Perjuangan Bhabinkamtibmas Bantu Warga Saat Hingga Pemulihan Pascabencana
- 31 Des 2025 11:55 WIB
- Padang
KBRN, Padang: November dan hujan adalah sahabat karib. Tapi tahun ini, kehadiran mereka mencatatkan kabar duka di Kota Padang. Banjir bandang mengalirkan air mata masyarakat yang bermukim di bantaran sungai di berbagai titik di Kota Padang.
Pada akhir November, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah meniup peluit peringatan dini potensi cuaca ekstrem pada 21 sampai 27 November di Provinsi Sumatera Barat, salah satunya Kota Padang. Terjadi penguatan signifikan Monsun Asia yang membawa massa udara lembap dari Samudera Hindia menuju daratan Indonesia. Hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang menjadi peringatan yang dikirim BMKG secara luas.
Benar saja, dari pagi ke pagi, hujan nyaris tak berhenti di Kota Padang. Puncaknya pada Kamis 27 November 2025 malam, yang sekaligus menjadi hari tak terlupakan bagi Wahyu Widiana, warga Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang. Pria 42 tahun ini bermukim di rumah yang berjarak 20 meter dari bibir aliran Sungai Batang Kuranji. Hujan sangat lebat malam itu. Warga sudah mulai ribut mengungsi karena air meninggi.
“Kira-kira pukul 23:30 WIB, saya masih di rumah bersama istri dan anak yang berusia tujuh tahun. Kondisi saya sakit, sulit jalan. Istri juga payah kalau harus memapah saya karena di luar sudah banjir,” ucap Bayu panggilan akrabnya pada RRI, Senin (22/12/2025).
Beruntung, malam itu, Aipda Windrizal, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Kelurahan Surau Gadang berpatroli. Kedatangannya menjadi penyelamat bagi Bayu beserta keluarga.
“Pak Bhabin datang, saya diminta segera mengungsi. Tapi saya disuruh menunggu sebentar, Pak Bhabin mengambil sepeda motor. Setelah ambil kendaraan, saya langsung digendong keluar. Dibonceng naik ke motor lalu dibawa keluar dari lokasi banjir,” tuturnya.
Usai mengevakuasi Bayu, Aipda Windrizal lantas kembali untuk menjemput istri Bayu dan anaknya. Ternyata air semakin meninggi dan deras. Kendaraan tidak mungkin bisa lewat, Windrizal pun berjalan menantang arus mengevakuasi keluarga Bayu. Mereka berhasil diselamatkan, mengungsi di musala dekat Perumahan Samitra Garden di Kelurahan Gurun Laweh.
“Kami dibawa ke musala terdekat untuk mengungsi. Saya ingat, Jumat 28 November 2025 dini hari 01.30 WIB kami sekeluarga selamat, sudah berada di musala,” katanya.

Bhabinkamtibmas Kelurahan Surau Gadang Aipda Windrizal (kanan) dan Bayu, warga yang diselamatkan saat banjir bandang. Ditemui RRI Padang, Senin (22/12/2025). (Foto: RRI Padang/Melati Oktawina).
Sementara, Windrizal membeberkan, patroli malam menjadi kegiatan rutin sepekan tiga kali. Namun pada penghujung November itu, ia sengaja menambah frekuensi patroli. Sebab hujan lebat setiap hari, air sungai juga meluap beberapa kali.
“Pada Selasa 25 November 2025 ada beberapa rumah warga yang kebanjiran. Tapi besoknya surut lagi. Saya lihat hujan terus tiap hari, tentu khawatir banjirnya datang lagi,” ucapnya.
Benar ternyata perkiraan Windrizal. Ia mengisahkan, pada Kamis 27 November 2025, seharian menyalurkan bantuan logistik bagi warga di wilayah binaannya mulai dari pagi sampai pukul 21:00 WIB. Kemudian ia pulang ke rumahnya di Kelurahan Air Pacah, Kecamatan Koto Tangah. Rehat sejenak lalu mandi. Tak berselang lama, notifikasi pesan media sosial di ponselnya tidak berhenti berbunyi. Ternyata di grup kebencanaan kabar banjir menyeruak.
