Menapaki Tangga Menuju Makam Siti Nurbaya

  • 27 Agt 2025 14:58 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Kisah Siti Nurbaya bagi sebagian orang hanyalah cerita fiksi dalam novel legendaris karya sastrawan besar dari Padang, Marah Rusli. Namun, di kota ini keberadaannya terasa begitu nyata. Saya pun memutuskan untuk menelusuri jejak cintanya yang pilu hingga ke puncak Gunung Padang, tempat ia “dimakamkan”.

Perjalanan saya dimulai dari studio RRI Padang di pusat kota. Hanya perlu waktu lebih kurang 15 menit menggunakan mobil, melewati Jembatan Siti Nurbaya yang ikonik, untuk sampai di kaki Gunung Padang. Opsi transportasi lain seperti ojek online juga tersedia, menawarkan kemudahan untuk menjangkau lokasi ini.

Jembatan Siti Nurbaya (Foto: Yusrizal/RRI)

Setelah membayar retribusi di pintu gerbang objek wisata ini, saya disambut dengan suasana sejuk, melintasi area dimana terdapat beberapa rumah penduduk. Nuansa asri begitu terasa, jauh dari hiruk pikuk kota. Tak jauh dari gerbang, saya melihat beberapa bunker peninggalan Jepang dan salah satunya berisi meriam, bukti sejarah yang tersimpan di balik keindahan alam Gunung Padang.

Bungker Peninggalan Jepang di Gunung Padang (Foto: Yusrizal/RRI)

Untuk sampai ke makam, saya harus mendaki ratusan anak tangga. Tangga-tangga ini meliuk di sepanjang lereng bukit, dan di beberapa titik, saya berpapasan dengan kawanan kera yang tampak sudah terbiasa dengan kehadiran manusia. Sebagian melompat lincah dari satu pohon ke pohon lain, menambah keunikan perjalanan ini.

Sekawanan kera yang setia menyambut pengunjung objek wisata Gunung Padang (Foto: Yusrizal/RRI)

Perjalanan menaiki anak tangga terasa cukup menguras tenaga, sesekali saya berhenti untuk mengambil napas. Untungnya, di beberapa titik tersedia shelter kecil yang memang sengaja dibangun untuk pengunjung beristirahat. Shelter ini jadi tempat yang pas untuk sejenak melepas lelah sambil menikmati pemandangan perbukitan yang hijau.

Makam Siti Nurbaya bukan terletak di puncak, melainkan di dalam sebuah gua, tak jauh sebelum tiba di puncak Gunung Padang. Posisi makam rapat dengan dinding goa. Melihat makam itu, saya merenung. Apakah benar Siti Nurbaya adalah tokoh fiksi? Banyak yang meyakini ia adalah simbol perlawanan terhadap tradisi perjodohan paksa. Namun, ada pula yang berpendapat makam ini hanya simbolis, didedikasikan untuk mengenang tokoh fiksi yang begitu lekat dengan identitas Minangkabau. Terlepas dari kebenarannya, makam ini berhasil memelihara cerita dan legenda yang sudah berusia satu abad lebih.

Makam Siti Nurbaya di Gunung Padang (Foto: Yusrizal/RRI)

Perjuangan menaiki tangga terbayar lunas saat saya tiba di puncak. Pemandangan dari atas benar-benar memukau. Lautan luas membentang, birunya seolah menyatu dengan cakrawala. Di sisi lain, panorama kota Padang terlihat jelas dari ketinggian. Gedung-gedung, jalan raya, dan perumahan tampak seperti miniatur. Saya juga menemukan taman yang indah dan beberapa bunker lain di area puncak, menambah kekayaan lanskap di sana.

Taman di Puncak Gunung Padang (Foto: Yusrizal/RRI)Pengunjung sedang Menikmati Pemandangan kota Padang dari puncak Gunung Padang (Foto: Yusrizal/RRI)

"Masyaa Allah Pemandangannya luar biasa. Capek mendaki terbayar lunas," ujar seorang pengunjung bernama Fajar, yang datang bersama keluarganya. "Meskipun sempat bingung apakah Siti Nurbaya itu nyata atau tidak, tempat ini memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi saya dan keluarga”.

Pemandangan alam arah Selatan Gunung Padang kota Padang (Foto: Yusrizal/RRI)

Menuruni bukit, saya menyimpulkan bahwa Makam Siti Nurbaya lebih dari sekadar tempat ziarah. Ia adalah perpaduan unik antara legenda, sejarah, dan keindahan alam. Kisah cinta yang abadi itu seolah hidup di setiap anak tangga yang saya pijak, di setiap kera yang saya lihat, dan di setiap panorama yang saya nikmati. Tempat ini mengajarkan bahwa meskipun cinta bisa berakhir tragis, kisahnya akan tetap hidup, menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah kota.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....