Pesona Malino dalam Tutur Kisah Insan Berdarah Bugis

  • 13 Agt 2025 15:01 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Mentari menyapa pagi dengan senyumnya yang hangat memancarkan rona khas. Cerah yang terpampang, mengisi setiap sudut bangunan publik yang berada di jantung Kota Padang. Sementara, jarum jam di dinding ketika itu masih menunjukkan pukul 6.45 WIB.

Ada sesuatu yang menarik menurutku di pagi itu. Pandangan seketika tertuju pada sekelompok remaja yang sedang asik bercengkrama, berbagi kisah dan cerita. Ally, salah satu dari mereka tampak begitu bersemangat dan menyala dalam kata-katanya. Mahasiswa berdarah Bugis - Minang ini ternyata baru saja kembali dari tanah kelahirannya Gowa, Sulawesi Selatan. Festival Beautiful Malino setiap tahunnya menjerat dan memikat hati pemuda berusia 21 tahun ini.

“Setiap tahun saya selalu menyempatkan diri bekunjung ke tanah leluhur di Makasar. Terlebih jika momennya bertepatan dengan Beautiful Malino,” ungkap anak pertama dari dua bersaudara ini kepada RRI, Sabtu, (2/8/2025).

Festival Beautiful Malino 2025 memang sudah berakhir. Namun tidak mengakhiri semangat Ali yang ketika itu berbagi cerita tentang pengalamannya selama beberapa hari, menikmati wisata dan budaya Beautiful Malino yang berlangsung tanggal 9-13 Juli 2025. Semangatnya begitu menyala saat berbagi cerita dengan rekan sesama magang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Kepada rekan-rekannya, Ali menceritakan pengalamannya saat menikmati keasrian alam Malino dengan nuansa hijau pohon pinus yang meneduhkan mata. Hutan pinus termasuk kawasan Wisata Malino yang berkolaborasi dengan suasana kebun teh yang meniupkan aroma segar dari kejauhan.

“Saya sangat menikmati even Beautiful Malino yang tidak sekedar merangkul kedatangan wisatawan luar daerah berkunjung ke Sulawesi Selatan, namun lebih dari itu. Beautiful Malino mengedukasi generasi muda suku Bugis agar tidak melupakan tanah leluhur. Beautiful Malino seakan menarik langkah para perantau melirik sejenak keindahan alam dan kekayaan budaya Sulawesi Selatan yang tak lekang oleh zaman,” papar Ali yang dilahirkan dari keluarga campuran Bugis dan Minang.

Kepada RRI, mahasiswa yang kini menuntut ilmu pada salah satu perguruan tinggi di Kota Bandung mengungkapkan, Beautiful Malino sejatinya panggung berkreasi bagi anak-anak muda di Gowa, Sulawesi Selatan. Melalui ajang tahunan ini, generasi muda mendapatkan edukasi tentang budaya, pertunjukkan seni yang meramu nilai-nilai peradaban dan budaya nenek moyang yang tentunya butuh wadah pelestarian. Di panggung budaya ini, mereka mengetahui kekayaan budaya dan sejarah suku Bugis yang pada masanya dikenal sebagai pelaut handal yang menaklukkan samudera luas.

“Beautiful Malino, menyegarkan ingatan generasi muda suku Bugis agar tak melupakan sejarah masa lalu yang memampang kejayaan nenek moyang selaku palaut ulung. Terus terang, saya bangga menjadi bagian dari masyarakat Gowa, Sulawesi Selatan meski lahir dari rahim seorang ibu berdarah Minang. Perpaduan dua suku dari pernikahan kedua orang tua, justeru menjadikan saya tumbuh sebagai sosok yang menyadari pentingnya memahami akar sejarah dari masing-masing daerah,” ujar pemuda bernama lengkap Ally Goran Melchizedec.

Beautiful Malino Menyiratkan Pesan Moral dalam Kehidupan

Beragam pertunjukkan seni dan atraksi budaya ditampilkan pada agenda tahunan Beautiful Malino yang tahun ini sudah memasuki penyelenggaraan even kedelapan. Secara berkelanjutan pemerintah daerah terus merangkul berbagai pihak untuk keberlangsungan kegiatan yang sesungguhnya menjadi wadah strategis bagi kaum muda untuk menata pengetahuan tentang sejarah dan peradaban yang jika tidak diwariskan dari generasi ke generasi akan tenggelam digilas pengaruh zaman.

Selaku generasi muda berdarah Bugis, Ally menceritakan keunikan dan ketertarikannya menyaelami budaya dari garis keturunan sang ayah.

“Budaya Malino kaya akan kearifan lokal yang implementasi nilainya mengajarkan setiap orang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan harga diri. Suku bugis juga dikenal sebagai suku yang masyarakatnya suka merantau dan berdagang ke berbagai daerah. Bahkan dari kecil, mereka sudah dilatih hidup merantau dan beradaptasi dengan bermacam suku yang ada di wilayah nusantara. Hadirnya Beautiful Malino, mengingatkan mereka akan keberadaan tanah kelahiran yang tidak boleh dilupakan untuk alasan apa pun,” papar mahasiswa Telkom University Bandung ini.

