Memupuk Harapan, Menyambung Rantai Pangan Pascaerupsi Marapi
- 27 Feb 2025 17:23 WIB
- Padang
KBRN, Padang: Cuaca di Nagari Sungai Jambu, Kabupaten Tanah Datar siang itu sangat bersahabat. Kumpulan awan di Januari, membuat matahari tidak terasa terik. Afrinaldi salah satu petani bawang merah di Nagari Sungai Jambu terlihat berdiri di hamparan lahan seluas 600 meter persegi. Daun bawang menghijau, tegak berdiri lebih kurang 20 centimeter.
Ia baru saja selesai menyemai pupuk bersama dua rekannya. Kegiatan itu sekaligus untuk memastikan bawang yang ditanamnya tiga pekan lalu terus tumbuh.
“Yang ditabur ini pupuk NPK Phonska. Dapat jatah subsidi. Pupuk ini kami tabur kalau bawang sudah usia 20 sampai 25 hari. Gunanya supaya pertumbuhan bawang dan hasil umbinya lebat dan bagus,” ujarnya saat ditemui RRI, Jumat (24/1/2025).
Sembari menapakkan kaki menuju pematang, Afrialdi yang karib dipanggil Yal ini mengaku, sempat menderita kerugian besar saat banjir bandang lahar dingin Gunung Marapi menerjang lahan pertanian warga pada Mei 2024 lalu. Sawah tertimbun material erupsi, dam irigasi jebol merendam lahan warga. Namun kondisi pahit itu tidak membuatnya larut.
Bagi Yal, cangkul harus diayunkan lagi supaya rugi tidak semakin dalam. Apalagi bawang merah di Nagari Jambu ini akan diproses menjadi benih untuk dikirim memenuhi pesanan dari petani bawang merah di kabupaten tetangga.
“Saat bencana, waduh. Bawang sudah mau panen terendam semuanya. Tidak kepikiran menghitung ruginya, malah sakit kepala kalau dihitung-hitung. Setelah bencana saya mulai menanam lagi. Soalnya sudah banyak yang pesan benih bawang merah. Kalau tidak segera menanam, tambah kacau. Rantai produksi bawang merah bisa putus. Lagipula kalau tidak menanam, kami juga tidak ada pemasukan lagi,” tutur pria 52 tahun ini.
Yal mengaku, punya seperempat hektar lahan, yang selama ini ditanami bawang merah. Hasil panen keseluruhan mencapai 3 ton. Namun saat ini belum bisa ditanam serentak, melainkan bergiliran, istilah kampungnya batikai-tikai.
“Lahan saya ada lima petak. Dulu saya tanamnya serentak. Pascabencana tidak mungkin langsung tanam seluruhnya karena lahan harus dirapikan lagi. Kalau menunggu seluruhnya lama, habis pula tenaga. Sekarang yang di ujung saya tanam dulu. Kalau sudah akan panen, baru saya tanam di petak sebelahnya,” ucapnya sembari mengelap keringat di keningnya.
Yal membeberkan, mulai menanam kembali bawang merah pada bulan September 2024 setelah mendapat kabar pasokan pupuk sudah normal kembali.
“Sempat tiga bulan tidak menanam. Saya bersihkan lahan, tapi belum bisa digarap karena irigasi terganggu, pupuk juga sempat terkendala pengirimannya. Untungnya, sejak Agustus 2024 dapat kabar pasokan pupuk sudah aman, saya memutuskan segera menanam lagi. Dalam kondisi darurat, kebutuhan air saya ambil dari sungai pakai pompa bantuan Dinas Pertanian Kabupaten Tanah Datar,” katanya.
Bawang yang ditanam itu pun telah tumbuh dengan baik. Kemudian dipanen pada Desember 2024. Yal lantas melanjutkan menanam di petak lahan berikutnya dengan perkiraan panen pada awal April mendatang. Sesuai umurnya, dua bulan 15 hari dihitung dari awal menanam.
Ia optimistis, bisa kembali secara berkelanjutan karena tidak ada lagi kendala yang serius. Apalagi pupuk sudah bisa ditebus setiap waktu.
“Kebutuhan air sudah aman, meski darurat. Pupuk juga lancar. Apalagi tahun ini ternyata sudah bisa ditebus sejak awal tahun. Kelompok saya dapat jatah 3 karung untuk urea, lalu NPK 4 karung. Sudah saya tebus satu karung di kios awal bulan. Nebusnya bawa KTP saja, tunjukkan ke kios. Dari situ tahu pula kita dapat jatah berapa,” ujarnya.
