Malaikat, Sosok Pengabdi Gaungkan JKN dengan Setulus Hati
- 31 Jul 2025 14:45 WIB
- Padang
KBRN, Padang: Pagi merekah, menyongsong cerah di lingkar semesta yang berdamai ketika itu. Aku terpana, menyaksikan alam sekeliling yang menebar rona yang begitu khas. Aroma pulau yang hampir setiap waktu kurindukan. Rasanya tak sia-sia perjalanan panjang ini. Menyisir pulau dan berlayar di samudera luas seharian. Kukuatkan tekad, bertolak dari Pelabuhan Muaro Padang menuju pulau terluar Mentawa berbekal kemauan dan tekad, menyuarakan perjuangan sosok Malaikat penyelamat.
Saat kapal cepat yang kutumpangi berlabuh menyentuh pinggang dermaga Siberut Selatan, Mentawai, terbayang episode demi episode perjalanan yang bakal mengisi hari-hariku selama sepekan menyacah ujung pulau. Tak hanya itu, fisik pun harus siap bertempur dengan cuaca yang tak jarang menuai badai. Semua itu, tak kuhiraukan. Aku tetap fokus pada niatku, menyuarakan suara kecil yang sayup-sayup terdengar dari pulau terpencil.
Setelah beristirahat beberapa saat di penginapan yang berada tak jauh dari pusat layanan kesehatan, kuayun langkah, bergegas menuju Puskesmas Sarereiket, Siberut Selatan yang kala itu masih melayani para pasien. Kebanyakan kaum ibu yang membawa serta anaknya berobat ke pusat layanan medis setingkat kecamatan itu. Usai berobat, pasien langsung pulang. Kondisi puskesmas sekiranya memang tak layak menampung pasien rawat inap. Tidak ada bilik atau ruangan yang bisa digunakan pasien untuk bermalam.
Puskesmas Sarereiket yang pendiriannya dirintis mantan Bupati Mentawai, Yudas Sabaggalet satu-satunya layanan kesehatan yang menjadi andalan warga dari dua desa, yakni Matotonan dan Madobag. Di sinilah harapan warga tertumpu, tepatnya di pusat layanan kesehatan yang terakreditasi sejak tahun 2023.
“Pasien yang datang berobat silih berganti, bahkan di luar jam dinas pun, kami tetap melayani dengan sepenuh hati,” ungkap Malaikat yang tak lain Kepala Puskesmas Sarereiket, Siberut Selatan, Minggu, (8/6/2025).
Sosok Malaikat memang tidak asing lagi bagi warga. Sikapnya yang ramah dan penyabar, teliti bahkan peduli menjadikannya pribadi yang dicintai banyak orang. Kehadirannya di tengah-tengah pasien, seakan menjadi obat yang memberi semangat bagi kesembuhan pasien yang menjalani pengobatan.
Sekiranya pasien yang membutuhkan penanganan medis berasal dari keluarga kurang mampu dan tidak memiliki kesanggupan materi menyewa pompong (sampan yang menggunakan mesin tempel), Malaikat pun dengan ketulusan hati tetap melayani mereka, bahkan tak segan-segan berbagi, sesuai apa yang bisa ia beri.

“Pernah suatu ketika, saya mendapatkan laporan tentang keberadaan seorang lansia yang hidup sebatang kara di sebuah pulau terpencil. Ia menderita penyakit kronis yang telah cukup lama dikeluhkan. Demi rasa kemanusiaan yang tidak bisa diabaikan, saya langsung bergegas, berangkat menuju pulau. Bisa dibayangkan, bagaimana rasanya menjalani tiga jam perjalanan menggunakan pompong dalam suasana kemarau dan badai,” ungkapnya saat ditandangi RRI di kediamannya yang tak jauh dari Puskesmas Sarereiket.
Sesampainya di rumah perempuan lansia yang umurnya ditaksir 80 tahun itu, Malaikat tertunduk sedih. Lelaki kelahiran 1978 ini terenyuh melihat sosok perempuan yang terbaring lemah tidak berdaya dalam sebuah pondok kecil yang kondisinya maaf menyerupai kandang hewan.