Beautiful Malino membuka cakrawala berpikir masyarakat, khususnya generasi muda suku Bugis agar senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan peradaban sejarah. Jauhnya daerah perantauan, tidak membatasi gerak dan niat mengunjungi tanah leluhur. Di Malino, Tuhan menganugerahkan segalanya. Alam yang demikian indah dengan daya tarik budaya yang mampu mendatangkan wisatawan dari berbagai pelosok nusantara hingga mancanegara, menapak pesona daerah yang dijuluki Kota Bunga.

Diakui Ally, budaya Malino boleh dikatakan menabur pesan moral yang selanjutnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya nilai kejujuran. Dari kecil, sang ayah sudah menerapkan kedisiplinan pentingnya menerapkan nilai-nilai kejujuran yang dimulai dari hal-hal sederhana di lingkup keluarga.

Ketika bertumbuh remaja, sulung dari dua bersaudara ini menyatakan tekadnya kepada kedua orang tua, mengadu peruntungan di perantauan. Ia bertolak ke Kota Kembang, menjajal kemampuan akademik pada perguruan tinggi Telkom University.

Namun sejauh-jauh langkah menelusuri negeri di perantauan, Ally tak melupakan sejarah dan budaya yang menumpu kehidupan leluhurnya di masa lalu. Malino dalam pandangan Ally, negeri yang indah dengan kehidupan masyarakatnya yang ramah.

“Berbicara tentang Malino, tak cukup waktu untuk mengupasnya. Banyak hal yang mesti diulas. Budaya tidak mengenal tepian. Budaya mengusung kisah dan sejarah tentang berbagai peradaban manusia yang diyakni keberadaannya. Diawiskan dari generasi ke generasi sehingga nilai-nilainya lestari sepanjang masa. Begitu pun jika berbicara tentang kehidupan masyarakat Malino, banyak hal yang tentu bisa diambil hikmahnya,” terang Ally.

Beautiful Malino 2025, Inspirasi Generasi Muda Mengejar Mimpi

Pada masanya, masyarakat suku Bugis dikenal sebagai pelaut handal yang kemampuan navigasinya mampu mengantarnya berlayar ke berbagai belahan dunia. Bahkan, nenek moyang Indonesia dikenal sebagai pelaut ulung yang kisahnya menginspirasi kaum muda fokus mengejar mimpi.

Ismail Novendra, lelaki berdarah Bugis yang bercita-cita ingin menjadi taruna AAL salah satunya. Semasa kecilnya, sang ayah selalu menceritakan keunggulan dan kepiawaian nenek moyang suku Bugis dalam melaut. Cerita masa kecil menginspirasi dirinya kelak mengikuti jejak para leluhur.

Kini setelah ia berangkat dewasa dan berumah tangga, cerita masa lalu itu ia wariskan kepada anak beserta keturunannya.

“Setiap penyelenggaraan even Malino, saya sempatkan pulang ke Gowa. Membawa serta keluarga dengan harapan, perubahan dan kehidupan di rantau tidak menyebabkan mereka lupa akan budaya para leluhurnya. Alhamdulillah, tradisi pulang ke tanah leluhur di Gowa tetap kami jalani, khususnya dalam delapan tahun terakhir ini,” ujar Ismail, Senin, (4/8/2025).

Beautiful Malino, makin mendekatkan langkah kami sembari bernostalgia bersama kerabat dan sahabat di Gowa,” jelas ayah tiga anak yang lama merantau ke Sumatera Barat.

Ally dan Ismail, dua sosok generasi muda suku Bugis yang tumbuh dan besar di perantauan. Mereka dididik dalam lingkup rumah tangga dengan kedua orang tua yang berbeda suku bangsa. Namun darah Bugis mengalir kental dalam diri kedua lelaki itu.

Delapan Tahun Beautiful Malino, Sentak Ekonomi Penduduk Negeri

Festival Beautiful Malino 2025 memang telah berakhir, namun gaungnya menyentak nadi perekonomian negeri-negeri yang disinggahi. UMKM tersentak seketika. Ekonomi berdenyut pada setiap sudut yang dilalui, sebagaimana diungkap Ade, pelaku UMKM asal Sumatera Barat yang memanfaatkan agenda tahunan tersebut untuk memasarkan produk UMKM khas daerah.

“Sembari bersilahturahmi ke Gowa, saya membawa serta barang dagangan berupa produk UMKM yang dihasilkan para pengrajin di daerah. Bermacamlah, ada songket, produk tenun khas daerah, batik bercorak Ranah Minang dan aneka kuliner yang memang sudah mendunia pemasaranya. Sasaran produk mulai dari kerabat hingga para sahabat yang menetap di Gowa. Alhamdulillah, even Beautiful Malino membuka kran ekonomi UMKM di pelosok – pelosok negeri,” ujar ibu muda ini kepada RRI.

Menurut Ade, hampir setiap momen kedatangannya ke Gowa bertepatan dengan penyelenggaraan even Beautiful Malino. Ia sertakan membawa produk UMKM dalam kegiatan berwisata. Dalam kenyataannya, apa pun even wisata dan budaya, tidak pernah membatasi ruang gerak seseorang dalam upaya mengulirkan rupiah ke daerah, demi satu kata sejahtera yang ingin diraihnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....