Hadirmu BBM Bersubsidi, Rangkul Hajat Negeriku Menuju Harmonisasi
- 10 Agt 2025 13:44 WIB
- Padang
KBRN, Padang: Setengah berlari, seorang lelaki berseragam medis bergegas mengayun langkah. Tangan kanannya menjinjing sebuah tas yang dibungkus plastik berwarna hitam, lengkap berisi peralatan kerja. Ia tampak terburu-buru dan berkali matanya melirik benda di pergelangan di tangan kirinya. Tak berapa lama, langkahnya terhenti pada sebuah dermaga.
Dialah sosok Malaikat, tenaga kesehatan Puskesmas Sarereiket yang bertahun-tahun mengabdikan diri di pelosok pedalaman Mentawai, Provinsi Sumatera Barat. Sejenak ia mengatur nafas sebelum menaiki pompong (perahu mesin tempel) yang di atasnya sudah menunggu rekan kerja sesama tenaga kesehatan.
“Syukurlah, kita bisa menyeberang pulau hari ini,” ungkapnya, Jumat, (1/8/2025).
Pernyataan yang disampaikan Malaikat yang juga Kepala Puskesmas Sarereiket, Siberut Selatan tidak terlontar begitu saja. Kelangkaan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Mentawai akhir – akhir ini memicu kekhawatiran berbagai pihak, termasuk tenaga kesehatan yang konsep pelayanannya menerapkan istilah jemput bola.

Dengan menggunakan pompong, tenaga kesehatan mendatangi pasien di pulau-pulau terpencil. Otomatis ketersediaan BBM jelas Malaikat menumpu ragam aktifitas yang memakan jarak tempuh yang lumayan jauh. Untuk menyambung kaki guna mempercepat proses pelayanan kesehatan ke pulau-pulau, tim medis umumnya menggunakan perahu tradisional berbahan bakar solar atau bensin.
Begitu berharganya BBM bagi masyarakat suku pedalaman Mentawai sehingga setetes BBM, ibarat nadi yang mengalirkan denyut kehidupan bagi warga yang membutuhkan pertolongan.
“Pernah suatu ketika, saya mendapatkan kabar di sebuah pulau ada beberapa anak yang mengalami diare dan membutuhkan penanganan medis secepatnya. Tanpa pikir panjang, tim medis bergerak ke dermaga. Lantas apa yang terjadi, perjalanan tim ke lokasi terpaksa ditunda karena pompong yang ditumpangi kehabisan BBM. Kondisi demikian sering terjadi. Namun selaku tim medis jelas hati kecil saya meronta. Saya bergerak dan menghubungi relasi di dermaga. Alhasil, perjuangan ini tidak sia-sia. Kami melanjutkan perjalanan ke pulau menggunakan pompong yang telah diisi BBM secukupnya,” urai Malaikat.
Di pulau yang dituju, warga ternyata sudah menunggu sejak pagi hari. Kedatangan kami disambut histeris beberapa ibu yang anaknya sudah dalam kondisi lemas, tidak berdaya disebabkan lambatnya mendapat penangan.
“Terlambat sedikit saja, nyawa anak-anak itu tidak terselamatkan. Fisik mereka sudah sangat lemah. Bayangkan begitu berartinya pasokan BBM ke pulau terluar. Jiwa-jiwa yang sebelumnya pasrah menerima keadaan pada akhirnya terselamatkan,” papar lelaki ini kepada RRI.
Bisa dibayangkan, kejadian apa yang bakal menimpa anak-anak iu, jika tim medis urung berlayar ke desa mereka yang berada jauh di ujung pulau. Inilah dilema yang sejauh ini berupaya diatasi dan tentunya warga berharap, layanan BBM ke pulau terluar lebih dioptimalkan lagi. Jika perlu ditambah kuotanya demi denyut kehidupan yang lebih berirama, senada dengan asa yang menyala di balik cita-cita.
