Keajaiban Ramadhan dari Sepotong Daging Rendang

  • 28 Feb 2025 15:31 WIB
  •  Padang

KBRN, Padang: Aroma Rendang tercium dari celah-celah dinding dapur di belakang rumah. Seperti biasa, sehari jelang masuknya puasa Ramadhan, ibu- ibu di kampung sibuk memasak Rendang dan aneka hidangan. Kesibukan terpampang nyata, mulai dari dapur, ruang tamu hingga pekarangan rumah. Masing-masing terbenam dalam aktifitasnya, menyambut keberkahan bulan penuh ampunan.

Namun dibalik kesibukan itu, satu hal yang menarik perhatianku, sikap nenek yang tidak seperti biasanya. Sedari pagi kuperhatikan, ia bermenung di teras rumah, memandangi langit langit dan sesekali menghela nafas panjang. Sepertinya ada sesuatu yang menjadi beban pikiran perempuan setengah baya yang telah mengantarkan ke tujuh anaknya meniti gerbang cita-cita.

Tak ada yang mengira jika nenekku tipikal wanita mandiri yang dalam hidupnya tak mengenal kata menyerah. Demi menghidupi anak-anaknya, ia rela menjalani pekerjaan sebagai buruh cucian dari rumah ke rumah. Maklum, smenjak ditinggal kakek, nenek sudah tidak memiliki sumber penghasilan untuk menafkahi tujuh buah hatinya.

Singkat cerita, seberat apa pun perjuangan hidup yang dilalui, nenek tidak pernah mengangis atau pun menyerah. Baru kali ini, aku melihatnya begitu tertekan dalam beban yang tak pernah ia ungkapkan.

Seberat apakah masalah yang nenekku hadapi saat ini hingga ia kulihat begitu terbebani? Selama ini aku mengenal sosok perempuan berusia 83 tahun itu sebagai pribadi yang mandiri dan penuh semangat.

***

Azan Zuhur berkumandang dari sebuah mushala yang tak jauh dari kediaman. Nenek tiba-tiba bangkit dari duduknya, dengan sedikit langkah terhuyung ia menuju parit kecil di sebelah rumah. Air yang mengalir di parit itu lumayan jernih, hingga membuat orang – orang di sekitar memilih pergi ke parit untuk sejumlah keperluan, termasuk nenek yang tujuannya untuk mengambil air wudhuk.

Begitulah sehari-hari aktifitas nenekku. Ia termasuk sosok yang disiplin dalam hal ibadah. Pemikiran itulah yang selalu ia tanamkan kepada tujuh anaknya, termasuk aku yang merupakan cucu sulung dalam garis keturunan nenek.

Siang berlalu begitu syahdu. Semilir angin perbukitan menyapa alam sekitar rumahku yang hanya berjarak sekitar 3 kilometer dari kaki gunung. Usai dari mushala, nenekku seperti biasa menghabiskan waktunya sambal berzikir di balai-balai bambu, sembari menatapi hamparan hijau persawahan yang mengitari rumah kayu berhalaman luas itu.

Tergerak hatiku untuk menghampiri nenek yang kala itu duduk dengan posisi yang terlihat lebih santai. Benar saja, nenek ternyata sudah mengetahui niatku. Tanpa basa-basi lagi, aku langsung menanyakan perihal perubahan sikap nenek dalam beberapa hari terakhir jelang Ramadhan. Sebelum menjawab pertanyaanku, nenek menghela nafas panjang. Aku menunggu dengan sabar.

“Nenek terkenang akan seseorang yang lama tidak nenek jelang. Dimana saudaraku itu sekarang, apa ia masih hidup,” ujar nenek dengan suara bergetar.

“Siapakah orang yang nenek maksudkan,” tanyaku.

Nenek tidak pernah cerita jika selama ini ia punya saudara perempuan yang lama tak pernah dijumpai. Terakhir mereka bertemu di Solok, saat ada pertemuan dan pengajian yang melibatkan seluruh anggota keluarga bersuku Koto.

“Kejadian itu sudah sangat lama, terakhir nenek bertemu dengan Utari saat ibumu masih berseragam SMA,” papar nenek kepadaku.

Perhitungan waktu yang sangat jauh, artinya pertemuan itu terjadi puluhan tahun yang silam. Namun mengapa nenek baru mengingatnya sekarang, bahkan membuatnya seperti tertekan dalam beban yang baru sekarang ia ungkapkan.

“Cucuku, nenek ingin sekali bertemu Utari di Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan ini. “Maukah kamu bantu nenek, Cu?

Aku tersentak dan langsung mengangguk. Jujur, aku tak ingin mengecewakan nenek. Keluarga ini telah banyak membantuku. Meski, aku bukan cucu kandungnya, namun perempuan setengah baya ini memperlakukan aku sama seperti cucu kandungnya, tak pernah ada perbedaan dalam sikapnya.

