Eksistensi Pupuk Bersubsidi yang Tak Tersangkalkan Lagi

  • 31 Des 2025 18:59 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Jatuh bangun, begitulah gambaran kehidupan masyarakat di negeri ini. Negeri elok dengan bentangan alamnya yang meneduhkan, sewaktu-waktu bisa melebur prahara yang menyisakan duka dan kehancuran. Bencana alam yang melanda sejumlah daerah di Sumatera Barat dalam dua tahun terakhir ini memang ibarat pukulan telak bagi petani di daerah. Belum sempat menikmati hasil kerja keras dalam semusim masa tanam, bencana menyusul kesekian kalinya, bahkan lebih dasyat dari sebelumnya.

Selaku pemangku kebijakan, pemerintah dan stakeholder terkait berupaya semaksimalnya merangkul petani di daerah. Tidak ada kata menyerah untuk hasil dan capaian produksi di masa berikutnya. Alam boleh saja berderai dan porak poranda diterjang bencana, namun semangat berproduksi para petani tidak akan terhenti. Tertancap dalam sasaran kinerja dan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto yang selanjutnya menjadi alasan mendasar Indonesia layak disebut sebagai negeri swasembada.

Lantas seberapa besar kontribusi pemerintah mendukung program swasembada pangan pada jengkal demi jengkal lahan yang ditanami ragam komoditi seperti padi, jagung dan palawija. Mampukah subsidi pupuk pemerintah mewujudkan harapan baru para petani, meningkatkan produksi dari lahan bekas erupsi Gunung Marapi.

Menata Lahan Bekas Erupsi dengan Pupuk Bersubsidi

Pupuk bersubsidi boleh dikatakan pupuk ideal yang diinginkan setiap petani. Selain harganya yang terjangkau di bawah rata-rata, untuk mendapatkannya tak perlu repot pula. Sudah ada alur distribusinya. Setiap kelompok tani tak perlu berebut, karena distribusi pupuk bersubsidi disesuaikan dengan kuota. Merujuk pada kebutuhan dan luas lahan yang digarap anggota kelompok tani.

Kelompok Tani Kambang Sarumpun yang berlokasi di Nagari Bukiek Batabuah, Kabupaten Agam salah satunya. Didirikan tahun 2019 dengan jumlah anggota 11 orang. Bermacam komoditi yang ditanam anggota kelompok tani. Selain padi, Kambang Sarumpun juga fokus bertanam wortel, bawang, cabai, tomat hingga buah – buahan sejenis alpukat.

“Erupsi yang terjadi di penghujung tahun 2024 telah meratakan lahan pertanian yang berada di lereng Gunung Marapi. Tak ada yang bersisa. Sawah dan ladang umumnya ditutupi abu dan material muntahan gunung api. Petani hanya berpasrah diri dalam kesedihan yang tak bisa ditutupi,” ungkap Dion, Ketua Kelompok Tani Kambang Sarumpun kepada RRI, Senin, (1/12/2025).

Menurutnya, distribusi pupuk bersubsidi sangat membantu warga, terlebih petani yang area produksinya terdampak bencana alam seperti erupsi dan banjir bandang. Dalam situasi sesulit itu, dibutuhkan kontribusi nyata pemerintah yang secara langsung merangkul para petani agar secepatnya mampu berproduksi.

Hal itulah yang diterapkan anggota Kelompok Tani Kambang Sarumpun. Mereka menyadari, pentingnya ketahanan pangan untuk keberlanjutan kehidupan pasca bencana.

“Dengan dukungan bibit dan pupuk bersubsidi yang telah dikuotakan, anggota memulai usaha, menanami lahan dengan bermacam komoditi seperti padi, jagung, kol bulat, seledri, wortel dan jenis buah lainnya,” ujar Dion.

Kerja keras dan semangat bangkit bersama membuahkan hasil nyata. Panen demi panen dinikmati anggota kelompok tani. Ekonomi yang sebelumnya lumpuh total aibat bencana, secara bertahap tertata kembali.

“Anak-anak tidak lagi menangis menahan lapar. Mereka sudah mendapatkan asupan gizi secukupnya dan kembali bersekolah seperti biasa. Betapa besar manfaat pupuk bersubsidi yang pemerintah distribusikan dari nagari ke nagari melalui tangan terampil para petani,” papar Dion yang mengaku sudah puluhan tahun menggunakan pupuk bersubsidi.

Subsidi Pupuk, Kekuatan Petani Menggempur Lahan Terdampak Bencana

Penghujung November 2025, boleh dikatakan masa-masa sulit bagi petani di daerah terdampak bencana, salah satunya di Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Padi yang menguning sejatinya tumpuan bagi anak-anak petani yang bersekolah di berbagai jenjang pendidikan. Demikian pula jangung yang telah mengupih. Besar harapan mereka, katakanlah keluarga petani yang dari awal masa bercocok tanam telah menggantungkan harapan pada hasil panen yang tinggal menunggu hitungan bulan.

Namun apa daya, Tuhan punya kuasa atas segalanya. Bencana lebih dulu melanda ranah tercinta. Sawah dan ladang rata dihantam banjir bandang dan galodo. Rumah-rumah diseret arus air berlumpur disertai hantaman material yang melumatkan jiwa dan raga. Tangis dan pekik anak manusia bergema di pusaran petaka yang memporak-porandakan bumi sekitarnya.

