Kepak Sayap Tanah Air Menguak Tabir Sejarah PDRI di Bandara Piobang
- 07 Mei 2025 13:44 WIB
- Padang
KBRN, Padang: Menguak situs sejarah masa lalu memang bukan perkara mudah. Apalagi sejarah yang sudah terkubur lama dan tenggelam dalam putaran masa. Dibutuhkan komitmen sekaligus kolaborasi utuh yang menyatukan visi dan misi anak-anak bangsa. Bagaimana menata kembali jejak yang terputus dalam hening yang menyimpan misteri. Akankah kisah terpenggal dari para pelaku sejarah dapat disatukan kembali dalam bingkai sejarah yang utuh. Berikut kita simak perjalanan penulis/jurnalis RRI Padang, Sri Darni pada Sabtu, (26/4/2025) ke Bandara Perintis Piobang yang berlokasi di Nagari Piobang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat yang dituangkan dalam sebuah karya jurnalistik.
Setelah menempuh perjalanan darat lebih kurang lima jam dari arah Kota Padang menuju Nagari Piobang, sampailah penulis pada situs sejarah yang dituju, yakni Bandara Perintis Piobang. Perjalanan yang cukup melelahkan karena harus melewati lembah, perbukitan dan lekuk nagari dengan setapak terjal yang kanan kirinya menganga jurang yang dalam. Suasana alam yang teduh menepis gamang yang kadang terlintas dalam pikiran penulis yang nyatanya baru pertama kali menapakkan kaki di bandara tua yang sarat nilai-nilai sejarah.
Konon kabarnya, bekas landasan yang kini tidak tertata, tempat mendaratnya pesawat Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) pertama, Mohammad Hatta pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) sedang bergejolak. PDRI berlangsung pada periode 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949 dipimpin langsung Syafruddin Prawiranegara yang juga berdarah Minangkabau.

Kondisi landasan pacu bandara perintis di Piobang yang tidak terurus, ditutupi rumput dan tanaman lain. (Foto: RRI/Sri Darni)
Jika menilik letak bandara, cukup strategis karena berada tidak jauh dari kawasan pemukiman warga. Akses jalan menuju lokasi masih berupa setapak, tanah berbatu yang belum diaspal. Pertama menginjakkan kaki di lokasi, ada perasaan ragu menyelinap di hati. Inikah bandara perintis yang tertera dalam buku sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia? Kondisi bandara tidak seperti yang dibayangkan. Sekeliling kawasan ditumbuhi pepohonan dan tanaman muda. Jika diamati, landasan pacu pesawat tidak dalam kondisi yang lazim.
Bayangkan, saat penulis mengayun langkah, mengarahkan pandangan ke landasan pacu, rumput dan tanaman liar merambat, menutupi sebagian landasan. Realita yang ditemui, seakan memupus kejayaan bandara tua di masa lalu.
Awal kaki melangkah masuk ke kawasan bandara, penulis berharap, akan bertemu puing-puing atau patok batu yang menjadi pertanda tempat ini dulunya pernah menjadi basis PDRI. Layaknya bandara, tentu dilengkapi fasilitas bangunan yang mendukung operasional penerbangan pada masa itu. Bahkan bisa jadi, di lokasi itu masih ditemukan bekas terowongan yang menjadi benteng pertahanan para pejuang PDRI.
Namun harapan tidak sesuai dengan realita yang terpampang di lapangan. Justeru kehadiran penulis di bandara tua Piobang hanya menyaksikan suasana perkebunan pada umumnya. Lantas kemanakah serpihan sejarah yang pernah tertuang di Bandara Piobang? Masihkan tersisa puing-puing sejarah yang menjadi bukti edukasi dari generasi ke generasi?
Lahan Edukasi Humanis Petani di Bandara Perintis
Selain hamparan lahan pertanian dengan aneka tanaman muda yang buahnya siap dipanen, pada bagian lain penulis menyaksikan aktifitas satu unit mesin alat berat yang ketika itu beroperasi pada sebidang lahan yang hanya berjarak beberapa meter dari Pos TNI AU Piobang. Deru mesin menyapa akrab alam sekitarnya, yang katakanlah selama puluhan tahun mengalirkan limpahan rezeki bagi para petani di daerah ini.
Warga yang tidak memiliki lahan untuk digarap, agaknya tak perlu berkecil hati. Jiwa peduli prajurit TNI AU yang dijuluki Sayap Tanah Air dalam setiap waktu, siap merangkul warga yang tidak memiliki lahan tani, sebagaimana disebutkan Wali Nagari Piobang, Darmisdarmisata yang ketika itu ikut mendampingi penulis menyisir area tani di bandara perintis.
