BTN Wujudkan Impian MBR, Nikmati Fasilitas Hunian Ramah Bernilai Ekonomi
- 15 Feb 2025 15:15 WIB
- Padang
KBRN, Padang: Masih teringat dalam memori, kehidupan keluargaku saat masih menempati sebuah hunian di perkampungan padat penghuni. Hunian sederhana berdinding bambu dengan sebagian atapnya terbuat dari daun rumbia. Rumah yang hanya dibatasi sekat kayu triplek itu nyatanya telah memberikan kontribusi yang begitu besar terhadap kehidupan keluargaku, terutama aku yang memang sedari kecil termotivasi ingin memiliki rumah layak huni dengan kondisi alam sekitar yang nyaman, rindang dan asri.
Mimpi masa kecil yang dilatarbelakangi realita, betapa peliknya menjalani kehidupan di perkampungan yang kondisi lingkungannya tidak didukung ketersediaan fasilitas MCK dan sistem sanitasi yang memadai. Kondisi rumah yang berdempat – dempet cenderung memunculkan rasa jenuh. Suasana perkampungan yang ricuh ikut mempengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat yang pasrah begitu saja menerima kenyataan hidupnya.

Potret perkampungan padat penghuni yang berlokasi pada salah satu sudut Kota Padang.(Foto: RRI/Sri Darni)
Namun hal itu tidak berlaku dalam pandangan keluargaku. Sebagai sulung dari tiga bersaudara, aku terus berjuang, berupaya menata kehidupan keluargaku ke arah yang lebih baik. Meski terseok-seok, kedua orang tuaku yang bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan tetap berupaya memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya, terutama dalam hal pendidkan.
Usai menamatkan pendidikan di bangku perguruan tinggi, aku diterima bekerja pada salah satu perusahaan media di kota kelahiranku. Padang, Sumatera Barat. Alhasil, pendapatan bekerja selama beberapa tahun kusisihkan demi mimpi bisa menempati rumah impian bersama keluarga tercinta. Selagi kedua orang tua masih ada, aku ingin berbagi dengan mereka. Setidaknya di sisa kehidupan mereka, kedua orang tuaku bisa merasakan tinggal di rumah yang layak dan nyaman.
Tuhan mengabulkan doaku. tahun 2018 aku mendapatkan kabar gembira dari salah seorang rekan sekantor. Salah satu perbankan milik pemerintah, Bank Tabungan Negara (BTN) membidik penyaluran KPR 750 ribu rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Gayung bersambut, aku yang mendengar kabar itu langsung menyambutnya dengan gembira. Betapa tidak, impianku memiliki hunian yang layak segera akan menjadi kenyataan. Tanpa menunggu lama, aku segera berkonsultasi dengan perbankan setempat dan memenuhi kelengkapan persyarataan yang diminta petugas perbankan.
Tidak berselang lama, pengajuan kredit rumah bersubsidi diterima pihak perbankan. Kabar bahagia itu disambut dengan penuh suka cita oleh anggota keluargaku, terutama ayah yang tak pernah berhenti berdoa untuk kebahagiaan anak-anaknya.
“Kami bersyukur karena mendapatkan kesempatan memiliki rumah impian dengan sistem pembayaran yang nilainya terjangkau dan tidak memberatkan. Mungkin belum semua dari masyarakat yang mendapatkan kesempatan itu. Tapi setidaknya sebagai masyarakat dan nasabah kita harus bersyukur. Pemerintah melalui perbankan terpilih terus berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia untuk memiliki hunian yang layak dengan sistem pembayaran cicilan yang terjangkau saku pula,” ujar ibu sembari mengucapkan rasa syukur.
Rumah Bersubsidi Membuka Peluang Nasabah Bertransaksi Ekonomi
Untuk saat ini, Program Tiga Juta Rumah yang digulirkan BTN melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) nyatanya memang terbukti meringankan masyarakat, terutama mereka yang selama ini menempati rumah kontrakan/sewa dengan biaya yang lumayan mengorak saku. Sebagian pendapatan bulanan kadang terkuras untuk membayar sewa kontrakan. Sementara rumah yang ditempati sampai kapan pun tak kunjung bisa mereka miliki secara pribadi.
Dengan konsep pembvayaran sewa berkelanjutan namun pada satu sisi tidak menjanjikan masa depan, sebagian masyarakat beralih pandangan dengan membidik program unggulan yang digulirkan pihak perbankan yakni KPR.
