Konsep Ekonomi Sirkular Bank Mandiri di Lahan Bekas Tambang
- 12 Jan 2025 15:11 WIB
- Padang
KBRN, Padang: Siang itu, aktifitas warga di Jorong Ipuh, Nagari Muaro, Kabupaten Sijunjung berjalan seperti biasanya. Warga yang sudah lima tahun terakhir ini tidak lagi bekerja di tambang-tambang ilegal, menggantungkan kehidupannya pada usaha peternakan. Lumayanlah hasilnya untuk pemula. Dari hasil keringat berkeramba ikan ini, mereka bisa menafkahi keluarganya.
Abrar, salah satunya. Lelaki berusia 49 tahun ini tampak asik memberi makan ikan pada masing-masing petak keramba miliknya. Awalnya, ia tidak begitu yakin, usaha yang dirintis pada lahan bekas tambang mampu menggulirkan rupiah nyata bagi keluarganya. Dalam pemikirannya, lahan bekas tambang tidak bisa lagi berproduksi, apalagi untuk usaha perikanan yang tentu membutuhkan air dengan kualitas tertentu. Sementara aliran air yang digunakan untuk merintis budidaya ikan keramba berhulu dari Sawahlunto yang nota bene merupakan tempat pencucian batu bara.

Abrar, bekas penambang yang kini beralih menjadi pelaku usaha budidaya ikan keramba di lokasi bekas tambang, Kabupaten Sijunjung. (Foto: Kodim 0310/SSD).
“Awalnya saya memang sempat ragu karena lahan yang saya gunakan untuk budidaya ikan keramba ini dulunya bekas lahan tambang. Bagaimana mungkin ikan-ikan itu bisa hidup jika air yang menjadi sumber kehidupannya masih terkontaminasi aktifitas tambang yakni pencuvian batu bara. Namun kekhawatiran saya perlahan pupus karena adanya masukan dan arahan dari pihak –pihak yang punya solusi ketika itu,” ujar Abrar.
Satu keramba ia bangun, dan mulailah ikan-ikan itu hidup di dalam keramba. Untuk menetralisir air sungai yang mengalir di area bekas tambang, ia menggunakan formula unggulan Bios 44 yang terbukti mampu menetralisir kadar asam air sehingga iakan-ikan bisa hidup dan berkembang biak lebih cepat.
Kini keresahan itu telah sirna. Justeru warga antusias untuk terus mengembangkan usaha budidaya ikan keramba di sepanjang aliran sungai yang dulunya bekas area tambang batu bara. Jumlah keramba ikan terus bertambah di Jorong Ipuh, Nagari Muaro, Kabupaten Sijunjung.
Bahkan warga di kenagarian setempat pun telah membentuk komunitas ikan keramba untuk meningkatkan pendapatan. Afdal, Ketua Komunitas Ikan Keramba Ujung Pulau mengatakan, jumlah peternak ikan terus bertambah dari waktu ke waktu. Hal demikian menurutnya pertanda baik yang akan menggiring kehidupan warga menjadi lebih sejahtera.
“Warga dulunya sempat pesimis saat tambang-tambang itu awalnya ditutup. Terpikirkan, mau dikasih makan apa anak-anak kami, terus biaya sekolahnya bagaimana. Namun Tuhan Maha Adil dan Bijaksana. Tambang ditutup, potensi ekonomi lainnya pun terbuka seketika,” papar Afdal sembari tersenyum optimis.
Bangun Negeri dengan Konsep Ekonomi Sirkular
Jika menilik kondisi kehidupan warga di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat tempo dulu, pada umumnya warga bergantung hidup dari aktifitas tambang yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Dari nenek moyang hingga keturunan selanjutnya menyangkutkan periuk berasnya dari hasil tambang yang mereka peroleh setiap harinya. Begitu kuatnya pengaruh lahan tambang terhadap keberlangsungan hidup warga di daerah yang dijuluki Nagari Lansek Manieh itu.
Namun seiring berjalannya waktu, kerusakan demi kerusakan terpampang nyata di lahan bekas area tambang tersebut. Persoalan lingkungan mengambang seketika ke permukaan, seiring dampak dan risiko vatal lainnya yang tiap sebentar terekspos di berbagai media. Kepedulian insan mulai dipertanyakan, sebab jika aktifitas tambang tak segera diredam, dampaknya terhadap lingkungan justeru makin vatal.
Kajian dan evaluasi mulai dilakukan, tentang bagaimana cara memberdayakan area tambang agar tetap berproduksi meningkatkan pendapatan warga di sekitarnya Jika hal itu dibiarkan begitu saja, sama artinya mencetak petaka di depan mata.
Hingga muncullah ide kreatif dari Letjen Kunto Arief Wibowo yang dulunya adalah mantan Danrem 032 Wirabraja. Kunto Arief Wibowo menawarkan penggunaan Bios 44 kepada warga yang berdomisili di daerah bekas area tambang. Uji coba pun dilakukan pada beberapa lahan bekas tambang dan hasilnya di luar prediksi warga yang sebelumnya beranggapan lahan bekas tambang sama sekali tak bisa digunakan untuk kegiatan produksi selanjutnya.