Komunikasi dan kolaborasi TNI AU dengan masyarakat nagari telah mengalirkan banyak kontribusi dan hal-hal positif yang merubah kehidupan. Hal itu sejalan dengan asta cita Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto yang dengan gencarnya menggerakkan program ketahanan pangan di daerah.

Mendukung Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, lahan tidur di Bandara Piobang diberdayakan untuk aktifitas pertanian masyarakat sekitar. (Foto: RRI/Sri Darni)
“Alhamdulilllah, TNI AU dalam hal ini Lanud Sutan Sjahrir merangkul petani di nagari, memberdayakan lahan di kawasan bandara perintis untuk keperluan bercocok tanam, berladang ubi, jagung dan jenis tanaman muda lainnya. Alhasil, kegiatan pertanian yang berlangsung selama bertahun-tahun ini dimanfaatkan warga untuk menopang kebutuhan harian. Masa panen tanaman muda yang terbilang singkat justeru memberikan keluangan bagi petani yang dalam hal ini tidak perlu menunggu lama musim panen berikutnya. Dalam setahun, bisa tiga hingga empat kali masa panen,” paparnya sembari menunjukkan area tanam jagung petani yang terbagi dalam beberapa kelompok tani.
Hadirnya TNI AU di Nagari Piobang memberikan sentuhan dan kemudahan bagi warga. Petani yang tidak memiliki lahan pribadi, tetap bisa beraktifitas, bertahan hidup dengan memberdayakan aset negara seluas 32, 5 hektar itu jelang penggunaan lahan oleh pihak terkait.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya juga mengungkap rasa syukur. Menurut ibu tiga anak ini, hasil panen yang disisihkan dari usahanya menggarap lahan tani di bandara bersejarah itu, telah mengantar puluhan anak di desanya meraih cita-cita.
“Kerja keras di ladang nyatanya telah mengantarkan ketiga anak saya, menamatkan pendidikan di bangku perguruan tinggi. Dua anak saya sudah bekerja. Jagung dan ubi, itulah andalan saya menyekolahkan mereka. Terima kasih buat bapak-bapak TNI AU yang telah membimbing petani, memberi keleluasaan dan kemudahan menggarap lahan tani untuk bertahan hidup demi mewujudkan mimpi si buah hati,” tutur perempuan berusia 47 tahun ini.
Tidak saja dari segi ekonomi, keberadaan bandara perintis di Nagari Piobang nyatanya menjadi jembatan silahturrahmi antara warga dengan dunia luar. Meski namanya tidak sepopuler Bandara Internasional Minangkabau (BIM) atau pun Bandara Padang, namun jejak sejarah yang ditinggalkan mengingatkan memori setiap orang untuk selalu mengenang dan merawat nilai-nilai sejarah yang terkubur lama.
“Kami sering kedatangan tamu atau pun orang-orang dari luar. Mereka yang datang ke sini umumnya orang-orang yang peka dan peduli dengan sejarah perjuangan bangsa. Secara tidak langsung, warga di sini teredukasi dan termotivasi merawat serta melestarikan situs penerbangan bersejarah yang daerah lain tidak miliki,” papar Nesha, mahasiswa asal Piobang yang kini menekuni pendidikan pada salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Kota Padang.
Anak muda yang bercita-cita ingin membangun desa ini berujar, sejarah mewariskan nilai yang menjadikan manusia lebih matang dalam kehidupannya. Sejarah ibarat alarm yang mengingatkan manusia peka dan termotivasi melakukan hal terbaik dalam hidupnya.
“Sempat muncul wacana pengaktifan bandara perintis untuk keperluan mitigasi bencana. Wacana lainnya menyebutkan, di lokasi bersejarah itu akan dibangun rumah sakit dan terakhir rencana pembangunan SMK Taruna oleh pihak Kemenhan RI. Namun terlepas dari wacana dan rencana yang bergulir, warga di Nagari Piobang tentunya berharap, apa pun yang menjadi program pemerintah pusat, terutama dari pihak TNI AU, warga tetap mendukung sepenuhnya,” pungkas Nesha, si anak nagari yang memiliki kepdulian tinggi.
Konsep Humanis TNI AU Lestarikan Situs Sejarah Penerbangan di Piobang
Bandara Perintis Piobang, saksi bisu perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Dalam perjalanannya, PDRI tidak hanya terfokus pada satu nagari. Selain Koto Tinggi, tersebutlah nama Piobang, tempat mendaratnya pesawat yang ditumpangi Wakil Presiden Republik Indonesia, Moch. Hatta saat PDRI bergejolak di Sumatera Barat.