Tia, ibu rumah tangga yang sudah puluhan tahun menyewa kontrakan pada salah satu kawasan padat penghuni di Kota Padang mengaku jenuh dengan situasi tersebut.
“KPR BTN memberikan banyak kemudahan kepada nasabah, terutama masyarakat dengan nilai pendapatan rendah. Mimpi rasanya beli rumah dengan uang tunai. Ratusan juta mana bisa. Tapi dengan adanya KPR yang digulirkan BTN melalui Program Tiga Juta Rumah, nasabah bisa mewujudkan mimpinya, memiliki hunian yang layak dengan cicilan yang terjangkau,” ungkap ibu satu anak yang mulai merintis usaha jahitan di rumah impiannya.
Program rumah bersubsidi yang digulirkan perbankan milik pemerintah layaknya KPR BTN memang memberikan keleluasaan dan peluang ekonomi bagi nasabah. Terbukti, usaha jahit yang dirintis Tia berkembang dengamn pesatnya. Di rumah yang baru ditempatinya itu, Tia berjuang keras mengasilkan karya dan kreasi lainnya.
“Suasana rumah yang nyaman dengan lingkungan yang asri ikut mempengaruhi pola pikir penghuni rumah dalam menghasilkan kreasi seni dan karya bernilai ekonomi yang pada satu sisi berdampak terhadap peningkatan ekonomi keluarga. Dulu di rumah kontrakan yang berada di perkampungan padat penghuni, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kondisi rumah yang berdempet menutup peluang bisa berusaha dengan nyaman,” tutur perempuan kelahiran 1980 yang kini sibuk melayani orderan jahit dari para pelanggan.
Di rumah barunya yang terletak di Anak Aia, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Tia kini lebih leluasa melayani para pelanggan. Akses ke perumahan sudah tertata dengan baik. Begitu pun fasilitas pendukung seperti transportasi dan infrastruktur jalan, semua sudah disiapkan secara matang. Tak ada lagi alasan yang menyebutkan keberadaan rumah bersubsidi yang sulit dijangkau akses transportasi. Semua sudah ditata dan dikelola dengan baik sehingga kelanjutannya membuka berbagai peluang untuk penghuni rumah bisa mengoptimalkan potensi ekonomi di sekitarnya. Usaha jahit yang dirintis Tia, nasabah KPR BTN salah satu contohnya.
Potret Miris Kehidupan Nelayan yang Dibidik Program Tiga Juta Rumah
Menempati hunian di perkampungan padat penghuni, tentunya menuntut banyak kesabaran. Bagaimana tidak, dengan kondisi hunian yang tidak nyaman akan berpengaruh pada perilaku penghuni di sekitarnya, seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan, selokan yang tidak terurus dan sederet persoalan lingkungan yang berimbas pada kualitas kesehatan orang-orang yang bermukim di perkampungan setempat.
Tidak berlebihan jika fakta riil yang terpantau setiap harinya menjadi fokus perhatian pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan upaya pelestarian lingkungan. Kondisi semraut dengan sistem sanitasi yang tergolong memprihatinkan terpantau pada salah satu perkampungan nelayan di Kota Padang.
Di perkampungan padat penghuni ini, warga menjalani hari-hari apa adanya. Kualitas kesehatan tidak lagi menjadi ukuran untuk mewujudkan keluarga yang sehat. Justeru perhatian mereka lebih terfokus pada upaya memenuhi kebutuhan makan setiap hari. Maklumlah yang berdomisili di perkampungan ini rata rata nelayan yang menafkahi keluarganya dari hasil melaut sehari-hari, sebagaimana keluhan yang disampaikan Udin Tajuak, warga Puruih, Kota Padang.

Pantai Purus, salah satu perkampungan nelayan padat penghuni dengan sederet permasalahan lingkungan yang menjadi target Program Tiga Juta Rumah. (Foto: Antara)
“Tapaso batahan di hunian sarupo iko ni, dek karano kemampuan nan indak mamadai (Terpaksa bertahan di hunian yang seperti ini, dikarenakan kemampuan yang tidak memadai),” ungkapnya saat penulis mendatangi huniannya.
Berlatar belakang keadaan tersebut, pemerintah menggulirkan Program Tiga Juta Rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang di dalamnya termasuk nelayan yang menempati perkampungan padat penghuni.
