Terang Memupus Kegelapan, Asa Tertumpang di Kampung Nelayan
- 23 Okt 2025 14:51 WIB
- Padang
KBRN, Padang: Di tengah gemerlap suasana malam Kota Padang, pada sebuah perkampungan nelayan yang berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat kota, masyarakatnya hidup dalam keprihatinan. Puluhan tahun dibelenggu keterbelakangan, tanpa fasilitas penerangan sama sekali. Saat senja merangkak malam, warga dirudung gelisah. Negeri yang dinamai Desa Wisata Teluk Buo yang berada di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang ini tak ubahnya seperti kampung mati. Kegelapan menyatu dalam pekatnya malam, bergulir diantara rimbunnya pepohonan di perbukitan terjal yang menjadi satu-satunya akses jalan menuju kampung nelayan.
Puluhan tahun bertahan dalam ketidakberdayaan hingga akhirnya penantian panjang dan melelahkan berbuah kenyataan. PLN dengan komitmen berbagi cahaya demi menumbuhkan harapan, menyinari kampung nelayan melalui program unggulan yang digulirkan secara berkelanjutan. Pada Kamis, (16/10/2025), program listrik gratis yang diinisiasi PLN Pusat menyapa 11 pelanggan baru yang lama merindukan penerangan. Layanan PLN menyasar rumah-rumah nelayan. Mereka ini termasuk dalam kategori masyarakat pra sejahtera.
Fit Marlina, salah satunya. Warga Desa Teluk Buo yang sehari-hari bekerja memilih bada ini menuturkan, layanan PLN sangat berarti bagi kehidupan warga. Puluhan tahun bertahan hidup di perkampungan yang tak dialiri penerangan, menyebabkan warga tertinggal dalam banyak hal. Ketimpangan dan kesenjangan hidup terpampang demikian mencolok. Padahal jika merujuk peta daerah, mereka ini masih berada dalam lingkup tanggungjawab Pemerintah Kota Padang. Namun anehnya, terpinggirkan bahkan luput dari perhatian pihak penguasa dari masa ke masa.
“Beruntung, program PLN Pusat melirik dan menyelamatkan kampung kami. Warga tentunya sangat terbantu. Listrik gratis telah menyinari desa wisata yang selama ini gelap dan sunyi. Listrik menerangi rumah-rumah warga. Perasaan bahagia ini tak dapat disembunyikan. Anak-anak tidak lagi kesulitan saat belajar di malam hari. Mereka pun lebih leluasa saat hendak pergi mengaji dan beribadah ke surau atau mushala, disebabkan jalan yang dilalui sudah dialiri penerangan yang memadai,” ujar ibu dua anak ini saat didatangi RRI di kediamannya. Selasa, (21/10/2025).

Sebelum program listrik gratis menyasar Desa Teluk Buo, warga dibelenggu sikap pesimis. Aktifitas sehari-hari pun dibatasi, hanya berlaku pada siang hari. Malamnya warga mengurung diri di dalam rumah. Dalam suasana remang-remang, mereka hanya berpasrah diri. Berharap suatu ketika, pemerintah bakal melirik sisi gelap kehidupan warga.
“Benar saja, PLN hadir di kampung ini. Meski masih dalam hitungan hari, aktifitas warga mulai tumbuh dan menggeliat. Rencana demi rencana pun disiapkan guna mengoptimalkan energi listrik yang diharapkan dapat memicu bertumbuhnya kegiatan lain. Listrik tidak sekedar memenuhi kebutuhan penerangan, namun berimbas pada berbagai aspek yang diharapkan menciptakan perubahan lebih signifikan,” ungkap Ani, ibu rumah tangga yang selama ini bertumpu pendapatan dari usaha melaut sang suami.
Kepada RRI, Ani mengungkapkan rencana membuka usaha pengeringan ikan demi menambah penghasilan.