Kisah PDRI di Piobang memang tidak sepopuler PDRI di Nagari Koto Tinggi dan Situjuh Batua. Namun perlu diketahui, Bandara Perintis Piobang menyimpan sejarah panjang tentang perpindahan kepemimpinan bangsa dan menjadi sarana vital pendistribusian logistik pada masanya. Ketika itu, tidak memungkinkan menempuh jalur darat dengan kondisi akses jalan yang penuh risiko dan sarat ancaman. Musuh menyebar dimana-mana, mengincar keberadaan para pejuang PDRI.
Kondisi tersebut dipaparkan Danlanud Sutan Sjahrir, Kol. Nav. Sani Salman Nuryadin, Senin, (28/4/2025). Kepada penulis, Kol. Nav Sani Salman menegaskan, perlu merawat aset sejarah dengan cara humanis dan bijaksana. Aset negara terselamatkan dari kepunahan, namun tidak mengabaikan atau mengenyampingkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Tugas terlaksana, masyarakat hidup sejahtera.

Reporter RRI Padang (Sri Darni) dalam sesi wawancara dengan Danlanud Sutan Sjahrir, Kol. Nav. Sani Salman terkait pengamanan situs sejarah penerbangan di Piobang. (Foto: Kapentak Lanud St. Sjahrir)
“Kewajiban kita merawat dan melestarikan nilai-nilai sejarah karena sejarah tidak mungkin akan terulang. Kita sudah telusuri dan menyisir bandara perintis yang sarat nilai juang itu dengan mengamankan aset yang ada. Sesuai perintah dari komando atas, kita sudah melakukan sertifikasi lahan seluas 32,5 hektar untuk pengamanan aset negera ke depan. Alhamdulillah, semua berjalan lancar, tidak ada riak atau pun gejolak karena masing-masing pihak menyadari, pentingnya merawat situs sejarah yang baru ditemui dalam bentuk patok atau batu pembatas,” papar Danlanud Sutan Sajhrir, Kol. Nav. Sani Salman.
Selanjutnya dari pihak Lanud Sutan Sjahrir akan menyisir kawasan bersejarah karena diyakini, banyak hal yang belum terungkap dari bandara setempat. Layaknya sebuah bandara, meski dibangun pada masa penjajahan, tetap saja memiliki fasilitas yang mendukung operasi penerbangan, katakanlah dalam bentuk bangunan atau pos jaga, patok atau bisa saja berupa terowongan yang menjadi benteng pertahanan para pejuang pada masa itu.
“Itulah yang akan kita sisir satu per satu. Untuk saat ini baru ditemukan berupa patok atau pembatas. Kita berharap dukungan dari segenap pihak, termasuk masyarakat di Nagari Piobang. Kapan lagi jika tidak dimulai dari sekarang. Harapannya, peninggalan sejarah yang lama terkubur, terpendam dalam kesunyian dapat segera terungkap, terkuak ke permukaan,” ujarnya kepada penulis.
Pada aset yang telah disertifikasi dan dikuasai, TNI AU tetap memberi ruang bagi masyarakat melakukan berbagai aktifitas yang tentunya sejalan dengan program pemerintah, terutama menyesuaikan dengan asta cita Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
Cara humanis TNI AU menggandeng dan merangkul warga sekitar merupakan bagian dari tanggungjawab prajurit TNI yang sekaligus menjadi bukti nyata, besarnya perhatian negara terhadap rakyatnya.
Meski diamanahkan tugas dan tanggungjawab mengamankan situs penerbangan di Piobang, TNI AU tidak kaku dan kehabisan cara dalam upaya memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Selalu terbuka jalan untuk menuai kebaikan dengan cara-cara yang bijak. Bukan sekedar cerita, namun perwujudan nyata yang telah mengalirkan kontribusi bagi masyarakat sekitarnya.
“Sebuah pencapaian yang ditopang kinerja bersama dengan mengedepankan sisi humanis dalam menjalankan tugas operasi dan bentuk sinergi lainnya dengan masyarakat, sejalan dengan imbauan Kepala Staf TNI Angkatan Udara. Bagaimana merangkul warga, mengedukasinya agar mendukung program pusat, mengamankan aset bersejarah di Piobang. Ini tidak mudah, butuh pendekatan dengan cara-cara humanis, bijak dan senantiasa mendengarkan apa yang menjadi aspirasi masyarakat,” ungkapnya.