Konsep ekonomi sirkular yang diterapkan di daerah bekas tambang Sijunjung ternyata mampu menghidupkan ekonomi masyarakat daerah. (Foto: Kodim SSD)
“Dari sinilah semuanya dimulai, warga yang telah melihat hasil nyata itu tertarik memberdayakan kembali area bekas tambang dengan membuka usaha budidaya ikan keramba. Selain di area bekas tambang, penggunaan Bios 44 pun telah digunakan di kawasan Danau Maninjau yang mengalami sedimentasi dan formula ini juga terbukti mampu meningkatkan produksi padi para petani di daerah,” ungkap Kunto.
Lahan bekas tambang yang sebelumnya hanya dianggurin, tidak dijamah oleh warga, kini telah dilirik potensinya. Ekonomi masyarakat kini menggeliat dalam wujud lain. Aktifitas tambang telah berganti dengan budidaya ikan keramba yang pada satu sisi tidak berisiko buruk bagi lingkungan. Ekonomi masyarakat menggeliat namun tidak mengabaikan factor lingkungan. Usaha yang dikembangkan bersifat ramah lingkungan dan tetap mengoptimalkan sumber daya di sekitarnya.
Bank Mandiri Melalui CSR, Giring Ekonomi Sirkular Ramah Lingkungan
Selaku perbankan yang punya konsep kuat menjaga keberlanjutan lingkungan, eksistensi Bank Mandiri tentu tidak diragukan lagi. Sederet prestasi dan apresiasi untuk kinerja yang telah diperbuat bagi negeri, sebagaimana diungkapkan Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan tentang capaian perbankan selama tahun 2024.
Hal yang tidak kalah penting dari semua program yang sudah digulirkan perbankan milik pemerintah yang didirikan tanggal 2 Oktober 1998 adalah program yang menyasar pada lingkungan. Terbukti, CSR yang telah direalisasikan memberikan dampak positif bagi masyarakat di berbagai daerah, termasuk pelosok-pelosok negeri yang sebelumnya tidak terjamah sama sekali.
Saat bencana erupsi Gunung Marapi dan banjir bandang melanda sejumlah daerah di Bumi Andalas, perbankan ini langsung turun tangan dan berkontribusi membantu penanganan korban bencana di nagari-nagari terdampak erupsi dan banjir.

“Kami sangat berterima kasih untuk kontribusi berbagai pihak yang pada saat bencana langsung menunjukkan sikap pedulinya, termasuk perbankan milik pemerintah, Bank Mandiri misalnya yang ketika itu perwakilannya langsung mendatangi lokasi bencana,’ ungkap Walinagari Bukiek Batabuah, Firdaus.
Menurutnya kontribusi perbankan dalam membantu penanganan kebencanaan, hal prioritas yang sangat dibutuhkan warga ketika itu. Dalam kondisi genting itu, apa pun bantuan yang disalurkan, tentu akan sangat berarti nilainya bagi warga terdampak bencana.
Senada dengan ungkapan terima kasih yang disampaikan Ningsih. Ibu dua anak ini masih mengingat kontribusi Bank Mandiri di daerah yang ketika bencana langsung beraksi.
“Saat bencana, kami tak memikirkan apa-apa lagi. Menyelamatkan diri dengan baju yang hanya melekat di badan. Harta danuang tak terpikirkan lagi. Usai bencana, perut terasa lapar, Alhamdulillah Bank Mandiri turun ke daerah membagikan sembako dan makanan siap saji untuk mengisi perut anak-anak kami yang ketika itu mulai mengeluhkan lapar dan haus.,” terangnya.
Begitu besarnya perhatian pemerintah khususnya perbankan yang mengelola CSR untuk kepentingan masyarakat. Tidak berlebihan jika sekiranya perbankan yang sudah berusia puluhan tahun ini mendapat apresiasi dari masyarakat.
Kontribusi yang tak ada henti untuk negeri, menjadikan Bank Mandiri selaku perbankan yang tetap komit merenda silahturahmi dengan masyarakat di berbagai penjuru negeri. Eksistensinya mengalir ke semua lini, tidak hanya fokus pada program yang merujuk pada tanggungjawab sosial, namun juga memberi ruang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan eksistensinya menjadi wirausaha muda mandiri.
Pacu Kinerja dalam Bilik Wirausaha Muda Mandiri
Rasanya tidak berlebihan jika Indri, pengrajin sulam asal Payakumbuh ini bercita-cita kelak bisa mengembangkan usahanya ke level yang lebih mapan dan bergengsi. Perempuan dua anak ini, awalnya merintis usaha dari nol, hanya bermodalkan uang senilai tiga ratus ribu rupiah.
Namun Tuhan punya kuasa di atas segala. Kegigihan Indri pada akhirnya berbuah manis. Usahanya perlahan mulai dikenal, dari kota ke kota, bahkan menembus sekat provinsi. Hingga suatu ketika datanglah tawaran baginya berpromosi usaha ke Jakarta.
“Dulunya saya berpikir, sulit untuk mendaptkan peluang bisa berpromosi produk ke kota besar, apalagi ikut dalam program Wirausaha Muda Mandiri (WMM). Saya terus berusaha, meningkatkan kinerja, mengembangkan kreasi dan ternyata tidak sia-sia. Kesempatan itu datang pada saya,” tuturnya.
Indri, salah seorang pengrajin daerah yang awal berkarya hanya untuk keinginan sederhana, menghidupi keluarga. Namun seiring berjalannya waktu, berkembangnya teknologi di berbagai lini, keinginan sederhana berubah menjadi pemikiran yang lebih riil.
“Tak sekedar memenuhi tuntutan biaya hidup, saya bercita-cita kelak, karya – karya yang saya hasilkan bisa dinikmati masyarakat dunia karena sulaman dan tenun ini bagian dari kekayaan nusantara milik Indonesia yang harus dilestarikan. Melalui program WMM yang digulirkan Bank Mandiri, saya berharap produk-produk yang dihasilkan dari tangan sendiri, bisa menjelajah ke berbagai negara yang tentunya ini dapat meningkatkan devisa negara,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....