“Di grup kebencanaan diinformasikan kalau aliran Batang Kuranji di bagian hulu Gunung Nago sudah melewati batas maksimal. Tanpa berpikir lama, saya langsung gas motor kembali ke Kelurahan Surau Gadang. Benar saja sungai mulai meluap,” ucap ayah empat orang anak ini.
Windrizal lantas bergegas mengumumkan kepada warga Surau Gadang agar mengungsi demi menghindari korban jiwa. Tidak sekadar mengumumkan melalui pesan singkat ke grup warga, ia langsung berpatroli membantu evakuasi warga yang bermukim di pinggir sungai.
“Malam itu saya minta warga setempat agar mengungsi. Tapi satu warga bernama Pak Bayu tidak bisa evakuasi mandiri karena stroke. Saya bantu evakuasi dengan menggendong ke motor dan mengikatnya menggunakan kain agar tidak jatuh. Saya selamatkan ke perumahan di atas yang tidak terdampak bencana banjir bandang,” ujarnya.
Malam hingga pagi, Windrizal tidak berhenti. Mulai dari evakuasi sampai mengangkut barang warga untuk diselamatkan.
“Jumat pagi saya lihat dampak banjir. Dari 25 ribu jiwa di Kelurahan Surau Gadang, terdapat 1.500-an yang terdampak bencana. Empat rumah rusak berat dan ratusan terendam banjir dengan ketinggian berbeda. Beruntung tidak ada korban jiwa,” katanya.
Setelah melihat dampak bencana yang cukup masif, Aipda Windrizal bergegas mencari bantuan dan berkoordinasi dengan lurah setempat. Menelpon sejumlah relasi agar bisa membantu masyarakat yang terdampak bencana karena bantuan kurang.
“Ada 18 RT dan 5 RW terdampak. Sudah ada nasi bantuan Pemko Padang, tapi di awal itu hanya cukup untuk setengah warga terdampak. Lalu saya berbagi tugas dengan bu lurah. Nasi yang sudah ada, bu lurah yang mengatur pembagian. Sementara setengahnya lagi saya yang mengupayakan,” ujarnya.
Windrizal mengaku, saat itu belum terbayang dimana bantuan akan dicari. “Akhirnya saya minta bantuan ke pimpinan di Polresta dan Polda. Melalui dapur umum Polri kami dapat 300 nasi bungkus setiap hari,” ucapnya.

Bhabinkamtibmas Kelurahan Surau Gadang Aipda Windrizal (di dalam becak) sedang membagikan paket sembako pada warga yang terdampak bencana, Senin (15/12/2025). (Dok: Pribadi Windrizal)
Galang Bantuan dari Kekuatan Media Sosial dan Kantong Pribadi
Pada Sabtu 29 November, banjir telah surut. Pada kondisi itu, ungkap Windrizal, masyarakat tidak hanya butuh makan melainkan juga perlu logistik lain.
“Setelah surut tentu warga ingin segera kembali ke rumah. Butuh alat membersihkan rumah. Kalau rumah sudah bersih, perlu pakaian, kasur, alat mandi, peralatan masak. Sebab semuanya telah hanyut terbawa bah,” ujar pria kelahiran 1985 ini.
Ia pun mencoba menggalang bantuan melalui kekuatan media sosial yang dimiliki. Selama ini, Windrizal terbilang aktif memanfaatkan media sosial Instagram dan TikTok dengan akun polisi_kampuang. Media itu digunakan untuk menyampaikan kegiatan harian atau imbauan pada warga. Jumlah pengikutnya tak main-main, Instagram tercatat diikuti enam ribu orang, sedangkan TikTok 15 ribu pengikut.
“Saya memang aktif di media sosial, sering membuat berbagai konten. Jadi saya posting tentang bencana ini, dan apa yang dibutuhkan masyarakat. Alhamdulillah banyak masuk bantuan bahkan ada pula dari komunitas perantau di Malaysia,” ujarnya.