“Listrik sudah ada, apa lagi yang ditunggu. Saya sudah tidak sabar ingin memulai usaha. Mudah-mudahan, kehidupan keluarga bisa berubah lebih baik dari sebelumnya,” harap Ani dengan mata berkaca-kaca.
Berbagi Cahaya demi Menumbuhkan Sejuta Harapan Nelayan
Cahaya mengalirkan asa dan menjawab mimpi yang lama tertunda. Begitulah yang dirasakan Rijal, nelayan DesaTeluk Buo. Kepada RRI, lelaki asal Pesisir Selatan ini mengungkapkan mimpi yang lama dipendam.
“Sudah lama saya merindukan cahaya menerangi kampung ini. Alhamdulillah, sudah direalisasikan melalui program PLN Pusat. Seiring itu, terbertik pula asa di hati, kelak ingin punya usaha mandiri. Usaha sendiri yang bakal menopang kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan anak-anak kelak. Ya, jangan sampai anak-anak bernasib sama seperti kedua orang tuanya,” urai ayah empat anak ini saat ditemui usai melaut.
Rijal menceritakan susahnya menata perekonomian keluarga jika hanya bergantung pada satu bidang usaha. Puluhan tahun ia menekuni mata pencarian sebagai nelayan, namun tidak merubah perekonomian keluarga menjadi lebih baik. Justeru ia sekarang dihadapkan pada beban ekonomi yang makin hari makin bertambah.
“Tanggungjawab sebagai Kepala Keluarga tidak semata memenuhi kebutuhan makan anak dan istri. Anak-anak punya mimpi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tuntutan ekonomi yang terus bertambah, tentu tidak bisa terpenuhi jika hanya mengandalkan kemampuan ekonomi sebagai nelayan. Harus ada usaha sampingan yang mendukung pemasukan keluarga. Makanya saya selepas ini berkeinginan membuka usaha pengeringan ikan sekaligus pemasaran ikan asin ke luar daerah,” tutur Rijal.

Dari segi ekonomi, usaha yang disebutkan Rijal memang memiliki prospek yang menjanjikan. Ikan asin yang dikeringkan banyak dipasok ke luar Sumatera Barat. Peminatnya sebagian besar provinsi tetangga seperti Jambi dan Riau.
Keinginan Rijal memulai usaha pengeringan ikan di kampung nelayan Desa Teluk Buo cukup beralasan. Selain didukung pengalaman puluhan tahun melaut di perairan,. Rijal juga memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang proses pengeringan ikan.
“Saya dan istri lumayan lama bekerja di tempat pengeringan ikan. Jadi sudah tahu cara dan perlakuan yang mesti diterapkan saat mengeringkan ikan dalam berbagai situasi, terutama saat iklim dan cuaca berubah seketika,” ujarnya penuh keyakinan.
Energi Listrik Genjot Produksi Perikanan Kampung Nelayan
Sebelum PLN berbagi cahaya di Desa Teluk Buo, warga hidup apa adanya. Tidak terbertik sama sekali keinginan mengoptimalkan hasil laut untuk menunjang pendapatan dan ekonomi keluarga. Usaha tangkap ikan di laut semata demi memenuhi kebutuhan keluarga dengan kemampuan produksi yang sengaja dibatasi. Jika sudah melebihi, nelayan khawatir, ikan akan membusuk karena ketiadaan tempat pengawetan ikan yang jelas-jelas mengandalkan sumber energi listrik.
“Makanya produksi ikan sebatas kemampuan saja. Jika sudah melebihi, mau dikemanakan ikan-ikan tersebut. Boleh dikata, aktifitas tangkap ikan nelayan disesuaikan dengan kondisi kampung nelayan yang waktu itu belum dialiri penerangan listrik. Otomatis bagan atau perahu nelayan banyak yang menganggur. Ditambat berhari-hari di perairan, kalau pun dibawa melaut, hanya sebatas pemenuhan kebutuhan pangan keluarga,” ujar Ajo, nelayan Desa Teluk Buo.