“Lantas, bagaimana caranya aku membantu nenek,” tanyaku berbalik.

Tiba-tiba nenek membisikkan sesuatu di telingaku. Sepertinya, ia sudah mempersiapkan sebuah rencana untuk bisa bertemu saudara yang telah lama menghilang. Aku menyetujuinya dan menunggu saat itu tiba.

***

Sebagaimana janjiku kepada nenek, siang itu aku bertolak ke sebuah kampung di Kabupaten Solok. Menurut nenek, saudara perempuannya itu sudah lama menetap di sana. Alamat yang diberikan nenek, kujadikan pegangan dalam pencarianku. Sebelum berangkat, aku berdoa, semoga Allah membantu perjuanganku, memenuhi keinginan nenek.

Sesampai di kampung yang dituju, aku tidak lantas mencari alamat yang ditulis nenek di atas kertas kecil itu. Aku singgah ke sebuah surau, kebetulan aku belum menunaikan salat Asar. Usai menunaikan ibadah, hatiku terasa lebih nyaman dan tenteram.

Kebetulan tidak jauh dari tempatku salat, seorang ibu yang tidak lain pengurus surau masih bertahan di sana. Aku langsung menghampirinya dan menanyakan perihal alamat yang kucari.

Si ibu memandangiku cukup lama dan bertanya.

Ananda ini siapanya Mak Utari?

“Saya keluarganya dari Padang. Saya ingin bertemu beliau untuk sebuah pesan yang disampaikan nenek,” ujarku.

Ibu itu tidak langsung menjawab. Ia masih memandangiku dan bertanya lagi.

Tahukah ananda seperti apa kondisi orang dicari?

Aku langsung menggelang karena jujur aku juga tidak mengetahui seperti apa wajah perempuan yang menjadi saudara dari nenekku.

“Baiklah, ibu akan mengantar kamu nak,” ujar si ibu bernama Yati itu.

***

Ternyata rumah Mak Utari tidak bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Bu Yati langsung mengantar aku menggunakan kendaraan roda dua miliknya. Dalam hati aku sangat bersyukur, dipertemukan dengan orng baik seperti ibu ini.

“Terima kasih ya Allah sudah memuluskan langkahku,” doaku dalam hati.

Perjalanan yang kutempuh bersama bu Yati memang lumayan panjang karena harus melalui area persawahan dan kebun milik warga. Sesekali kami melewati setapak kecil berupa pematang sawah yang tanahnya sudah dikeraskan.

Hampir setengah jam perjalanan ke lokasi yang dituju dan sampailah kami pada sebuah gubuk.

Bu Yati menghentikan laju kendaraannya. Gubuk dengan kondisinya yang sudah reot terpampang di sebuah area persawahan milik warga. Ukurannya 3 x 3 meter dan di sekelilingnya dipenuhi tumpukan barang bekas seperti kemasan minuman, kardus dan aneka barang bekas yang terbuat dari plastik.

Dalam hati, aku mereka-reka, rumah siapakah ini. Tanpa menunggu lagi, bu Yati mengisyaratkan aku untuk segera masuk ke gubuk itu. Smbil mengucapkan salam, bu Yati mengetuk pintu kayu di depannya. Tiga kali ketukan, tidak ada seorang pun yang menyahutnya.

Sempat ada kekhawatiran, jika si pemilik gubuk tidak di tempat ketika itu. Namun bu Yati tidak menyerah, ia mengetuk pintu gubuk sembari mengucapkan salam.

Tiba-tiba ada sahutan darui dalam gubuk yang diiringi suara batuk seorang perempuan yang kureka usianya tak jauh beda dengan nenekku. Benar saja, dari dalam gubuk muncul seraut wajah yang sudah dipenuhi keriput. Ia memegang dadanya yang seakan tak berhenti menuai rasa sakit yang teramat dalam.

“Ada apa ibu mencari saya,” tanyanya kepada bu Yati dan setelah itu ia mengalihkan pandangan ke arahku.

“Oh ya Mak, saya datang bersama anak ini. Ia jauh-jauh datang dari Padang, tujuannya untuk menyampaikan sebuah pesan kepada Mak Utari,” papar bu Yati.

Pesan apakah itu nak? Rasanya Mak tidak punya saudara di Padang.

Tak sabaran, aku langsung mengeluarkan foto nenek ketika masih muda. foto sekitar tiga puluh tahun silam. Foto nenekku bersama saudara perempuan yang kuyakini itu pastilah Mak Utari. Di masa muda, keduanya memiliki paras yang cantik.

Saat foto itu kuperlihatkan, Mak Utari terkejut dan langsung menyibakkan tanganku.