Tercatat Windrizal mampu menghimpun dana Rp20 juta lebih melalui kekuatan media sosialnya. Selain uang, juga banyak masuk bantuan dalam bentuk pangan maupun barang.
Bantuan uang langsung ditunaikan untuk berbelanja kebutuhan masyarakat terdampak. Seperti membeli kasur, karpet, penanak nasi elektrik, peralatan salat, seragam sekolah, dan berbagai kebutuhan lainnya. Bantuan itu diantarkannya berkeliling ke rumah warga memakai becak motor hasil pinjaman dari salah satu RT setempat.
“Memang yang rumah rusak berat hanya empat unit, tapi yang terendam banjir rata-rata barang elektronik mereka tidak bisa dipakai lagi. Jadi kemarin ada yang minta dibelikan penanak nasi elektrik, saya belikan kebetulan uangnya masih ada. Lalu saya posting kalau warga juga butuh penanak nasi elektrik, tidak lama setelah itu ada masuk bantuan enam unit,” katanya.
Tidak hanya mengandalkan bantuan dari media sosial yang dimilikinya, pria berusia 40 tahun ini juga sering mengeluarkan langsung dari kantong pribadi. Jika dihitung-hitung sudah lebih dari Rp3,5 juta uang pribadi dari sakunya untuk membantu masyarakat terdampak bencana.
“Jadi hari itu, ibu-ibu di dapur umum di posko saya ajak belanja ke pasar karena kebetulan ada uang bantuan Rp1,5 juta. Namun setelah berbelanja dan dibayar nominalnya Rp2,3 juta. Saya bayarkan saja,” ujarnya sambil tersenyum.
Windrizal tak ambil pusing jika uang pribadinya terpakai. Baginya itu jalan ibadah. Ia tidak menyampaikan kekurangan itu pada warga, khawatir mereka mengganti kekurangan uangnya. Sebab warga sedang kesusahan.
Menurut Windrizal, perhatian netizen terhadap penanganan pascabanjir sangat tinggi. Bantuan terus mengalir dalam jumlah banyak. Bahkan, bisa disalurkan untuk warga terdampak di kelurahan lainnya, yang ada di Kecamatan Nanggalo seperti, Kurao Pagang, Gurun Laweh, Tabing Banda Gadang dan Kampung Lapai.
“Banyak bantuan masuk ke sini. Bertruk-truk jika ditotalkan. Jadi saya juga bagi-bagikan ke kelurahan tetangga yang membutuhkan bantuan. Ada ratusan bungkus nasi, sembako, pakaian dan peralatan rumah tangga serta air bersih yang dibagikan apabila di sini sudah berlebih,” katanya.

Bhabinkamtibmas Kelurahan Surau Gadang Aipda Windrizal membantu menyelamatkan barang warga yang rumahnya terendam banjir, Kamis (27/11/2025). (Dok: Pribadi Windrizal)
Tidak Libur Satu Bulan, Dukungan Keluarga jadi Semangat
Satu bulan pascabencana menjadi waktu sibuk untuk Windrizal, lulusan Bintara Polri gelombang kedua 2003 ini. Ia berkutat dengan penanganan bencana. Selama itu pula, jatah libur tidak diambil. Ia pun jarang pulang ke rumah, paling hanya untuk bebersih badan dan mengganti pakaian. Konsentrasinya masih terpaut pada warga terdampak bencana di Surau Gadang.
“Pulang sebentar untuk ganti pakaian. Paling anak keempat yang kecil itu usia tiga tahun jarang melihat saya. Saya pulang malam ia masih tidur. Waktu saya berangkat kerja pagi, ternyata dia masih tidur juga,” ucapnya.
Meski waktu untuk keluarga tersita, tetapi Zulhelda Ririn (40 tahun) istri Windrizal Ikhlas. “Orang tua, istri, dan anak sangat mendukung. Merekalah yang memberi saya dukungan agar semangat menjalankan aksi kemanusiaan dan sosial ini. Mereka juga ikut berdonasi untuk membantu penanggulangan bencana ini,” ujarnya.