Kini setelah hadirnya layanan PLN di kampung nelayan, pola pikir warga berubah 180 derajat. Terpikirkan bagaimana mengoptimalkan fungsi bagan atau perahu nelayan untuk peningkatan pendapatan. Kekhawatiran ikan hasil tangkapan membusuk dalam jumlah banyak, teratasi dengan masuknya listrik ke kampung nelayan.
“Kalau pun tidak diawetkan, masih bisa dikeringkan. Kesemua itu tentu membutuhkan energi listrik yang berasal dari PLN. Untuk saat ini, para nelayan tidak risau lagi, justeru kami optimis, kampung ini akan tertata maju ke depan,” papar lelaki berusia 54 tahun ini.

Senada dengan apa yang disampaikan General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Barat, Ajrun Karim, Rabu, (15/10/2025). Menurutnya, program yang diinisiasi PLN Pusat tersebut terus menyasar kelompok masyarakat pra sejahtera yang juga termasuk di dalamnya nelayan pesisir pantai.
“Listrik merupakan urat nadi kehidupan masyarakat. Dari energi tersebut, tumbuh dan mengalir bermacam usaha yang diyakini dapat menumpu ekonomi nelayan. Inilah target kita, bagaimana mengoptimalkan cahaya yang menyinari rumah-rumah warga untuk keberlangsungan ekonomi keluarga yang tentu dapat ditumpu dari usaha lain. Ada banyak usaha yang bisa dikembangkan di kawasan pesisir. Selain pengeringan ikan, nelayan bisa memberdayakan energi listrik untuk produksi aneka jus, usaha kuliner dan lainnya,” jelas Ajrun Karim.

Dikatakan, untuk wilayah Sumatera Barat, pendistribusian bantuan bagi masyarakat pra sejahtera totalnya mencapai 4400. Khusus 2025, tercatat 300 unit rumah yang sudah memperoleh bantuan tersebut. Pada Kamis, (16/10.2025), tercatat 11 unit rumah di Desa Teluk Buo yang mendapatkan penerangan listrik gratis dari PLN.
Ada pun dana kegiatan berasal dari dua sumber yakni zakat pegawai dan program pemerintah. Untuk 11 unit rumah yang terdapat di Desa Teluk Buo, pendanaannya berasal dari dana zakat pegawai PLN. Ada pun lokasinya berada di kampung bahari yang termasuk desa binaan Komando Daerah TNI Angkatan Laut II.
Sinergi PLN Dukung Program Ketahanan Pangan Kampung Bahari
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuntut ketersediaan bahan pangan, salah satunya pangan laut. Untuk itu, seluruh komponen bangsa harus bersinergi mendukung keberlanjutan program, salah satunya kontribusi nyata Komando Daerah TNI Angkatan Laut II.
Pernyataan tersebut disampaikan Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut II, Laksamana Muda TNI Sarimpunan Tanjung, ditemui RRI di Makodaeral II, Bukit Peti-Peti, Rabu, (15/10/2025). Pangan laut erat kaitannya dengan ketersediaan ikan untuk pemenuhan menu MBG yang diharapkan dapat meningkatkan serapan gizi pada anak, khususnya kelompok usia yang menjadi target program nasional yang diinisiasi penuh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Lebih lanjut Laksamana Muda TNI Sarimpunan Tanjung menjelaskan, dari pihaknya terus mensupport pemenuhan kebutuhan gizi anak yang tidak saja harus terfokus pada produk-produk darat seperti telur, namun bagaimana ke depan, hasil laut berupa ikan juga diprioritaskan. Dengan begitu, program MBG yang menjadi andalan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak menyasar tujuan yang ingin dicapai bersama.
