Deru Langkah Anak Suku Pedalaman, Menyisir Iklim di Perairan

  • 09 Mar 2025 13:48 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Maria, gadis berusia 26 tahun ini tersenyum lega dengan toga yang masih terpasang di kepala. Selembar kertas berharga dengan sampul utuh berwarna biru muda, tak henti dipandanginya. Air mata gadis yang bertekad ingin memajukan tanah kelahirannya, Siberut Barat Daya tanpa disadari mengurai di sudut mata.

Empat tahun sudah ia berjuang demi cita-cita mulia, kelak bisa menamatkan pendidikan di perguruan tinggi yang telah memberinya bekal wawasan dan pengetahuan.

Keberhasilan Maria, si Anak Pulau nyatanya tidak diperoleh begitu saja. Berliku perjalanan yang dilalui anak kedua dari4 bersaudara ini. Untuk sampai ke perguruan tinggi, ia harus menjalani tahapan pendidikan mulai dari SD, SMP hingga bangku SMA yang kesemua itu menuntut kegigihan dan kesabaran yang tiada berbatas. Bayangkan untuk sampai ke sekolah, Maria dan teman-temannya setiap pagi berpacu dengan waktu. Dengan menggunakan rakit atau sampan kecil, ia berharap bisa sampai ke sekolah dengan selamat.

Demi sebuah tekad, katakanlah keinginan kuat merubah nasib, hujan badai pun dihadang. Tak peduli hantaman gelombang yang bakal menenggelamkan perahi kecil yang ditumpangi. Untuk sampai ke sekolah, Maria dan rekan sebaya berjuang keras agar bisa lolos dari sekapan maut.

Bahkan tak jarang, sebelum kaki menyacah pekarangan sekolah, seragam yang melekat di badan basah kuyup oleh air bergaram. Begitulah setiap periode waktu yang dilalui anak-anak pulau. Mereka harus bertahan dengan iklim di sekitarnya. Alamlah yang pada akhirnya menempa jiwa dan mental anak-anak itu menjadi pribadi yang kuat, tak kenal kata menyerah.

Kondisi alam menempa mental anak suku pedalaman bertahan dengan fenomena alam sekitarnya (Foto: Maria)

Seiring berjalannya waktu, Maria kecil kini tumbuh menjadi sosok perempuan mandiri dan berdikari. Keinginan membangun kampung makin kuat menyentak naluri. Betapa tidak, terbayangkan oleh Maria derita anak-anak di kampungnya yang setiap hari berjuang melawan cuaca yang kadang tidak bersahabat. Untuk sampai ke sekolah, mereka kadang harus melepas sepatu. Dengan kaki telanjang dan buku yang kondisinya kadang tak utuh lagi, mereka menjalani hari-hari penuh semangat.

Demi satu mata pelajaran yang tak ingin dilewatkan, anak-anak rela bertahan, belajar dengan menggunakan seragam yang basah kuyup diguyur hujan. Dingin menyeruak tulang hingga tiba waktunya jam pulang, pakaian yang dikenakan pun pada akhirnya mengering di badan. Begitulah potret pendidikan anak-anak di pulau terluar yang sarat dengan keterbatasan. Nasib mereka tidak seberuntung anak lainnya yang pada satu sisi, dilengkapi ketersediaan fasilitas pendidikan yang memadai.

“Apa daya, memang begitulah kondisinya. Anak-anak di Mentawai harus berjuang keras meraih masa depan. Menuntut ilmu butuh perjuangan panjang. Ibaratnya, untuk memperoleh pengetahuan, mereka harus gigih menjemputnya ke sekolah-sekolah yang lokasinya jauh di ujung pulau, kadang beda pulau. Inilah dilema yang memampang realita, termarjinalkannya hak anak bangsa mendapatkan pendidikan sewajarnya,” tutur gadis kelahiran 13 Maret 1999 ini kepada penulis.

Asa Maria Membangun Siberut Barat Daya

Siberut Barat Daya, negeri indah di ujung pulau dengan sumber daya alam yang melimpah. Dibutuhkan tangan-tangan terampil untuk mengolah kekayaan negeri yang dari potret pendidikan nyatanya masih menyimpan duka dan keprihatinan. Masih bisa dihitung dengan jari, anak-anak pulau yang dengan kegigihannya berhasil meraih mimpi. Mereka inilah yang diharapkan oleh generasi terdahulunya, bisa membawa perubahan dan kemajuan kampung halaman nantinya.