Hidup di perkampungan nelayan memang tidak senyaman menempati hunian dengan tata kelola lingkungan yang sudah terkonsep secara matang. Hal itu dirasakan oleh Mirah, pegawai salah satu instansi pemerintahan di Kota Padang. Selama puluhan tahun, Mirah dan keluarganya menempati rumah di sebuah perkampungan nelayan yang padat penghuni.
Sejauh itu, boleh dikatakan ia dan keluarganya jarang menikmati akses pelayanan kesehatan yang memadai. Untuk sampai ke rumahnya, petugas harus melewati gang-gang sempit dengan susunan rumah yang tidak tertata. Belum lagi bau selokan, tempat pembuangan air kotoran yang letaknya tidak beraturan. Bau busuk menyengat penciuman dan menimbulkan rasa tidak nyaman orang yang datang berkunjung ke perkampungan tersebut.
Namun seiring berjalannya waktu, Mirah yang sudah memiliki kemandiran secara ekonomi mulai berupaya menata kehidupannya. Program rumah bersubsidi yang digulirkan perbankan milik pemerintah segara dimanfaatkan Mirah.
Tidak butuh waktu lama untuk pengurusan KPR, Mirah pun memboyong keluarganya menempati hunian nyaman bersubsidi. Hari - harinya makin berwarna karena di rumah impiannya itu, Mirah dapat merealisasikan hobinya bertanam bunga dan jenis tanaman bermanfaat lainnya.
“Di sini saya memiliki kelebihan lahan yang dapat diberdayakan sebagai ruang hidup, apotek hidup. Selain bermanfaat bagi keluarga, juga berdaya bagi lingkungan sekitar. Rumah bersubsidi memberi peluang bagi penghuni untuk ikut mendukung program peemrintah dalam pelestarian lingkungan. Bagaimana menciptakan suasana rumah yang nyaman dan ramah lingkungan. Semua itu dapat diwujudkan melalui Program Tiga Juta Rumah yang diinisiasi BTN, perbankan yang telah mewujudkan mimpi jutaan masyarakat memiliki rumah impian dengan subsidi yang meringankan,” papar Mirah yang telah setahun lebih menempati rumah barunya di Lubuak Minturun, Kota Padang.
Ketika Program Tiga Juta Rumah Menjelajah Ranah Minang
Branch Manager BTN Cabang Padang, Sudaryanto kepada RRI, Kamis, (13/2/2025) menegaskan, Program Tiga Juta Rumah yang digulirkan pemerintahan Prabowo Subianto membuka kesempatan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dapat segera menikmati kenyamanan rumah bersubsidi. Di Ranah Minang, masih ditemui warga yang menempati perkampungan kumuh tidak layak huni yang sesungguhnya merupakan target prioritas Program tIga Juta Rumah.
Perlu sosialisasi dan edukasi kepada warga atau nasabah penerima manfaat program untuk mengoptimalkan program tersebut. Pemerintah dalam hal ini telah mengkonsep sedemikian rupa agar penerima manfaat yang umumnya bermata pencarian sebagai petani, nelayan dan buruh dapat menikmati program rumah bersubsidi itu.

Branch Manager BTN Cabang Padang, Sudaryanto. (Foto: Humas BTN Cabang Padang)
“Untuk Sumatera Barat realisasi KPR Subsidi BTN tahun 2024 sebanyak 1.628 unit. Dari segi efisiensi, rumah bersubsidi yang diprogram pemerintah memiliki banyak kelebihan, diantaranya harga jual dan uang muka relatif terjangkau, cicilan ringan dengan tenor lebih panjang, syarat pengajuannya juga mudah, rumah siap huni dan minim resiko gagal bangunan karena langsung diawasi oleh pemerintah,” jelas Sudaryanto.
Menyinggung tentang komitmen BTN dalam penyediaan akses KPR Subsidi, Sudaryanto menambahkan BTN dalam hal ini memberikan dukungan penuh kepada developer untuk pembiayaan perumahan berupa kredit properti. Hal demikian terangkum dalam salah satu misi BTN tahun 2025 yakni menjadi mitra utama pemerintah dalam inklusi perumahan dan keuangan.
Sejauh program berjalan, menyapu daerah-daerah yang menjadi target perhatian pemerintah, Program Tiga Juta Rumah nyatanya telah memberi dampak positif pada sektor properti dan ekonomi nasional. Penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya beli sebagai dampak atau multiplierefek terhadap 181 sektor yang terkait dengan properti. Selain itu, program juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan dan memenuhi kebutuhan penting masyarakat akan rumah layak huni dengan kondisi lingkungan yang nyaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....