Sinergi TNI AU Wacanakan Bandara Piobang Jadi Cagar Budaya
Kebersamaan dan sikap humanis personil TNI AU menjadi cermin nyata kepedulian aparat terhadap masyarakat. Pola pendekatan yang merangkul berbagai kepentingan, memuluskan tekad untuk bersama menggiring wacana. Sudah selayaknya bandara bersejarah kebanggaan masyarakat Piobang mendapat perhatian sepenuhnya dari negara, sebagaimana penegasan yang disampaikan Pengamat Sejarah asal Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, Dedi Asmara.
“Jika perlu untuk mengingatkan memori kaum muda, di sini dibangun replika pesawat yang ditumpangi Wakil Presiden Republik Indonesia, Moch. Hatta atau bisa dalam bentuk monumen dan tugu sejarah PDRI di Piobang. Jika ini tidak segera dilakukan, saya yakin sejarah PDRI di Piobang perlahan tenggelam dipupus zaman. Piobang menghilang dalam kenangan. Buktinya sekarang boleh ditanya ke anak-anak tentang Bandara Piobang. Saya yakin, tidak banyak yang tahu bahkan generasi tua pun, samar akan hal itu,” papar Dedi yang juga dosen STKIP Abdi Payakumbuh ini.
Ini bukan salah mereka jelas Dedi. Menurutnya, negaralah yang dalam hal ini bersikap abai dan lengah. Negara belum mampu menunjukkan sikap professionalnya dalam pengamanan aset-aset bersejarah sehingga kelanjutannya, menimbulkan dilema yang mau tidak mau merugikan negara. Perlu evaluasi untuk pembahasan lebih rinci sehingga ke depan diharapkan tidak ada lagi secuil peradaban atau pun peninggalan sejarah yang terlewatkan dari perhatian negara.
Sebagai Pengamat Sejarah, Dedi menilai keberadaan situs penerbangan bersejarah di Nagari Piobang tidak banyak diketahui publik, bahkan buku sejarah yang mengungkap kisah PDRI di kenagarian setempat juga tidak membahas peristiwa tersebut secara detail. Bukan hal yang mengejutkan jika pengetahuan anak-anak bangsa akan situs pernebangan di Piobang masih dangkal atau terbatas. Hal itu disebabkan edukasi yang tidak menjamah sama sekali, disamping minimnya sosialisasi oleh pihak terkait.
Perlu komunikasi dua arah yang menjadi penyatu komitmen untuk bersama melestarikan nilai-nilai sejarah, salah satunya dengan membuka akses bagi pihak luar melakukan riset atau penelitian di lokasi bersejarah itu. Hal yang tidak kalah penting, sosialisasi dan edukasi sejarah tidak hanya dilakukan di lingkup pendidikan, namun menjamah warga dari nagari ke nagari.

Edukasi sejarah perlu diterapkan di lingkup nagari, salah satunya pengenalan sejarah yang dilakukan perangkat nagari di Piobang. (Foto: RRI/Sri Darni)
“Perangkat nagari bersinergi, mengedukasi warga agar mendukung upaya pemerintah dalam pelsetarian aset sejarah, terutama sejarah PDRI di Piobang. Upaya tersebut perlu dilakukan untuk kelancaran program yang kiranya menuntut sepenuhnya pemahaman dari masyarakat atau warga yang bermukim di sekitar situs sejarah,” ujar Dedi tegas.
Kecenderungan yang ditemui selama ini menyebutkan, edukasi dan sosialisasi seputar sejarah jarang dilakukan. Selaku Pengamat Sejarah, ia mendukung sikap tegas TNI AU, daalm hal ini Lanud Sutan Sjahrir yang berdasarkan perintah dari komando atas bertindak cepat mengamankan situs sejarah yang hampir punah.
“Pengamanan yang dilakukan aparat dari jajaran TNI AU adalah langkah tepat menguak benang merah sejarah PDRI di Piobang. Patok sejarah selanjutnya akan berbiacara tentang kenangan yang lama terkubur di sana. Sisa puing pun berujar tentang kehampaan yang dirasakan sekian lama. Sejarah bukan perkara meneliti apa yang ada, namun bagaimana merangkul kesadaraan anak-anak bangsa untuk menghargai peradaban atau peninggalan sejarah dalam wujud situs penerbangan berusia puluhan tahun yang sekaligus menjadi pengingat memori dari generasi ke generasi,” ungkap Dedi.
Perlu membuka diri untuk kemajuan negeri yang selayaknya menuntut apresiasi dan kontribusi berbagai pihak. Ada porsi dan andil masing-masing pihak membangun kolaborasi di berbagai lini, salah satunya keterbukaan aparat atau pemerintah dalam mengungkap kisah yang berselimut nilai-nilai sejarah.