Tanggungjawab itulah yang mendorong Maria, lulusan UNES AAI Padang berniat secepatnya, menamatkan pendidikan di bangku perguruan tinggi dengan capaian nilai tertinggi. Ia tidak ingin mengecewakan generasi terdahulu dan saudara-saudaranya di kampung yang lama menunggu hadirnya. Jiwa pengabdian dalam diri Maria kian menyala. Terkenang seketika, kisah-kisah yang menginspirasinya untuk tidak berhenti berjuang, menata kampung yang tersudutkan dari segi kemajuan. Keinginan membangun tanah kelahiran, agaknya tak bisa lagi ditunda.

Usai menyandang gelar Sarjana, Maria segera bertolak ke Siberut Barat Daya. Perjalanannya kali ini diwarnai semangat yang membara. Ia tidak ingin lagi menyaksikan derita anak-anak pulau yang belajar dengan seragam basah. Nalurinya menjerit setiap kali menyaksikan siaran telivisi yang memampang ragam derita dan pertaruhan nyawa anak-anak Mentawai yang demi mengubah nasib dan peruntungan, setiap harinya bertaruh dalam hempasan gelombang maut. Belum lagi kecelakaan dan insiden perahu terbalik yang menghadang perjalanan anak-anak pulau saat badai berkecamuk di perairan. Kesemua itu menginspirasi Maria untuk melakukan hal terbaik bagi negeri tercinta.

Maria yang telah menyandang gelar Sarjana, mengabdi di tanah kelahirannya, Siberut.(Foto: Pribadi/Maria)

“Cukup saya yang merasakan derita dan pengalaman pahit itu. Ke depan, saya ingin mendirikan sekolah mandiri yang memudahkan anak-anak Mentawai, khususnya mereka yang di Siberut Barat Daya lebih leluasa mendapatkan akses pendidikan. Mereka tidak perlu jauh-jauh ke luar pulau, mencari sekolah dan guru yang akan mengajarnya. Saya siap membantu pendidikan anak-anak di tanah kelahiran, meski tidak digaji sama sekali,” ujarnya berlinang air mata.

Maria, generasi muda Mentawai yang memang diharapkan mampu menjadi pelindung dan pembawa perubahan bagi negerinya kelak. Masih teringat oleh gadis yang juga hobi menekuni seni ini, awal keberangkatannya meninggalkan Mentawai.

“Selain keluarga, saya diantar oleh kepala dusun, warga dan teman-teman yang berharap, sekembalinya nanti, saya bisa membawa keberhasilan dan kemajuan kehidupan warga di pulau terpencil. Terikrar janji dalam hati, niat untuk tidak berpaling dari tanah kelahiran. Saya ingin menciptakan perubahan nyata untuk kehidupan warga yang lebih baik tentunya. Bagaimana menciptakan suasana yang nyaman dan aman bagi anak dalam mengecap hak pendidikan dasar. Adapun iklim di daerah, tidak lagi menjadi batu sandungan bagi anak – anak pulau dalam mewujudkan cita-cita. Cukup sudah, kesemua itu mendera kehidupan warga di masa lampau, Untuk saat ini, saya sebagai bagian dari masyarakat Siberut Barat Daya ingin mempersembahkan bakti kepada negeri,” papar Maria kepada penulis saat ditemui di kediamannya, Selasa, (4/3/2025).

Iklim Tak Surutkan Semangat Anak Negeri Ukir Berprestasi

Kondisi cuaca pada masing-masing daerah tidaklah sama. Demikian halnya Kabupaten Kepulauan Mentawai yang memang memiliki keunikan iklim tersendiri. Cuaca pada daerah yang dijuluki Bumi Sikerei ini dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya kondisi arus laut di perairan.