Yal merupakan Ketua Kelompok Tani Borneo Sakato, yang sudah menanam bawang merah sejak 2019 lalu. Hasilnya tidak dijual ke pasaran untuk konsumsi rumahtangga. Produksinya ditangkar menjadi benih. Bahkan benih yang dihasilkan sudah mengantongi sertifikasi dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih. Produknya diberi nama "Sumbu Marapi" akronim dari Sungai Jambu Marapi.
"Produksi benih ini untuk memenuhi kebutuhan tanam bawang merah di kabupaten tetangga, seperti Limapuluh Kota dan Agam. Permintaan masih di dalam Sumatera Barat. Kami masih perlu tempat dan alat pengeringan atau para-para yang lebih besar untuk bisa produksi lebih cepat," bebernya.
Pupuk Lancar, Bisa Ditebus Awal Tahun

Distribusi pupuk bersubsidi (Dok: RRI)
Imbas bencana erupsi Gunung Marapi juga dirasakan dalam penyaluran pupuk bersubsidi ke daerah. Akun eksekutif Pupuk Indonesia wilayah Sumatera Barat, Zulkarnaini mengaku, distribusi pupuk ke wilayah Provinsi Sumatera Barat bagian utara juga sempat terganggu karena putusnya jalan nasional Padang menuju Kota Padang Panjang. Pengiriman pupuk ke Kota Padang Panjang, Agam, Tanah Datar, dan kabupaten sekitarnya terkendala.
“Dari gudang Pupuk Indonesia menuju gudang distributor terganggu. Lalu penyaluran dari lini distributor ke pengecer juga terkendala,” ucapnya saat ditemui RRI Padang, Senin (27/1/2025).
Beragam upaya dilakukan agar pupuk bisa sampai ke lokasi petani. Salahsatunya menempuh jalur alternatif, dengan rute memutar dan jarak tempuh lebih panjang. Ditambah lagi macet yang tidak terhindarkan.
“Jalur utama putus, akses transportasi lumpuh. Tapi kami minta distributor tetap mengupayakan mengirim lewat jalur Kabupaten Solok. Namanya juga kondisi darurat, semua kendaraan lewat situ, antrean panjang,” ujarnya.
Kabar baik datang, pada awal Agustus, jalan utama yang sempat terban berangsur bisa dilewati karena perbaikan hampir rampung. Distribusi pupuk kembali normal. Namun Zul menjelaskan, serapan pupuk bersubsidi belum optimal. Kendalanya, lahan pertanian warga sebagian masih tertimbun material banjir lahar dingin.
“Walaupun distribusinya sudah lancar, tapi petaninya terkendala lahan. Belum seluruh lahan bisa ditanami. Jadi wajar serapan pupuk belum optimal,” ujarnya.
Pada 2024 alokasi pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Tanah Datar sebanyak 12.024 ton untuk jenis urea dengan realisasi penebusan 43 persen. Kemudian NPK jatahnya 13.308, terserap 58 persen. Sementara pupuk formula khusus 88 ton, realisasinya 1 persen.
Namun pada 2025, Zulkarnaini memastikan alokasi pupuk subsidi lebih cepat dan mudah ditebus petani sejak awal tahun. Sebab segala keperluan administrasi telah dituntaskan pada akhir 2024 lalu. Berbeda dengan beberapa tahun silam, penyaluran baru bisa dilakukan pada bulan Februari.
“Kalau tahun-tahun sebelumnya di awal tahun, baru menuntaskan alokasi. Mulai tahun 2025, usulan dan administrasi tuntas dikerjakan pada akhir tahun 2024 sehingga per 1 Januari petani sudah bisa menebus pupuk,” ucapnya.
Hal itu dibuktikan dengan data serapan pupuk bersubsidi pada Januari 2025 di Kabupaten Tanah Datar yang mencapai 4 persen atau 481 ton untuk jenis urea. Kemudian 5 persen atau 687 ton untuk jenis NPK.

Data alokasi dan serapan pupuk bersubsidi per kabupaten/kota di Sumatera Barat (Sumber: Pupuk Indonesia Wilayah Sumatera Barat)
Zul juga memastikan, peluang penyelewengan kuota pupuk bersubsidi sudah ditutup rapat. Sebab tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi telah menerapkan digitalisasi. Namanya aplikasinya iPubers. Melalui digitalisasi ini, jelas dan transparan siapa penerima dan jumlah pupuk yang diterima.
“Petani datang ke kios bawa KTP, lalu dipindai. Kalau nomor induknya tidak terdata otomatis tidak bisa menebus. Jika ada jatahnya, petani bisa menebus. Petani menandatangani bukti transaksi di layar ponsel. Semua terdata, transaksi tidak bisa dimanipulasi,” tuturnya.