“Indonesia memiliki hasil laut yang berlimpah, amat disayangkan jika kesemua itu tidak dikelola dan diolah secara optimal untuk kebutuhan anak-anak bangsa. Selain modifikasi menu makanan dari hasil perikanan, Kodaeral II juga fokus pada upaya pembinaan potensi pertanian di daerah setempat guna mendukung program ketahanan pangan nasional,” urai Dankodaeral II.
Dinamika Desa Wisata Teluk Buo Sebelum dan Setelah PLN Menyapa Negeri
Siapa mengira di kedalaman perbukitan hijau yang terjal dan bergelombang, terpampang pemandangan negeri yang demikian menawan. Itulah Desa Wisata Teluk Buo yang berada di perkampungan nelayan terisolir. Pada tahun 2024, desa wisata ini masuk dalam 100 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia.
Potensi pariwisata yang demikian besar idealnya dapat menopang kehidupan warga. yang sebelum PLN menyapa, sungguh di luar dugaan. Saat RRI menelusuri desa wisata yang menebar sejuta pesona, pandangan mata seakan tak bosan meliuk ke sana kemari, menuai decak kagum yang tiada henti.
Negeri yang seindah itu, nyatanya enggan dikunjungi wisatawan. Indah yang tersia-siakan.
Lantas apa yang menyebabkan wisatawan berat melangkahkan kaki ke sana? Jawabnya ternyata sederhana, yakni listrik yang belum menyinari negeri untuk sekian lama.
Untuk diketahui, Desa Wisata Teluk Buo sempat viral di media sosial dan mengundang rasa penasaran wisatawan dari berbagai daerah. Pada awalnya, desa wisata ini memang ramai dikunjungi wisatawan. Namun untuk berulang datang, tentunya mereka enggan.
“Bagaimana wisatawan tidak kapok datang kemari, terutama saat malam hari. Sepanjang jalan tidak ada lampu penerangan, belum lagi jalannya yang berlubang-lubang. Wisatawan tentunya jera dan kapok. Selain itu, fasilitas pendukung wisata juga tidak tersedia seperti mushala, tempat berbelanja kuliner dan souvenir lainnya. Otomatis mereka yang datang boleh dikatakan wisatawan yang datang untuk kedatangan perdana. Untuk berulang jelas mereka enggan,” ungkap Erna, wisatawan asal Pekanbaru yang mengeluhkan kondisi jalan menuju desa wisata sebelum listrik menyinari negeri setempat.

Hal senada diungkap warga setempat, Rahmat. Pemuda berusia 18 tahun ini menyebutkan kekhawatiran wisatawan akan kondisi pada malam hari. Tempat yang gelap dan sunyi, tentu rawan potensi kejahatan.
“Pastinya wisatawan mengkhawatirkan aspek keselamatan saat berwisata ke daerah yang belum dialiri penerangan yang memadai. Akibatnya, keindahan alam setempat terbenam dalam beribu rasa khawatir pengunjung. Lama kelamaan, pesona desa wisata pupus. Wisatawan enggan berkunjung dan aset wisata yang ada, untuk sekian lama tidak mengalirkan kontribusi bagi warga di sekitarnya. Itulah dinamika yang sebelumnya membayangi keberadaan desa wisata,” jelas pelajar pada salah satu SMA di Bungus Teluk Kabung.
Namun kini, keadaan telah berubah. Desa Wisata Teluk Buo sudah dijamah pelayanan listrik negara. Kegelapan perlahan pupus oleh cahaya yang terang benderang. Jalan menuju destinasi wisata mulai diterangi cahaya lampu yang memantapkan langkah wisatawan berkunjung dalam berbagai suasana.
“Alhamdulillah, desa kami sudah terang benderang. Moga anugerah alam yang tidak ternilai ini mengalirkan berkah berlimpah bagi penduduk negeri, utamanya warga kampung nelayan yang lama menanti perubahan wajah negeri,” imbuh Rahmat yang juga pengurus Pokdarwis Desa Wisata Teluk Buo.
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....