/34d7yuqdd499naf.jpeg)
Ketua RT 06, RW 01 Kelurahan Surau Gadang, Joni Irwandi saat ditemui RRI Padang, Senin (22/12/2025). (Foto: RRI Padang/Melati Oktawina).
Humanis, Cepat Tanggap dan Dekat dengan Masyarakat
Minggu 28 Desember 2025 siang, Tisa sedang terlihat tergesa-gesa menjemput bantuan ke tempat Aipda Windrizal. Ibu dua anak ini butuh bantuan keperluan balita seperti popok sekali pakai, makanan, dan keperluan wanita lainnya.
Aipda Windrizal pun mengambilkan kebutuhan warga Komplek Indah Pratama itu. Memberikan stok bantuan yang tersedia di becak motornya.
“Bantuan ini sangat bermanfaat bagi saya. Ini bukan yang pertama kalinya saya dikasih bantuan sama Pak Bhabin. Sudah sering pascabencana dan juga ada bantuan dari posko. Pak Bhabin ini cepat tanggap,” katanya.
Wanita berusia 35 tahun ini menambahkan, tidak hanya saat bencana, Aipda Windrizal juga dekat dengan masyarakat di hari-hari biasa. Rutin turun ke masyarakat sekedar bersilaturahmi dan bertanya kabar.
“Sangat dekat dengan masyarakat. Saya juga sudah mengikuti Pak Bhabin ini di media sosialnya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua RT 06, RW 01 Kelurahan Surau Gadang, Joni Irwandi kepada RRI Padang mengatakan, saat kejadian banjir bandang pada 27 November lalu sedang berada di Mekkah untuk melaksanakan umrah. Rumah dan tempat usahanya terendam banjir. Terkait kondisi warga dan lingkungan, ia tidak pernah ketingggalan informasi. Sebab Aipda Windrizal rutin berkabar melalui panggilan video.
“Pak Bhabin sangat responsif dan humanis. Usai banjir langsung mendirikan posko sementara dan berkoordinasi dengan Polresta Padang serta Polda Sumbar,” ujarnya.
Senin 1 Desember 2025, Joni telah kembali pulang ke Kota Padang. Ia melihat Bhabinkamtibmas Aipda Windrizal sigap menolong masyarakat. Aktif membagikan paket makanan, sembako, dan keperluan lain yang dibutuhkan masyarakat terdampak bencana.
“Saya jadi RT sudah dari tahun 2012. Selama itu saya berhubungan baik dengan Bhabinkamtibmas. Dari lima Bhabin, yang paling dekat dengan masyarakat ya Aipda Windrizal ini. Kinerja dan dedikasinya benar-benar untuk masyarakat,” katanya.
Joni mengatakan, dari 150 kepala keluarga, sebanyak 74 rumah terdampak banjir. Dari jumlah itu ada 49 unit rumah yang terendam lumpur cukup dalam.
“Slogan Polri untuk Masyarakat, dalam penanganan bencana di daerah ini benar-benar terwujud. Pak Bhabin bisa menghadirkan berbagai kalangan untuk turut membantu meringankan beban warga terdampak bencana,” katanya.
Sinergi dengan Pemko, Polri Bantu Penanganan dan Pemulihan Bencana
Bencana Hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan longsor pada akhir November menimbulkan dampak yang signifikan di Kota Padang. Tercatat ada 11 orang yang meninggal dunia, dan 2 orang masih hilang. Kemudian ratusan rumah rusak berat dan ribuan rusak ringan yang tersebar di lima kecamatan dan 25 kelurahan. Begitu pula dengan fasilitas umum dan area pertanian.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kota Padang Tarmizi Ismail mengatakan, selama masa tanggap darurat bencana, kehadiran Polri sangat membantu pemerintah kota. “Dari awal bencana ini terjadi, Polri telah hadir untuk masyarakat. Di tengah-tengah masyarakat polisi membantu bergotong-royong, mengevakuasi korban dan banyak lainnya. Kami berharap kerja sama ini selalu optimal, sinergitas dan kolaborasi terus dijaga,” katanya kepada RRI Padang, Minggu (28/12/2025).