“Sudah, pergilah nak, Mak tidak ingin selamanya bertemu dengannya,” teriak Mak Utari yang ketika itu langsung membelakangiku.

Aku menangis dan langsung bersimpuh di kaki perempuan setengah baya itu.

“Mak maafkan sikap nenek. Ia sangat menyesal dengan kejadian itu. Seandainya waktu bisa diputar kembali, nenek tidak menginginkan peristiwa itu terjadi. Aku mohon Mak, maafkan nenek,” ujarku memohon.

Mak Utari tetap dengan pendiriannya. Ia bersikukuh dengan alasannya, tidak akan memaafkan nenek. Baru kusadari, mungkin beban inilah yang membuat nenek akhir-akhir ini merasa bersalah dan tertekan.

Sebagai seseorang yang telah menjadi bagian dalam keluarga itu, aku tentu tidak ingin mengecewakan orang baik yang telah merawatku sejak kecil. Aku ingin membalas kebaikan dan ketulusan mereka dengan caraku.

***

Malam mulai merangkak, aku masih bertahan di gubuk itu, sementara bu Yati yang menemaniku siang tadi, sudah lebih dulu kembali ke rumahnya.

Tiba-tiba pintu gubuk kembali terbuka setelah beberapa jam ditutup dari dalam. Aku terkejut, Mak Utari muncul dengan penampilannya yang terlihat rapi dari sebelumnya. Aku menoleh padanya, tidak percaya dengan apa yang kulihat ketika itu.

Belum sempat aku bertanya, Mak Utari menarik tanganku pelan sambil berujar, Ayo kita temui nenekmu. Mak sudah memaafkannya.

“Allah terima kasih telah memuluskan langkahku,,” ujarku dalam hati.

Jika Allah berkehendak, tidak butuh waktu baginya membalikkan hati manusia. Aku membayangkan betapa bahagianya nenek saat bertemu saudaranya. Orang yang dirindukan, namun lama tidak dipertemukan karena sebuah keadaan.

Sepanjang perjalanan, kami bercerita dan ternyata Mak Utari tipe orang yang ceria, punya semangat tinggi, sama seperti nenekku. Perpisahan mereka selama puluhan semata didasari keadaan yang belum memberi ruang bagi mereka untuk saling membuka diri. Alhamdulillah, Allah telah menunjukkan kuasaNya yang demikian besar di bulan penuh ampunan ini.

Hanya butuh waktu perjalanan sekitar dua jam lebih, mobil yang kukendarai memasuki jantung Kota Padang. Sekitar tiga puluh menit lagi, aku dan Mak Utari sampai di rumah nenek yang beralamat di Lubuak Minturun. Perkampungan indah yang berada di lingkup Kota Padang, namun posisinya agak kepinggiran kota.

Sepanjang perjalanan Mak Utari melepas pandangannya. Terbersit rasa rindu yang teramat dalam pada ranah yang lama tak dijelang. Sungguh perpisahan yang menyakitkan, namun siapa sangka, Allah membukakan jalan bagi mereka, bisa bersua di usia yang sudah merapat senja.

Benar perkiraanku, setengah jam kemudian mobil Sigra berwarna silver yang kukendarai memasuki halaman rumah nenek. Wajah tegang mulai memampang di raut muka Mak Utari. Sepertinya ia masih mengenali rumah kayu yang sudah berusia puluhan tahun itu.

“Mak Utari yang tenang ya. Percaya sama aku, nenek sudah menunggu Mak di dalam,” ujarku meyakinkan kegelisahan yang terpmpang di raut wajah tua itu.

“Ayolah kita masuk Mak,”ajakku sambil memapah tubuh tua itu.

Benar saja, di beranda dalam rumah, tubuh tua terbaring lemah.

Tubuh dengan mukena yang masih dikenakan itu, terbaring di atas sebuah kasur.

Aku terpaku dan tak sanggup menahan kesedihan kala menatap tubuh tua yang tak berdaya itu.

“Nek, bangunlah, coba lihat siapa yang bersamaku,” ujarku lirih membangunkan nenek.

Nenek perlahan membuka kedua matanya, dan saat pandangannya tertuju pada seseorang di sebelahku, ia langsung duduk dan merangkulnya.

“Utari, maafkan Uni dik. Uni yang salah hingga membuatmu menderita sekian lama. Uni tidak mau mati dalam penyesalan. Maafkan Unimu ini dik,” tutur nenek penuh penyesalan.

“Uni tidak salah, akulah yang terlalu keras kepala hingga tidak mempercayai kebenaran yang Uni sampaikan kala itu. Mata hatiku tertutup karena rasa iri dan cemburu. Akulah adik durhaka yang telah menerima karma itu,” lirih terdengar suara Mak Utari.

