Lapek Bugih Rang Pasisia, Dari 100 Lapek Bugih Kini Produksi Ribuan Setiap Hari
- 16 Agt 2026 14:22 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Berawal dari produksi sekitar 100 buah per hari, usaha Lapek Bugih Rang Pasisia milik Kartika Primasari kini berkembang menjadi salah satu usaha kuliner tradisional dengan belasan titik penjualan di Kota Padang. Konsistensi menjaga kualitas, keberanian mengambil keputusan, serta dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan usaha yang telah berjalan sejak 2016 tersebut.
Kartika mengembangkan usaha bersama suaminya dengan memproduksi makanan tradisional berbahan dasar alami dan dibungkus menggunakan daun pisang. Selain Lapek Bugih, ia juga memproduksi Lamang Baluo yang memiliki proses pengolahan berbeda karena melalui dua tahap pemasakan.
Menurut Kartika, proses tersebut memang membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak, tetapi memberikan pengaruh terhadap cita rasa sekaligus daya tahan produk. “Kalau orang bikin Lamang Baluo satu kali tahap saja sudah, kalau kami dua kali tahap, jadi tahannya lebih lama dan rasanya lebih enak,” jelas Kartika.
Penggunaan daun pisang juga menjadi bagian penting dalam produk yang dibuatnya. Selain memberikan aroma yang lebih harum, penggunaan bahan alami tersebut dinilai lebih higienis dan menjadi ciri khas makanan tradisional yang dipertahankan Kartika.
Namun, menjaga ketersediaan daun pisang bukan perkara mudah, terutama ketika memasuki bulan Ramadan. Tingginya permintaan makanan berbuka membuat banyak pedagang musiman ikut mencari daun pisang sehingga Kartika dan keluarganya harus memiliki persediaan sendiri.
“Kalau bulan puasa itu banyak yang mencari daun pisang. Kadang belum sampai pasar sudah diambil orang, jadi kami harus punya stok sendiri,” ungkapnya.
Untuk menjaga ketersediaan bahan baku, Kartika bahkan merahasiakan sejumlah lokasi pemasok daun pisang yang selama ini menjadi sumber persediaannya. Pasalnya, kebutuhan daun pisang tidak hanya digunakan untuk produksi Lapek Bugih miliknya, tetapi juga untuk usaha keluarga yang masih menjalankan produksi makanan serupa.
Perjalanan usaha Kartika dimulai dari skala kecil dengan menitipkan produk kepada tetangga dan sejumlah kedai di sekitar rumah. Dari produksi awal sekitar 100 buah, permintaan kemudian meningkat sehingga ia mulai memperluas pemasaran ke berbagai lokasi.
Perkembangan usaha tersebut membuat Kartika berani meningkatkan harga produk dari Rp1.000 menjadi Rp2.000 per buah. Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan meningkatnya biaya bahan baku, termasuk kebutuhan daun pisang dan bahan produksi lainnya.
Kini, Lapek Bugih Rang Pasisia telah memiliki sekitar 15 titik penjualan yang tersebar di Kota Padang. Produk tersebut antara lain dapat ditemui di kawasan Gunung Pangilun, sekitar Siteba, Balai Baru, hingga sejumlah titik lain yang dipilih langsung oleh Kartika.
Seluruh produksi dilakukan di rumah, kemudian karyawan mengambil produk pada pagi hari untuk didistribusikan ke lokasi penjualan. Sistem tersebut membuat Kartika dapat mengontrol proses produksi sekaligus memastikan produk yang sampai ke setiap titik penjualan tetap dalam kondisi baik.
Saat ini, produksi hariannya mencapai sekitar 2.000 Lapek Bugih dengan harga Rp2.000 per buah dan sekitar 1.000 Lamang Baluo dengan harga Rp1.000 per buah. Skala produksi tersebut menunjukkan perkembangan yang cukup jauh dibandingkan masa awal usaha yang hanya menghasilkan sekitar 100 buah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....