Tarmizi mengungkapkan, di masa transisi ke pemulihan ini Pemerintah Kota Padang masih sangat membutuhkan keterlibatan Polri. Sebab masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan.
“Di masa pemulihan ini lebih berat, Pemko Padang tentunya membutuhkan dukungan Polri. Ada infrastruktur dan mental masyarakat yang harus dipulihan. Ini bukan pekerjaan gampang, tidak selesai hanya pemerintah yang turun tangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, bencana yang terjadi memang hanya di bagian hulu dan daerah aliran sungai. Namun dampak yang ditimbulkan masif dan rumit.
“Beralihnya aliran sungai juga menyebabkan rencana tata ruang wilayah perlu dikaji ulang. Kami berharap Polri bisa mengawal kebijakan-kebijakan ke depannya agar dapat memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat,” katanya.

Bhabinkamtibmas Kelurahan Limau Manis Aipda Albert Amarta membantu penyaluran air bersih bagi warga terdampak bencana, Sabtu (13/12/2025). (Dok: Pribadi Albert)
Kisah Bhabinkamtibmas di Kecamatan Pauh
Keterlibatan Bhabinkamtibmas dalam penanganan bencana di Kota Padang tidak hanya bisa ditemui di Kelurahan Surau Gadang. Di wilayah timur Kota Padang, tepatnya di Kelurahan Limau Manis, Kecamatan Pauh, wilayah yang paling parah terdampak banjir bandang, ada Aipda Albert Amarta yang menghabiskan waktunya dalam penanganan korban.
Albert menyebut, ada tiga kelurahan yang terdampak banjir bandang yakni di Lambung Bukik, Kapalo Koto, dan Cupak Tangah. Seluruh anggota Bhabinkamtibmas dan Polsek Pauh dikerahkan membantu masyarakat yang terdampak bencana di tiga kelurahan tersebut. Tak ada lagi istilah wilayah binaan, semua dikerahkan untuk hadir demi kemanusiaan.
“Pada 27 November 2025 lalu itu yang pertama terdampak di kawasan Batu Busuk Kelurahan Lambung Bukik. Debit air naik sehingga awalnya berdampak pada dua unit rumah hanyut di hulu sungai dekat Pemandian Mande Rubiah. Kami membantu warga di dua rumah itu untuk dievakuasi,” katanya saat ditemui RRI Padang, Senin (29/12/2025).
Setelahnya, anggota Polri bergerak membantu masyarakat terdampak lainnya. Mengevakuasi ke tempat yang aman, dan menyelamatkan harta benda yang masih bisa diamankan. Kemudian juga membantu menyelamatkan peladang yang terjebak di sungai.
“Kesulitan dalam membantu evakuasi yakni medan yang berada di area hulu sungai. Sebab tidak hanya mengevakuasi masyarakat tetapi juga harus bisa membaca situasi di lapangan. Hujan masih mengguyur, sedangkan masih ada 20 titik longsor di daerah Padang Karuah dan Padang Janiah. Ditambah banyak retakan di perbukitan. Keselamatan tetap harus diutamakan,” katanya.
Aipda Albert menyampaikan, ada 111 rumah yang hanyut dalam banjir bandang. Kini area pemukiman warga tersebut telah menjadi aliran sungai.
“Itu baru yang hanyut, yang rusak sedang dan ringan lebih banyak lagi. Mereka yang terdampak saat ini berada di hunian sementara milik pemerintah maupun di rumah keluarga,” ujarnya.
Menurutnya, selain membantu penanganan bencana, Polri juga hadir dalam masa pemulihan. Antara lain melalui pelaksanaan trauma healing, membuka akses jalan dengan sejumlah pihak terkait seperti kampus, Dinas Pekerjaan Umum, serta mengantarkan kelompok yang ingin memberi bantuan pada daerah terdampak bencana.