“Saya tidak bisa membayangkan, kesulitan yang nenek itu hadapi selama bertahun - tahun. Hidup sebatang kara dan dalam sakitnya, ia tetap memaksakan diri mencari keladi ke tengah hutan untuk dimakan sehari-hari. Andai kita tidak mendatanginya, siapa yang akan membantu pengobatan medis nenek itu,” ungkap bapak tiga anak itu saat mengenang kembali kisah sedih warga di ujung pulau.
Selaku tenaga medis yang memang sudah mengikrarkan janji pengabdian kepada negara, nuraninya langsung tergerak saat mendengar laporan tentang pengabaian kesehatan pasien. Pun ketika dirinya mendapat kabar tentang kondisi perempuan hamil yang tinggal pada sebuah kampung terpencil di tengah hutan.
Tiga jam perjalanan darat hanya ditempuh dengan berjalan kaki, tanpa menggunakan kendaraan. Rumah pasien berada di ketinggian gunung, di kanan kirinya menganga jurang yang dalam. Dengan berbagai upaya, tim medis akhirnya sampai di lokasi dan langsung melakukan tindakan penanganan.
“Dengan kondisinya saat itu, ia harusnya dirujuk ke rumah sakit. Namun karena medan yang tidak memungkinkan bagi perempuan hamil itu ditandu atau pun digotong, maka diputuskan yang bersangkutan tetap menjalani perawatan medis di rumahnya. Jika dipaksakan membawanya ke rumah sakit, diperkirakan fisiknya tidak akan sanggup bertahan, ujung-ujungnya nyawa wanita itu tidak terselamatkan.
Begitulah, kami tim medis pun bolak-balik ke rumah perempuan hamil itu hingga tiba masa persalinannya. Ia melahirkan seorang bayi dan mengalami kelumpuhan. Beberapa bulan kemudian, ia meninggal dunia,” tutur Malaikat dengan mata berkaca-kaca. Penggalan kisah yang diurai Malaikat menggambarkan dilema layanan medis pulau terluar, namun berupaya ditaklukkan tenaga kesehatan Puskesmas Sarereiket yang total berjumlah 40 orang.
Muluskan Jalan Anak Bangsa Mengecap JKN Gratis
Selaku putra daerah, Malaikat lama merindukan kehidupan warga yang sehat dan sejahtera. Bathinnya seringkali bergejolak dan memendam tekad kuat untuk memuluskan langkah putra-putri daerah mengecap layanan kesehatan yang optimal melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan.
“Suka atau tidak suka, diterima atau tidak, selaku tim medis pastinya saya terus berusaha memperjuangkan hak warga, memperoleh layanan kesehatan secara merata. Bersyukur kiranya, dari 5 ribu lebih penduduk yang berdomisili pada dua desa, 3 ribu diantaranya sudah terdaftar pada layanan BPJS Kesehatan. Tidak mudah menempa kesadaran warga di pedalaman, namun dengan konsep pendekatan yang tepat dan menyesuaikan, tidak ada yang tidak mungkin,” jelas putra asli Siberut itu.
Senada dengan konsep berpikir Maria, warga Siberut Selatan yang kini menetap di tanah kelahirannya. Meski sudah mengecap pendidikan perguruan tinggi di luar Mentawai, keyakinan keluarga Maria menggunakan jasa pengobatan dukun tradisional, tak bisa dirubah begitu saja.
“Kami menyebut dukun tradisional itu sikerei. ahli pengobatan yang beratus tahun mengobati penyakit warga di pedalaman. Tak mudah beralih, karena ini terkait dengan kepercayaan warga. Perlu kolaborasi antara tim medis dan dukun tradisional Mentawai,” ujar putri daerah yang telah menamatkan pendidikan S1nya di luar Mentawai.
Konsep beradaptasi yang mengedepankan rasa kekeluargaan juga membantu Shinta, tenaga kesehatan asal Kota Padang yang dengan tulus hati mendatangi balita stunting ke rumah-rumah warga di pulau terluar. Selaku tenaga medis yang jauh-jauh meninggalkan keluarga demi menjalankan tugas dan tanggungjawab kepada negara, bathin Shinta jelas meronta kala menyaksikan realita pahit di sekelilingnya. Hingga suatu ketika, ia memberanikan diri mendatangi salah satu rumah warga yang anaknya menderita sakit cukup lama dan membutuhkan penanganan serius dari tim medis.
“Kami tim medis langsung turun, berlayar menggunakan pompong. Badai di perairan tak kami hiraukan karena yang terpikirkan ketika itu, bagaimana bisa memberikan pelayanan medis secepatnya kepada balita malang,” ungkapnya, Senin, (9/6/2025).

Kami sampai di pulau saat matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Rumah yang kami tuju berada di tengah rimba, tidak ada penerangan sama sekali. Setengah jam berjalan kaki, tim medis sampai di kediaman sang anak.
“Menitik air mata ini saat menyaksikan kondisi balita yang diperkirakan berumur tiga tahunan itu. Kepada sang ibu, kami langsung menanyakan keluhan sang anak dan ternyata hal itu sudah dirasakan dua atau tiga bulan terakhir. Keesokan paginya, kami segera merujuk si anak ke rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan secara intensif,” jelas perempuan yang sejak kecil memang sudah bercita-cita ingin menjadi dokter, terinspirasi dari kisah film lama berjudul “Dokter Sartika”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....