Aipda Dian: Berbagi, Sisihkan Gaji demi Asta Cita

  • 29 Jun 2025 12:21 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Sekelompok bocah berlari - lari kecil, berpacu dalam iringan langkah mungilnya. Di belakang tampak kaum dhuafa yang terdiri dari anak yatim, ibu-ibu hamil bahkan lansia menyusul langkah para bocah, menyisir keramaian siang di Jalan Pulau Air, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.

Sesampainya pada bangunan yang dituju yakni Puskesmas Lubuk Begalung, bocah-bocah disambut hangat oleh sosok berbadan tegap, menggunakan seragam coklat. Sosok itu adalah Aipda Dian Wihendro, Babinsa Polsek Lubuk Begalung yang menghampiri para bocah dengan sikapnya yang ramah. Keakraban yang terjalin diantara mereka bukan sekedar basa-basi, namun mengalir dari dasar sanubari.

Tanpa sungkan, Aipda Dian yang dulunya pernah menjalani kisah hidup sebagai buruh bongkar muat barang di Pelabuhan Muaro, spontan merangkul para bocah, mengusap lembut kepalanya satu per satu. Mereka, anak-anak malang yang dalam dunia kesehatan perlu mendapat perhatian disebabkan gangguan tumbuhkembang yang dialami sejak bayi atau dalam kandungan. Mereka ini disebut penderita gizi buruk atau stunting.

“Mereka tanggungjawabkita.Tidak semua persoalan dalam kehidupan sosial sepenuhnya dibebankan pada pemerintah. Pada saat nurani berkata, itulah saat yang tepat untuk kita mulai bergerak, berbagi dan menebar jiwa peduli,” ungkap lelaki kelahiran Mentawai, 25 Juni 1882 saat pertemuannya dengan RRI, Kamis, (26/6/2025).

Tidak pernah terlintas di benak ayah tiga anak ini, suatu ketika dirinya akan terpaut pada aktifitas sosial yang menuntun jiwa senantiasa berbagi dalam segala kondisi.

“Saya terlahir dari keluarga sederhana dan pernah merasakan hidup susah. Namun kedua orang tua, terutama mendiang ayah selalu menekankan kepada anak-anaknya, senantiasa berbagi dengan tetangga, orang – orang susah di sekitar kita. Di masa hidupnya, beliau selalu mengingatkan saya, jangan sesekali menzalimi hak orang – orang yang tidak berdaya. Selagi masih bisa berbuat, ringankan beban mereka. Berbagilah untuk hal-hal kebaikan,” ujar Aipda Dian mengingat kembali pesan sang ayah.

Kepada penulis, Aipda Dian menceritakan awal mula ketertarikannya menggeluti kehidupan sosial di lingkungan sekitar. Ketika itu, tanpa sengaja ia menyaksikan suasana keramaian pada sebuah puskesmas yang terdapat di Kecamatan Lubuk Begalung yang merupakan wilayah kerjanya. Kebetulan ia punya teman yang bertugas sebagai tenaga medis dan ahli gizi di puskesmas setempat. Dari keterangan sahabat medisnya itu, Aipda Dian mengetahui kenyataan pahit di lingkungan tempat tinggalnya.

Betapa miris dan mencengangkan kenyataan dihadapannya. Bayangkan, di zaman yang sudah merdeka dan berjaya, masih ditemukan anak-anak kekurangan gizi dengan kondisi fisik yang memelas rasa iba. Ketidakberdayaan orang tua memberikan asupan gizi kepada buah hati, ibu-ibu hamil yang tidak sanggup membeli susu dan buah. Begitu pun lansia yang di sisa hidupnya merasa kesepian, hampa dan ditelantarkan orang terdekatnya.

Seketika tersulut niatnya untuk berbagi. Hal itu diutarakan langsung kepada sahabat medisnya, dr. Sari Ramadani. Gayung bersambut, niat baik Aipda Dian didukung penuh oleh dokter puskesmas itu.

Mulailah ayah tiga anak ini menyisihkan gaji dan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak yang mengalami gizi buruk, ibu hamil dari kelompok dhuafa, lansia atau janda miskin bahkan anak yatim piatu yang butuh biaya untuk melanjutkan sekolah.

“Untuk pemenuhan asupan gizi, Puskesmas Lubeg pada jadwal yang ditetapkan menyediakan makanan bergizi dan layanan kesehatan gratis bagi sasaran penerima bantuan. Di sini, disediakan makanan bergizi seperti lauk pauk, sayur dan buah. Juga ada susu buat balita, ibu hamil dan lansia. Kegiatan ini rutin dan menjadi berkah bagi kelompok dhuafa yang jarang menikmati menu sehat bergizi,” ungkap dr. Sari Ramadani, Kepala Puskesmas Lubuk Begalung pada Kamis, (26/6/2025).