“Kami tidak hanya menyalurkan bantuan dari donatur. Namun kami juga sering kali mengeluarkan dana pribadi dari jajaran Polsek Pauh. Tapi tidak kami sebutkan, cukup dari Hamba Allah saja. Jadi Polri untuk masyarakat itu ya kita tulus bekerja, lakukan semuanya bagi masyarakat,” katanya.
Selain itu, di masa pemulihan bencana ini, sebut Aipda Albert juga membantu pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak. Targetnya ada 100 unit rumah di Kelurahan Kapalo Koto.
“Warga terdampak sangat membutuhkan segera hunian terutama yang hanyut. Mereka bilang kalau rumah kita hanya terendam, bisa dibersihkan. Kalau rumah rusak, roboh bisa diperbaiki lagi. Tapi rumah kami sudah hanyut dan lahannya berubah jadi aliran sungai. Sebentar lagi juga akan masuk Ramadan dan Lebaran. Kami harus mulai dari mana?,” ujarnya.
Ia menambahkan, warga di daerah terdampak bencana juga hidup di tengah kekhawatiran. Penanganan sungai yang belum optimal sehingga saat hujan cenderung terjadi bencana banjir susulan.
“Selain itu juga ada ancaman kekeringan karena rusaknya Bendungan Gunung Nago. Ini pasti membutuhkan waktu yang lama untuk penanganannya. Namun kami dari Polri siap hadir untuk masyarakat,” ujarnya.

Bhabinkamtibmas Kelurahan Surau Gadang Aipda Windrizal membantu mendorongkan motor pengendara yang kesulitan melintasi jalan karena dipenuhi lumpur pascabencana. (Dok: Pribadi Windrizal).
Hilangkan Stigma Lapor Polisi Harus Bayar
Enam bulan sudah Aipda Windrizal bertugas menjadi Bhabinkamtibmas di Kelurahan Surau Gadang. Sebelumnya selama tiga tahun ia menjadi Bhabinkamtibmas di Kelurahan Gurun Laweh di Kecamatan Nanggalo.
Selama menjadi Bhabinkamtibmas banyak tantangan yang dihadapi. Berbagai permasalahan di tengah masyarakat harus diselesaikan secara humanis dan partisipatif.
“Bhabin harus hadir di tengah masyarakat. Ponsel harus hidup selama 24 jam. Masyarakat bisa menghubungi kapan saja tanpa terbatas dengan jadwal kerja atau dinas,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian besar masyarakat masih ada stigma perihal lapor polisi harus bayar. Akibatnya mereka enggan untuk melaporkan permasalahan yang dihadapi kepada pihak kepolisian.
“Memang tidak bisa dipungkiri masih ada oknum kepolisian yang melakukan hal itu. Kami sebagai Bhabin terus berupaya menghilangkan pandangan buruk tersebut,” katanya.
Salah satu strategi menghilangkan stigma itu yakni dengan terus mendekatkan diri kepada masyarakat. Hadir di setiap permasalahan yang membutuhkan solusi.
“Kadang saya bawakan makanan kepada masyarakat yang ingin melaporkan permasalahannya. Saya katakan tidak ada bayar polisi, malahan ini uang saya yang keluar untuk membelikan makanan,” katanya.
Cara pendekatan itu, terbilang efektif. Kini masyarakat di Kelurahan Surau Gadang mulai mengetahui dan memahami keberadaan Bhabinkamtibmas. Mereka sudah tidak segan untuk melaporkan berbagai kendala yang dihadapi.
“Saya juga memberikan layanan pengurusan surat kehilangan. Masyarakat tidak perlu datang ke Polsek, cukup kirim pesan WhatsApp dan lampirkan persyaratannya. Polri untuk Masyarakat, saya upayakan terimplementasikan dengan optimal,” ujarnya.(*).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....