Penerapan iPubers saat penebusan pupuk bersubsidi. (Foto: Pupuk Indonesia)
Tidak hanya di tingkat pengecer, lanjut Zul, melalui iPubers pergerakan pupuk bersubsidi dari distributor ke pengecer juga terlacak. Berapa yang dikirim distributor dicocokkan dengan jumlah yang sampai ke pengecer, harus akurat.
Bersama Memulihkan Pertanian Pascaerupsi Marapi
Gunung Marapi dengan tinggi 2.844 meter di atas permukaan laut, berdiri kokoh di dua daerah di Provinsi Sumatera Barat, yakni Kabupaten Tanah Datar dan Agam. Namun pada akhir tahun 2023 lalu, Marapi mengalami erupsi besar. Bencana itu memicu rentetan bencana lainnya, yakni banjir lahar dingin pada Mei 2024 menerjang wilayah yang dialiri sungai yang berhulu dari Gunung Marapi. Tercatat 42 orang di Kabupaten Tanah Datar meninggal dunia. Dampak lainnya, sejumlah rumah, sekolah, dan fasilitas umum rusak. Jalan nasional terban, jembatan putus, lahan pertanian rusak, saluran irigasi jebol.
Dalam kondisi darurat bencana yang dialami, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tanah Datar, Sri Mulyani mengapresiasi bantuan cepat dari berbagai pihak terus mengalir ke Kabupaten Tanah Datar. Salahsatunya dari Pupuk Indonesia. Pada Senin (10/6/2025), truk bantuan pangan dari Pupuk Indonesia datang. Diantar langsung Wakil Direktur Utama Pupuk Indonesia, Gusrizal dan Wakil Ketua Perkumpulan Istri Karyawan PT Pupuk Indonesia (PIKA-PI) Grup, Rina Gusrizal. Sepuluh ton beras dengan nilai Rp154 juta diturunkan, uang tunai Rp25 juta dikucurkan.
“Bantuan pangan saat kondisi darurat sangat dibutuhkan. Jangankan memikirkan bertanam, saat itu petani juga kesulitan bahan pangan. Beruntung bantuan bertubi-tubi datang,” ujarnya pada RRI, Jumat (24/1/2025).

Wakil Direktur Utama Pupuk Indonesia, Gusrizal menyerahkan secara simbolis bantuan pangan untuk korban terdampak banjir lahar dingin Gunung Marapi Kabupaten Tanah Datar, Senin (10/6/2024). Bantuan diterima langsung Bupati Tanah Datar, Eka Putra. (Foto: PT Pupuk Indonesia)
Setelah mampu melalui kondisi darurat selama 28 hari, pemerintah daerah mulai melakukan penataan. Sri Mulyani menyebut, lahan pertanian yang rusak akibat banjir lahar dingin Marapi mencapai 511 hektar.
"Sebagian yang terdampak merupakan pertanian padi dan hortikultura. Kami sudah identifikasi lahan yang rusak. Lalu gerak cepat kami lapor ke pusat untuk meminta bantuan," ucapnya.
Hasilnya, Kementerian Pertanian mengucurkan bantuan untuk mereklamasi lahan yang terdampak banjir bandang lahar dingin. Kemudian bantuan benih, pupuk, hingga mengirim pompa air untuk menanggulangi suplai air ke sawah karena rusaknya saluran irigasi.
"Sudah ada 113 unit pompa air yang diserahkan pada kelompok tani, khususnya bagi petani sawah tadah hujan dan yang irigasinya rusak,” ujarnya.
Semua upaya dilakukan, ucap Sri, demi keberlanjutan pertanian di Tanah Datar. Sebab kabupaten ini merupakan penyangga pangan untuk provinsi Sumatera Barat. Bahkan juga memasok untuk kabupaten/kota di provinsi tetangga, seperti Kota Pekanbaru Provinsi Riau, Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau. Kemudian Kota Jambi, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Muaro Bungo di Provinsi Jambi.
Dengan kondisi itu, tidak heran Kabupaten Tanah Datar sudah 5 kali berturut-turut menjadi daerah dengan label mampu mengendalikan inflasi dengan baik melalui penggelolaan produksi sektor pertanian yang terukur. Bahkan tercatat menjadi yang terbaik di Pulau Sumatera.
Menurut Sri, dalam memastikan keberlanjutan pertanian di Tanah Datar, Pupuk Indonesia punya andil besar melalui pasokan pupuk bersubsidi. Tahun ini, 12.024 ton pupuk urea disediakan untuk petani,13.308 ton jenis NPK, dan 88 ton formula khusus.
Harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi juga sesuai aturan. Jenis urea dibanderol Rp2.250 per kilogram. NPK dijual Rp2.300 per kilogram, dan NPK formula Rp3.300 per kilogram.
“Kami di daerah tentu ikut mengawasi penyaluran pupuk ini. Apalagi soal harga, jangan sampai ada permainan oknum,” tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....