“Saya selaku putra daerah asal Payakumbuh tentu berharap, situs penerbangan Bandara Piobang kelak menjadi sumber inspirasi bagi yang lainnya. Penting merawat dan melestarikan nilai-nilai sejarah. Sejatinya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan para pahlawannya. Seperti kutipan pidato Presiden Soekarno tentang Jasmerah. Jangan sekali –kali melupakan sejarah,” ungkapnya kepada RRI di akhir perbincangan.
Masyarakat Sumbar Dukung Wacana Pembangunan Monumen Bandara Piobang
Sejarah yang terpendam, jika tidak diungkap atau dirawat lambat laun akan tenggelam dan pupus dalam pusaran zaman. Penting mengedukasi generasi muda agar melek sejarah dan belajar dari nilai-nilai yang kerab terlupakan. Salah satu bentuk edukasi yang dapat mengingatkan orang akan sejarah masa lalu adalah dengan membangun monumen atau pun tugu juang yang mengisahkan perjuangan para pejuang pada masanya.
Wacana inilah yang ke depan akan dibahas dan dievaluasi untuk kepentingan edukasi sejarah kepada kaum muda Indonesia.
Bandara Piobang bukan sekedar warisan sejarah untuk generasi muda Sumatera Barat, namun nilai-nilai juang yang mesti diwariskan kepada seluruh generasi muda Indonesia. Dari sinilah, awal mula tonggak sejarah kemerdekaan Indonesia. Tanpa PDRI mustahil Indonesia masih berdiri kokoh hingga detik ini. Mereka anak-anak bangsa meski mengetahui sejarah lebih dalam lagi.
Pernyataan tersebut sebelumnya diulas Danlanud Sutan Sjahrir. Kol. Nav. Sani Salman yang selanjutnya mendapat dukungan dari masyarakat Sumatera Barat, diantaranya Ketua Lembaga Kerapatan Adat alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Prof. Fauzi Bahar.

Dakui, memang bukan hal yang mudah, membangun tonggak sejarah di lokasi yang belum semua orang mengetahui. Perlu evaluasi dan diskusi panjang karena ujung-ujungnya mengarah pada masalah pendanaan dan SDM yang akan terjun langsung pada bidang dimaksud. Harus ada penyamaan persepsi tentang sejarah yang nantinya dituangkan dalam bentuk karya nyata anak-anak bangsa.
Saat dikonfirmasi RRI, Prof. Fauzi Bahar yang juga Tokoh Masyarakat Sumatera Barat mengapresiasi wacana TNI AU membangun monumen sejarah PDRI di Piobang, tepatnya dalam kawasan bandara perintis tersebut.
“Ini contoh kemajuan pola berpikir anak-anak bangsa yang harus didukung penuh karena kalau bukan mereka, siapa lagi. Sejarah butuh orang-orang yang dengan tulus hati rela mengorbankan kepentingan pribadi demi kiprah kepada negeri. Saya mendukung dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada TNI AU selaku garda terdepan Sayap Tanah Air,” ungkap Fauzi Bahar dengan suara lantang.
Menurutnya, Sumatera Barat kaya akan sejarah dan memiliki riwayat sejarah yang cukup panjang. Banyak situas sejarah yang belum tergali, terkuak ke permukaan. Masing-masing daerah punya situs peninggalan sejarah dan ini membuktikan, masyarakat Sumatera Barat sejak zaman bergejolak, mendukung perjuangan Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.
Sumatera Barat melahirkan banyak tokoh nasional yang dengan sepenuh hati, mengabdikan hidup bahkan mempertaruhkan nyawanya demi mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Daerah ini sejak dulunya jelas Prof. Fauzi Bahar antipati terhadap kesewenangan penjajah sehingga tidak sejengkal pun tanah di Ranah Minang yang boleh dikuasai penjajah.
“Ketegasan sikap masyarakat Sumartera Barat terhadap kaum penjajah tidak pernah berubah, sejalan dengan besarnya rasa cinta kami terhadap para pejuang yang gugur sebagai bunga bangsa. Kami masyarakat Sumatera Barat mendukung sepenuhnya program TNI AU (Lanud Sutan Sjahrir) dalam pengamanan aset negara yang merujuk pada upaya pelestarian nilai-nilai termasuk situs penerbangan bersejarah di Bandara Piobang,” tegasnya.
Sejatinya, sejarah menurut mantan Walikota Padang ini adalah akar pemikiran yang senantiasa menuntun manusia siap melakukan perubahan demi pencapaian yang didasari fakta dan realita, bukan sekedar cerita. Dari sejarah, manusia bisa belajar, mengukur kekurangan dan kelebihannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....