Distribusi BBM, Hentak Ekonomi Masyarakat yang Mati Suri
Kabupaten Kepulauan Mentawai, negeri dengan gugus pulau menyimpan keberagaman sumber daya alam yang belum tentu dimiliki daerah lain di Indonesia. Untuk mengolah keberagaman aset daerah, dibutuhkan harmonisasi yang merangkul segenap komponen ikut berpartisipasi mendorong percepatan laju pembangunan daerah. Dibutuhkan komitmen yang tidak semata hadir dalam ungkapan kata.
“Di sini, apa pun bisa jalan, asalkan ada penggeraknya (BBM). Kondisi geografis Mentawai yang berada diantara gugusan pulau tidak menghalangi keleluasaan masyarakat beraktifitas dalam bidang ekonomi. Dengan pasokan BBM yang mencukupi, jarak yang jauh bisa dijangkau. Nelayan bisa melaut setiap harinya. Pegadang pun leluasa memasarkan hasil tani ke pelosok pedalaman. Tak ada hambatan selama BBM untuk keperluan bertransportasi mencukupi kebutuhan penduduk negeri,” ungkap Samolaisa, nelayan asal Siberut Selatan yang berharap pasokan BBM bersubsidi ke pulau tetap berkelanjutan.
Kepada RRI, Jumat, (1/8/2025), ayah tiga anak ini menceritakan suka dukanya menafkahi kebutuhan keluarga pada saat BBM bersubsidi langka di pasaran. Bersyukur sekarang ini, semuanya telah dimudahkan.
“Dulu begitu sulit mendapatkan BBM bersubsidi karena transportasi ke pulau yang lumayan terbatas. Sekarang program pemerintah justeru menuntut pemerataan dalam pemenuhan akses energi ke berbagai daerah sehingga tidak ada lagi pembedaan atau pun pengkotakkan dalam hal distribusi kebutuhan pokok tersebut,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan Payung, petani pisang asal Tuapeijat, Mentawai. Menurutnya distribusi BBM bersubsidi yang menjangkau pulau terluar telah memudahkan petani dan pedagang, berkolaborasi menjalankan aktifitas ekonomi. Petani tidak perlu khawatir lagi, pisang yang ditanamnya di kebun bakal membusuk seterusnya. Begitu pun pedagang yang membeli hasil tani, dengan mudah bisa memasarkan hasil tani tersebut ke pulau-pulau yang sebelumnya jarang dikunjungi bahkan tidak tersentuh jejak sama sekali. Satu kata kunci jelas Payung, distribusi akses energi ke pulau-pulau harus lancar, jangan ada dusta diantara kita.
“Arus perdagangan barang antar pulau sekarang ini mulai menggeliat, berbeda jika dibanding kondisi lima atau sepuluh tahun silam. Ekonomi mulai menapakkan sayapnya, bahkan menembus pulau-pulau yang jarang dikunjungi. Ekonomi bertumbuh dan bergeliat, seiring pemeratan program yang menuntut kesetaraan hak setiap warga negara. Mau mereka tinggal di ujung pulau sekali pun, negara tetap berkewajiban melayani dan memenuhi kebutuhan warga negara, salah satunya dalam mendapatkan akses energi yang memadai melalui BBM bersubsidi,” papar Payung yang merasakan perubahan signifikan akses energi ke daerah domisilinya, Tuapeijat.
Pemerintah Jelajahi Akses Energi ke Pulau Terluar
Hadirnya program BBM Satu Harga, wujud kepedulian pemerintah dalam memberikan akses energi kepada masyarakat di pelosok negeri. Diupayakan distribusi BBM bersubsidi dengan harga tunggal dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang aktifitasnya tidak terlepas dari pemakaian energi seperti BBM sejenis solar dan bensin.
