi pikiran mulai tergantikan oleh kebersamaan. Warga saling berbagi cerita, saling menguatkan, dan menjalani hari dengan rasa senasib sepenanggungan.
“Kalau untuk kebersamaan, kami di sini lebih terasa. Apa-apa bersama, saling bantu,” kata Heriyanti.
Hal serupa juga dirasakan Mustika Umami, tampak sibuk bermain dengan anaknya. Sesekali ia tertawa, larut dalam obrolan ringan yang menghangatkan suasana.
“Ketika Ramadan kadang kita tiba-tiba saja kumpul, inisiatif saja masak bareng, makan bareng. Jadi terasa ramai suasanya, bisa berbagi cerita,” katanya.
Bagi Mustika, hunian sementara ini perlahan berubah menjadi rumah kedua. Bukan karena bangunannya, tetapi karena orang-orang yang ada di dalamnya.
“Di sini kita anggap rumah sendiri juga dulu bersih-bersih sebelum lebaran kita juga melakukan itu disini. Yang penting nyaman dan kita jaga sama-sama,” tuturnya.
Anak-anak bermain tanpa sekat, sementara para orang tua saling bertukar cerita. Tidak ada kemewahan, namun kehangatan terasa begitu nyata.
Lebaran di hunian sementara ini pun menjadi ruang baru untuk memahami arti kebersamaan. Bahwa di tengah kehilangan, masih ada yang bisa dirayakan: kebersamaan itu sendiri.
Di balik dinding-dinding sederhana, tersimpan harapan yang sama. Harapan untuk kembali memiliki rumah, untuk menata kehidupan dari awal, dan untuk suatu hari nanti merayakan Lebaran di tempat yang benar-benar mereka sebut sebagai rumah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....