Hal demikian jelas Maria, guru muda yang kini mulai membaktikan diri untuk kemajuan anak-anak negeri adalah anugerah yang mesti disyukuri. Jangan menjadikannya sebagai bumerang atau batu sandungan. Justeru, dari iklim manusia bisa banyak belajar tentang kehidupan. Bagaimana mengatasi rintangan yang menghadang langkah dengan selalu berpegang pada keyakinan, semangat untuk berusaha dan pantang menyerah.

“Bagaimana mengkondisikan iklim di sekitar kita, bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat, bisa mendatangkan hal – hal baru yang merubah keadaan menjadi lebih baik. Menghadirkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada,” ujar Maria sembari mengenang nostalgia masa kecil bersama ibunda tercinta.

Teringat olehnya nasehat dan saran bijak ibu kala itu, ketika Maria kecil bersikukuh pergi sekolah bersamaan gelombang laut tinggi disertai badai yang melanda perairan sekitarnya. Ibu menasehati Maria agar tidak keluar rumah, namun tetap beraktifitas seperti biasa dengan tidak mengurangi waktu belajar. Dengan buku seadanya, Maria belajar di rumah, membaca dan mengulang pelajaran- pelajaran sekolah.

Pelajaran berharga yang sampai detik ini tak pernah ia lupakan. Menurutnya, kegiatan belajar bisa dilakukan dimana saja, tergantung niat dan kemauan. Tidak harus memaksakan keadaan, apalagi iklim adalah kodrat alam yang tak bisa manusia pungkiri.

Hal itulah yang mendorong niat Maria, mewujudkan impian nyata. Kepada penulis, Maria menceritakan keinginan hatinya mendirikan sekolah mandiri. Sekolah ini menjadi alternatif sekaligus solusi bagi anak-anak yang pada kondisi badai atau keadaan tertentu tidak bisa menyeberang pulau. Sekolah mandiri yang diinisiasi Maria nantinya dapat menampung kebutuhan pendidikan anak secara keseluruhan.

“Untuk mewujudkan keinginan mulia ini, saya tidak sendiri. Ada keluarga yang selalu mendukung saya, teman seperjuangan dan mereka yang peduli dengan masa depan putra-putri Mentawai. Kita bersama berjuang, melepas jerat kebodohan dari negeri yang kaya ini. Apa yang tidak kita miliki, semua ada di sini. Dibutuhkan generasi handal, SDM yang mumpuni untuk mengolah sumber daya alam yang berlimpah ini,” tutur Maria dengan nada penuh semangat.

Sekolah Mandiri dan Seni, Inisiasi Guru yang Tak Bergaji

Bagi sebagian gadis seumuran Maria, hidup di kota besar dengan gaji memadai adalah impian yang ingin diwujudkan. Namun tidak bagi Maria. Pada awal kedatangannya ke Siberut Barat Daya usai menamatkan pendidikan Sarjana, ia sudah merancang bangunan sekolah mandiri yang bakal didirikan pada sebidang lahan kosong di samping hunian keluarganya.

Bangunan kayu berukuran 4 x 4 meter dengan dinding terbuka dan beratapkan daun ijuk itu menjadi saksi bisu perjuangan Maria dalam menuntaskan kebodohan di kampungnya. Anak –anak putus sekolah juga dirangkul serta, masuk wadah pendidikan informal yang juga menyasar generasi buta aksara.

Tanpa pamrih, Maria mengajar anak-anak yang datang kepadanya tanpa membawa selembar kertas, buku dan peralatan tulis lainya.

“Datang saja mereka ke sini, sudah membuat saya terharu dan bahagia. Itu artinya, mereka punya kemauan dan semangat untuk belajar. Sama halnya dengan niat saya yang ingin mengajar mereka tanpa memikirkan apa yang saya peroleh nantinya,” ungkap Maria.

Begitulah setiap harinya, di atas bangunan berlantai kayu itu, Maria dengan ketulusannya mengajar anak-anak di kampungnya. Sebagian buku bacaan dibawa Maria dari Padang. Anak-anak dari beberapa dusun mulai berdatangan ke sekolah mandiri yang Maria inisiasi. Meski tanpa mengenakan seragam sekolah, mereka belajar dengan penuh semangat.