Nagari Salareh Aia, termasuk negeri terparah yang diamuk bencana di penghujung tahun 2025. Wali Nagari Salareh Aia, Rizal Islami kepada RRI mengatakan, hampir 75 persen lahan pertanian di daerah setempat kondisinya rata dengan tanah.

“Dalam sekejap, hasil tani milik warga dilumat bencana. Tak ada yang tersisa, hanya nestapa dan air mata yang kini mulai mengering,” ungkap Rizal.

Rizal bertutur, sebagian besar warga bergantung hidup dari aktifitas bertani dan berladang. Di Nagari Salareh Aia, terdapat 17 kelompok tani aktif yang selama puluhan tahun terbantu oleh distribusi pupuk bersubsidi.

Pupuk bersubsidi yang digunakan petani disesuaikan dengan kebutuhan lahan dan jenis komoditi yang ditanami, utamanya Urea dan NPK.

“Petani sangat terbantu karena selisih harga antara pupuk bersubsidi dengan pupuk non subsidi itu sangat jauh. Makanya petani kerab berebut untuk mendapatkan pupuk dengan harga realtif terjangjau itu,” jelas Rizal.

Kini di lahan yang tak lagi berbentuk itu, petani hanya bisa berharap. Harapan mereka tidak lain pemerintah segera melakukan normalisasi sungai, perbaikan irigasi yang rusak, bantuan bibit dan distribusi pupuk bersubsidi secepatnya.

Petani tidak ingin berlama-lama terpuruk dalam kesedihan. Ranah yang hancur mesti segera ditata kembali. Begitu pun lahan tani yang tertumpuk material lumpur, secepatnya dinormalisasi. Langkah ini sejalan dengan semangat dan kinerja yang digelorakan pemerintah, utamanya Presiden Republik Indonesia yang menilai pentingnya ketahanan pangan dalam segala aspek kehidupan.

Bencana tidak mematikan langkah anak manusia. Rizal optimis, tidak butuh waktu lama bagi petani di Nagari Salareh Aia untuk bangkit menata lahan tani. Kemandirian yang tertanam dalam diri setiap petani menjjadi bukti kekuatan mereka selama ini. Dalam beberapa dekade, kelompok tani asal nagari Salareh Aia telah membuktikan kerja keras dan kesungguhan mereka.

Capaian produksi petani Nagari Salareh Aia sebelum bencana menerjang nagari sekitar menjadi bukti, betapa besar kontribusi pemerintah mendukung langkah petani berproduksi dari masa ke masa.

Sumbangsih Pupuk Indonesia dalam Berbagai Suasana

Terpampang nyata, hadirnya Pupuk Indonesia menyertai langkah masyarakat negeri dalam berbagai suasana. Hanya berselang beberapa hari setelah bencana yang mengamuk tiga provinsi di Pulau Sumatra, Pupuk Indonesia Grup langsung menyapa daerah-daerah terdampak bencana memalui aksi pedulinya.

Saat Indonesia dalam kondisi baik-baik saja, Pupuk Indonesia memberikan perhatian nyata kepada para petani di pelosok negeri untuk tidak lagi memikirkan mahalnya harga pupuk. Pupuk bersubsidi yang didistribusikan Pupuk Indonesia nyatanya mampu mengurangi beban petani. Kelompok tani lebih bersemangat menggarap lahannya dan terbukti, kelompok tani yang mendapatkan subsidi pupuk mampu mencapai tatanan kehidupan yang sejahtera dibanding petani lainnya yang membeli pupuk dengan harga non subsidi.

Pada bagian lain, saat situasi pada beberapa daerah di Indonesia tidak dalam kondisi baik-baik saja, lagi-lagi Pupuk Indonesia menunjukkan sijkap pedulinya. Hanya berselang beberapa hari setelah bencana, Senin, (1/12/2025), Pupuk Indonesia Grup melalui Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi mengirimkan bantuan kepada masyarakat terdampak bencana.

Bantuan berupa sembako, higiene kit, perlengkapan sekolah dan barang kebutuhan harian sekiranya dibutuhkan warga terdampak bencana. Rahmad Pribadi menuturkan, bantuan yang disalurkan Pupuk Indonesia dengan sejumlah anggota holding seperti Petrokimia Gresik, Pupuk Kujang Cikampek, Pupuk Kalimantan Timur dan Pupuk Sriwijaya Palembang diharapkan dapat meringankan beban warga.

“Dalam situasi sekarang ini, perlu menumbuhkan sikap peduli dan saling rangkul satu sama lain. Sikap peduli ini sekiranya menjadi obat bagi saudara-saudara kita yang kehilangan harta, tempat tinggal bahkan orang-orang yang dikasihi,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Feri, Warga Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam. Menurutnya, eksistensi Pupuk Indonesia dalam memajukan masyarakat negeri sudah tidak diragukan lagi. Sikap peduli Pupuk Indonesia terhadap masyarakat negeri terpampang nyata dalam berbagai suasana.

“Intinya, Pupuk Indonesia hadir dalam berbagai nuansa. Tidak saja saat petani membutuhkan pupuknya, namun juga pada sisi lain. Ketika petani tak lagi mampu berproduksi disebabkan bencana yang melanda negeri, Pupuk Indonesia lagi-lagi menunjukkan sikap peduli,” tutur Feri di akhir perbincangan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....