Kini, anak-anak tidak lagi bersedih dan mengeluhkan sakit yang dirasakan, seperti diungkapkan Rahmat, bocah penderita gizi buruk.

Bungsu dari lima bersaudara ini sudah lama menderita gizi buruk. Menurut pengakuan sang ibu yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci, ia dan suaminya kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga. Ayah Rahmat bekerja sebagai pemulung dengan pendapatan yang tidak tetap dan minim. Jadinya, makanan yang dikosumsi sehari-hari pun ala kadarnya.

“Makasih om polisi (Aipda Dian), telah memberi kita makan enak dan bergizi,” ujar bocah berusia lima tahun itu.

Kini kondisi Rahmat dan anak lainnya telah berangsur pulih. Mereka sudah kembali beraktifitas, bermain ceria bersama teman sebaya. Hati ibu mana yang tidak bahagia, menyaksikan senyum di raut wajah si anak yang sebelumnya terkulai lemah, lesu dan tidak berdaya.

Selain fokus pada dunia kesehatan, Aipda Dian dalam aksi sosialnya juga menyasar kelurga kurang mampu yang terbelenggu masalah ekonomi.

“Tak kenal waktu, meski hujan sekali pun saya datangi rumah mereka untuk mengantar pangan atau sembako yang dibutuhkan. Saya dulunya juga orang susah dan paham kesulitan yang mereka alami. Susahnya menahan lapar, belum lagi kesedihan yang dirasakan seorang ibu, melihat anak-anaknya tidur dalam keadaan lapar. Semua sudah saya jalani,” ujarnya menitikkan air mata.

Panggilan berbuat baik, melayani dan mengayomi kepentingan masyarakat bukan sesuatu yang baru baginya. Hal itu sejalan dengan tanggungjawab yang diembankan negara kepadanya. Selaku anggota Polri yang siap mengabdikan diri kepada masyarakat.

Cita-cita Calon Perwira Bangun Sekolah Lansia

Sekian lama menggeluti dinamika sosial di lingkungannya, cita-cita mulia membangun sekolah lansia, akhirnya diwujudkan. Sekolah Lansia Banuaran, demikian sebutannya. Selaku pendiri dan pembina, Aipda Dian banyak meluangkan waktunya untuk pembangunan sekolah yang diharapkan dapat menampung hingga 100 lansia.

“Terenyuh hati setiap kali menyaksikan orang tua yang diakhir hayatnya hidup menderita tanpa perhatian orang terdekatnya. Untuk makan sehari-hari saja, mereka susah mendapatkannya. Bayangkan, di saat tenaga tidak lagi prima, mereka harus mencari makan dengan sisa tenaga yang dipaksakan. Tubuh renta semakin tidak terurus. Makanya, timbul niat saya mendirikan Sekolah Lansia yang nantinya menampung orang tua yang butuh perhatian, kasih saya yang tak mereka dapatkan dari keluarganya,” papar Aipda Dian dengan mata berkaca-kaca.

Beruntung niat baik dan keinginan Aipda Dian berbagi dan membahagiakan orang-orang di sekitarnya didukung para rekannya. Sekolah Lansia Banuaran resmi beroperasi melalui SK Camat Lubuk Begalung dan beranggotakan lansia dari berbagai daerah.

Layaknya sebuah sekolah, para lansia diajarkan bagaimana menjaga kesehatan, kebersihan diri di samping pentingnya kosumsi makanan bergizi seimbang untuk menjaga daya tahan tubuh.

Saat penulis bertandang ke Sekolah Lansia Banuaran, suasana haru menyelimuti kebersamaan yang terekam dalam bingkai nostalgia di hari tua. Tawa canda menyatu dalam suasana kebersamaan yang bagi sebagian lansia jarang mereka rasakan sebelumnya.

Nurma, lansia berusia 74 tahun ini terharu dan menitikkan air mata saat menelan bubur dari suapan tangan Aipda Dian.

“Saya bersyukur karena di usia yang setua ini, masih bisa merasakan kebersamaan dan perhatian orang-orang yang berjiwa tulus. Moga Allah membalas kebaikanmu nak,” ujar Nurma yang ketika itu langsung menumpahkan tangis bahagianya.

Ridho orang tua adalah ridhonya Allah. Begitulah, ketulusan Aipda Dian membantu sesama berbalas pahala dan sederet penghargaan yang terus ia raih karena kerja keras dan kelembutan hatinya.

Sepenggal kisah Aipda Dian mengajarkan setiap orang, pentingnya bersyukur dalam hidup. Berbagi dengan sesama tidak harus menunggu waktu kaya dan saat seseorang bergelimang harta. Begitu pun saat tangan diulurkan membantu sesama, siapa pun bisa melakukannya. Tidak harus mereka yang menjabat dan berpangkat. Sejatinya semua tergantung niat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....