Sekolah mandiri penuhi pendidikan anak-anak suku pedalaman dari berbagai kelompok usia. (Foto: Maria)

“Jika lagi ramai, saya pun agak kewalahan mengajarnya karena antusias mereka bertanya mengenai hal-hal yang tidak diketahui cukup tinggi. Namun saya mensyukuri keadaan ini. Hal itu menjadi bukti, keberadaan guru dan sekolah sangat dibutuhkan anak-anak pulau. Mereka juga ingin maju, layaknya generasi lain,” tutur Maria.

Tidak hanya fokus mengajar pada satu ruang, Maria juga melirik potensi lain di sekitarnya yakni keberadaan Uma atau rumah panggung trandisional suku Mentawai. Maria yang juga pecinta seni budaya kadang meluangkan waktunya, mengajar kesenian tradisional kepada anak-anak suku pedalaman.

Bagi Maria, belajar tidak harus menunggu kelengkapan fasilitas yang disediakan pemerintah atau pun negara. Justeru dari ketiadaan dan keterbatasan itulah, Maria memulai niat, bangkit menata tanah kelahirannya.

Sejak diberdayakan, Uma yang sebelumnya minim aktifitas, boleh dikatakan kini ramai pengunjung yang didominasi kalangan anak dan remaja yang memang berkeinginan menggali kesenian tradisional suku pedalaman.

Di rumah panggung tradisional itu, anak-anak Mentawai memperlihatkan kemampuannya menari demi lestarinya nilai-nilai budaya yang jika tidak dijaga akan terancam punah, ditenggelamkan oleh kemajuan yang lambat laun menyisihkan peradaban di sekitarnya.

“Hal itu tidak boleh terjadi. Peradaban adalah bagian dari alam yang telah membentuk kehidupan masyarakat suku Mentawai selama berabad-abad. Sebagai generasi penerus, tidak akan saya biarkan sejengkal pun tanah milik peradaban suku pedalaman yang tergerus oleh pengaruh luar. Budaya suku pedalaman akan tetap lestari sepanjang masa dan menjadi bagian kekayaan budaya nusantara, kebanggaan bangsa Indonesia,” paparnya.

`

Keleluasaan Anak Suku Pedalaman Mengecap Pendidikan

Meski keberadaan sekolah mandiri di Mentawai masih bisa dihitung dengan jari, namun apa yang diperbuat generasi peduli dunia penddikan telah menunjukkan sebuah percapaian. Anak-anak sudah bisa belajar dengan rasa nyaman, tanpa dibayangi-bayangi ketakutan akan perubahan iklim sesaat yang sewaktu-waktu mengancam keselamatan jiwa.

Saat badai melanda perairan, anak-anak tidak perlu memaksakan diri, menyeberang pulau untuk sampai ke sekolah. Sekolah mandiri menjadi solusi bagi anak tetap bisa beraktifitas dengan suasana belajar yang mungkin sedikit berbeda.

Sekolah mandiri inisiasi Maria membuka kesempatan belajar bagi setiap orang tanpa dibatasi usianya. Diakui anak perempuan satu-satunya ini, di Mentawai masih banyak ditemui remaja yang tidak bisa tulis baca.

Pada saat mereka sudah berkeluarga, betapa mirisnya kehidupan rumah tangga mereka. Bagaimana mungkin mereka bisa menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya, jika untuk keperluan tulis baca saja, mereka tak kuasai sama sekali. Pendidikan seperti apa yang bakal mereka berikan untuk keturunannya. Hal demikianlah yang mendorong Maria tidak pernah berhenti berinovasi untuk kemajuan masyarakat di negerinya.

“Sekolah mandiri yang saya inisiasi, menawarkan kesempatan belajar bagi setiap orang, termasuk ibu rumah tangga yang tidak bisa tulis baca. Mereka bisa memanfaatkan akses pendidikan informal yang saya buka. Intinya, tidak ada kata terlambat untuk sebuah proses pembelajaran yang memberi banyak nilai manfaat,” ujar Maria sembari tersenyum, menatap peserta didik di sekelilingnya.

Hal senada diungkapkan Mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mentawai dalam beberapa periode, Laurensius Saruruk. Menurutnya, Mentawai memiliki pesona alam yang menawan dengan peradaban budaya yang unik. Namun ke semua itu tak cukup kiranya menjadikan Mentawai, unggul dari segi pendidikan. Alam yang indah seakan berjalan sendiri, menyisakan potret generasi suku pedalaman yang abai dengan pendidikan dan masa depan diri.