Secara bertahap, Mentawai pun merasakan dampak kebijakan yang menunjukkan sisi keberpihakan kepada masyarakat. Tercatat hingga saat ini, pemerintah melalui Pertamina telah merampungkan PR, menyelesaikan target pembangunan penyalur program BBM Satu Harga. Tidak main-main, ada 583 penyalur yang mendukung program nasional tersebut. Hal itu merujuk pada data yang disebutkan Badan Pengatur hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).
Khusus Mentawai selaku daerah 3T, pembangunan penyalur program BBM Satu Harga merupakan upaya pemerataan ekonomi yang merujuk pada azas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ketimpangan harga BBM jelas meresahkan masyarakat, terlebih warga yang berdomisili di daerah 3T.

Mereka sangat terbebani dengan variasi harga yang tidak setara itu hingga berujung beban yang merintangi upaya dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, senada dengan pernyataan yang dilontarkan Pengurus Kadin Sumatera Barat, Rahim Mardanis dalam bincang-bincangnya dengan RRI.
“Bayangkan satu liter bensin dijual seharga 20 hingga 25 ribu rupiah. Lantas dimana peran dan tanggungjawab pemerintah dalam memperjuangkan hak warga negara mendapatkan akses energi yang setara dan merata,” tanya Rahim, Minggu, (3/8/2025).
Dengan perubahan sekarang ini, masyarakat di ujung pulau mulai menaruh kepercayaan kepada pemerintah. Sikap pesimis terhadap penguasa perlahan pupus seiring bergulirnya program unggulan yang mengedepankan kepentingan masyarakat.
“Program BBM Satu Harga, ibarat terapi yang mengobati penyakit yang menghinggapi tubuh selama bertahun-tahun. Terapi ini perlahan, namun pasti. Kini, ekonomi masyarakat di pelosok negeri mulai bertumbuh. Mentawai misalnya, setiap sudut sudah dijamah dan disinggahi. Kemampuan Elnusa Petrofin menyalurkan BBM ke daerah terisolir tak perlu diragukan lagi. Inovasi yang digulirkan menggilas keterbelakangan yang selama ini mengekang kemajuan negeri di seberang laut,” tegas Rahim.
Sebagai contoh, produksi keladi di Mentawai kini sudah merambah berbagai kota di Sumatera Barat, bahkan sampai ke Pulau Jawa. Keladi yang merupakan hasil tani terbesar Mentawai diolah menjadi aneka kuliner dalam berbagai bentuk dan cita rasa.
Ratna, pengusaha keripik keladi asal Sikakap kepada RRI mengaku dirinya optimis menjalankan bisnis kuliner tersebut. Selaku pemula, ia tak ragu lagi berproduksi aneka kuliner berbahan baku keladi. Salah satu pemicu semangat bisnisnya adalah program pemerintah BBM Satu Harga yang secara merata dan setara diberlakukan di wilayah Indonesia, termasuk tanah kelahirannya Sikakap.
“Saya menaruh harapan besar kepada pemerintah, termasuk bapak-bapak kita yang setiap hari berjuang di jalur laut. Mereka ini pejuang – pejuang BBM yang tanpa pamrih mendistribusikan BBM bersubsidi untuk keperluan penduduk negeri. Suatu ketika, saya yakin keseragaman harga BBM bersubsidi dapat diwujudkan. Dengan begitu, pemerataan ekonomi yang berkeadilan sosial tidak lagi sekedar mimpi,” ungkap Ratna penuh harap.
Jalan Terang Menuju Bangku Pendidikan
BBM bersubsidi agaknya tidak hanya menerangi pulau-pulau yang gelap di seberang lautan. BBM bersubsidi juga memuluskan langkah anak-anak suku pedalaman menuju bangku pendidikan.
“Sekolah-sekolah yang berada di pedalaman Mentawai dapat disambangi setiap harinya, menggunakan perahu tradisional berbahan bakar bensin. Dulunya, anak-anak sering bolos sekolah karena perahu yang ditumpangi untuk berlayar ke sekolah seringkali kehabisan bahan bakar. Kondisi demikian berlangsung hingga bermingggu-minggu,” ujar Harefa, pelajar kelas V Sekolah Dasar di Sikakap.