Cukup lama dua bersaudara itu saling berangkulan, melepas rasa rindu yang memuncak. Tanpa kusadari bening pun menitik di sudut mataku.

Terima kasih ya Allah sudah mempertemukan dua bersaudara yang lama terpisahkan ini. Moga berkah Ramadhan menyinari hati dua kakak beradik ini.

***

Karena lelah sehabis menempuh perjalanan yang lumayan panjang, aku tertidur cukup lama di bilik. Tanpa kusadari ,pagi kulewatkan begitu saja. Matahari perlahan mulai meninggi, aku bangkit dari pembaringan.

Riuh suara diiringi candaan terdengar di sudut ruangan. Aku mencari sumber suara itu, ternyata asalnya dari dapur tua di belakang rumah. Lagi-lagi tercium aroma Rendang yang kali ini berbeda dari aroma sebelumnya. Wanginya luar biasa. Sesekali terdengar bunyian khas sendok besi berbentur dengan kuali. Ternyata, dua perempuan setengah baya asik merendang di dapur tua yang banyak mwenyimpan kenangan dan cerita.

Ramadhan, esoknya akan menjelang. Persiapan menyambut datangnya bulan suci terasa demikian bermakna. Raut wajah orang yang kukasihi tak lagi menampakkan beban yang tak berkesudahan. Begitu juga dengan Mak Utari. Ia tak henti tersenyum, merangkul saudaranya itu.

Di dapur tua, keduanya asik berbagi cerita dan pengalaman terdahulu, bagaimana meracit bumbu Rendang yang gurih dan nikmat. Rendang yang dimasak dengan hati yang bersih, tak ada lagi beban dan kesedihan di hati dua kakak beradik itu.

Tibalah waktu yang dinantikan, nenek memanggilkan untuk sebuah perjalanan mulia di bulan penuh berkah.

“Rencananya Rendang ini akan nenek bagikan pada sahur pertama Ramadhan, untuk para mustahiq. Banyak cara untuk berbagi atau pun berzakat di bulan penuh keberkahan ini. Mudah-mudahan, keajaiban zakat selalu menerangi hati kita untuk tidak melupakan saudara-saudara yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan,” ujar nenek penuh ketulusan.

Ramadhan Menyatukan Hati dalam Kebersamaan

Keajaiban cahaya Ramadhan agaknya bukan sekedar kata-kata manis yang dirangkai dalam sebuah kalimat. Terbukti, Ramadhan kali ini, memberi keteduhan yang sangat berarti bagi keluarga besarku, terutama nenek yang puluhan tahun dipisahkan dari saudara kandungnya.

Entah bagaimana cara Allah membalikkan hati dua insan yang memegang teguh prinsipnya masing-masing. Untuk sekian lama, satu sama lain, tak ada yang mau mengalah dan entah mengapa, di Ramadhan tahun ini, Allah membukakan hati keduanya.

Cahaya Ramadhan bersinar terang, menerangi hati insannya yang mau membuka diri untuk sebuah kealfaan yang pernah diperbuat di masa lalu.

Pagi menjelang sahur, aku membantu nenek dan saudaranya mengemas makanan kotak untuk sahur pada mustahiq. Ada ratusan kotak makanan berisikan Rendang yang diracik tangan orang-orang yang kukasihi. Rendang itu akan menjadi makanan pembuka sahur pertama di Ramadhan penuh berkah.

Indahnya berbagi di bulan Ramadhan, mengalirkan keberkahan kepada setiap orang. Momen indah yang menyatukan kebersamaan dan rasa keadilan bagi setiap insan. (Foto: Baznas)

Setelah semuanya selesai dikemas,. Ratusan porsi Rendang itu kubawa berkeliling kampung. Nenek dan Mak Utari juga ikut bersamaku membagikan Rendang kepada orang-orang selayaknya merasakan suasana berbagi di momen spesial ini.

Air mataku menitik kala menyaksikan perjuangan dua perempuan yang di usia tuanya tetap menebar senyuman dengan dua tangan yang selalu terbuka untuk berbagi dengan sesama. Aku bangga dan bersyukur, diberi kesempatan mengenal sosok bijak yang dalam kehidupannya tak mengenal kata menyerah.

Sepahit apa pun jalan hidup yang mereka lalui dan seberat apa pun beban yang menggelayut dalam pikiran, tak membuat mereka lupa satu kata indah itu, berbagi.

Sahur perdana, kulewati bersama dua sosok perempuan bijak itu. Setiap kotak makanan yang dibagikan, disambut doa dan kalimat syukur dari mereka yang menerima manfaat zakat. Sungguh indah kebersamaan yang terajut ketika itu, meski hanya melalui sepotong daging Rendang pembuka sahur perdana Ramadhan 1446 H.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....