Fasilitas pendidikan anak-anak suku pedalaman yang masih jauh dari kata layak. (Foto: Pemkab Mentawai)

Situasi demikian yang selama puluhan tahun diperjuangkan Laurensius Saruruk. Demi merubah potret pendidikan anak negeri ke arah yang lebih baik, tak jarang dalam kunjunganya ke desa atau pulau terpencil lainnya, Laurensius menyasar rumah-rumah yang anaknya masih dalam usia sekolah.

“Saya tanya langsung apa yang menjadi kendala anak-anak dalam bersekolah. Pada umumnya, orang tua anak menyebutkan lokasi sekolah yang jauh dari rumah tempat tinggal mereka. Parahnya, jika cuaca di perairan tidak bersahabat, orang tua khawatir melepas anak-anaknya pergi ke sekolah. Ujung-ujungnya bolos, demikian seterusnya hingga dinyatakan anak-anak itu putus komunikasi dengan pihak sekolah,” ungkap Laurensius saat dikonfirmasi penulis,” ujar mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mentawai, Minggu, (9/3/2025).

Tak jauh beda dengan apa yang disampaikan Laurensius Saruruk. Mantan Bupati Mentawai dua periode, Yudas Sabaggalet mengungkapkan kekhawatirannya, saat dirinya menjabat dulu. Selama sepuluh tahun, ia tak hentinya menerapkan sistem jemput bola kepada pelajar atau siswa yang terkendala transportasi menuju akses sekolah.

“Bebagai upaya saya lakukan demi pendidikan anak-anak pulau yang menurut saya punya potensi cukup besar. Bahkan guru pun saya minta untuk mendatangi peserta didik langsung ke rumahnya jika selama dalm proses pembelajaran, tidak menunjukkan beberapa kali kehadiran. Tak jarang guru bersangkutan berperahu dalam hitungan jam untuk sampai ke pulau yang dituju, tepatnya rumah peserta didik. Begitu ketatnya disiplin yang saya terapkan pada masa itu,” ungkap Yudas.

Mantan Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai dua kali periode, Yudas Sabaggalet (Foto: Pribadi/Yudas)

Hal yang bukan rahasia umum lagi, setiap generasi yang sudah berjuang mendapatkan pendidikan layak di luar Mentawai, Pemerintah Kabupaten Mentawai di bawah kepemimpinan Yudas langsung menuntun langkah mereka kembali ke negeri asalnya. Di kampung halamannya itu, Yudas berharap generasi muda tersebut dapat mengabdikan diri untuk kemajuan Mentawai, sejalan dengan apa yang dilakukan Maria saat ini.

“Anak-anak suku pedalaman yang mau mengabdi untuk kampungnya, kita beri fasilitas, demikian pula orang luar Mentawai yang ingin mengabdikan diri ke daerah pedalaman, juga kita fasilitasi dan layani dengan baik. Ketika itu, jarang ada orang luar yang mau mengabdi ke Mentawai untuk hitungan waktu yang tidak berbatas. Ujung-ujungnya, tidak sampai enam bulan, guru-gurtu honor sudah menangis minta pulang ke daerah asalnya. Begitu sulitnya mencari guru yang mau berkontribusi di Mentawai ketika itu,” kenang Yudas.

Baik Yudas Sabaggalet maupun Laurensius mengapresiasi langkah dan pilihan hidup Maria yang memilih mengabdi di kampung halaman, Siberut Barat Daya, Mentawai. Cita-cita luhur yang mesti didukung semua pihak. Pilihan hidup yang dikukuhkan Maria di sanubarinya, diakui Yudas bukan pilihan yang mudah.

Seusia Maria, umumnya masih terbuai dengan pesona dunia dan gemerlap kemewahan di luar sana. Jarang sekali ada sosok perempuan seperti Maria yang dengan ketulusannya mau menerima keterbatasan di sekitarnya. Bukti nyata yang memampang realita kehidupan tentang sosok gadis suku pedalaman yang lama merindukan kemajuan menyacah negeri tercinta, Siberut Barat Daya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....