Bungsu dari tiga bersaudara ini mngaku, sering absen mengikuti pelajaran di sekolah. Jarak rumah ke sekolah lumayan jauh dan lokasinya beda pulau. Untuk sampai ke sekolah, Harefa dan teman-temannya harus menyeberang selama setengah jam perjalanan menggunakan pompong sewaan.

Kelangkaan BBM mengubah pola pikir warga, bahkan anak-anak yang awalnya bersemangat pergi ke sekolah, selanjutnya dilanda kecewa dan putus asa.
“Seragam sudah dikenakan, ujung-ujungnya balik lagi ke rumah karena pompong yang dinaiki tidak ada cadangan BBM. Kini kondisi tidak separah dulu. Anak-anak sudah mulai lancar ke sekolah. Pompong jarang yang kehabisan bahan bakar. Imbasnya, perjalanan ke sekolah menjadi lancar. Anak-anak pulau optimis menjalani hari-hari. Pendidikan tak lagi menjadi beban karena pemerintah melalui programnya strategisnya berupaya memupus kebodohan dengan menyediakan akses energi yang mencukupi kebutuhan anak-anak negeri,” tambah Christin, tenaga pendidik yang mengajar pada salah satu SMA di Mentawai.
Komitmen Elnusa Petrofin dan Pertamina Patra Niaga
Bersama dengan Pertamina Patra Niaga, selaku penyalur BBM bersubsisi, Elnusa Petrofin berkomitmen melayani kebutuhan masyarakat akan akses energi yang mencukupi hingga ke pulau-pulau terpencil. Tak ada satu jengkal tanah di bumi pertiwi yang penduduknya tidak merasakan akses energi yang merata, semua menikmati fasilitas yang sudah selayaknya negeri berikan kepada penduduk negeri.
Manager Corporate Communication and Relations PT Elnusa Petrofin Putiarsa Bagus Wibowo saat berkunjung ke Padang pada pertengahan Juli 2025 menyatakan dengan tegas komitmen perusahaan senantiasa melayani kebutuhan eenrgi masyarakat secara berkelanjutan. Pelayanan bersifit terbuka dan tidak ada istilah tebang pilih.
Dengan menggunakan konsep pendekatan bernuansa edukasi dan sosialisasi, Elnusa Petrofin melakukan pendekatan kepada masyarakat termasuk insan media agar menyuarakan program strategis perusahaan dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat Indonesia secara berkelanjutan.

“Kita meyakini kekuatan media dalam menyuarakan program-program pemerintah yang merujuk pada pelayanan publik bersifat merata dan setara. Bagaimana gaung media sampai ke pulau terluar seperti Mentawai, menyuarakan komitmen pemerintah dalam peemnuhan kebutuhan pokok masyarakat akan akses energi berupa BBM bersubsidi,” ujar Putiarsa Bagus Wibowo.
Selain komitmen dalam pelayanan BBM, perusahaan juga memiliki ketajaman hati dan naluri dalam mencarikan solusi terhadpa beragam persoalan lingkungan yang mendilemai kehidupan warga, khususnya nelayan di kawasan pantai. Abrasi pantai salah satunya.
Dalan kunjungan kerjanya ke Padang, Elnusa Petrofin mengulurkan bantuan guna membantu Pemerintah Kota Padang dalam penanganan masalah lingkungan terkait abrasi pantai. Bantuan berupa ban bekas mobil tangki tersebut langsung disalurkan pada salah satu kawasan rawan abrasi di Kota Padang, yakni Bungus Teluk Kabung.
“Kegiatan ini bagian dari program TJSL yang diharapkan dapat membantu dilema kebencanaaan di Kota Padang. Konsep kerjanya ramah lingkungan dan penggunaan teknologi yang tidak menyisakan risiko bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya di akhir pertemuan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....