Lapek Bugih Rang Pasisia, Menjaga Cita Rasa Tradisional di tengah Gempuran Kuliner
- 16 Agt 2026 14:34 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Kudapan tradisional terus memiliki tempat di tengah berkembangnya beragam makanan kekinian yang semakin diminati masyarakat. Salah satunya Lapek Bugih Rang Pasisia yang mempertahankan cita rasa tradisional sekaligus menghadirkan beragam pilihan isian.
Usaha yang dikelola Kartika Primasari ini telah berjalan sejak 2016 dan berawal dari kebutuhan ekonomi keluarga. Setelah menyelesaikan pendidikan S2, Kartika memilih mengembangkan usaha makanan tradisional yang resepnya diwariskan keluarga.
Kartika mengatakan, Keputusan memilih Lapek Bugih sebagai produk usaha dilatarbelakangi kebutuhan ekonomi sekaligus keinginan mempertahankan makanan tradisional. Hal tersebut disampaikan Kartika saat manjadi narasumber dalam program Pojok UMKM Pro 4 RRI Padang.
Menurutnya, makanan tradisional memiliki peluang untuk terus diminati apabila tetap diperkenalkan kepada masyarakat. “Makanan tradisional itu tidak akan pernah lekang oleh waktu, karena sampai kapan pun masih dicari,” ujar Kartika.
Usaha tersebut bermula setelah Kartika menyelesaikan pendidikan S2 dan lebih banyak beraktivitas di rumah. Resep Lapek Bugih yang digunakan berasal dari keluarga suaminya dan telah diwariskan secara turun-temurun.
“Resepnya dari mertua, usaha ini memang turun-temurun. Karena keluarga suami orang Pesisir, akhirnya kami mengembangkan Lapek Bugih khas Pasisia,” jelasnya.
Sejak awal menjalankan usaha, Kartika tetap konsisten memproduksi Lapek Bugih dan Lamang Baluo. Konsistensi tersebut menjadi bagian dari upayanya mempertahankan makanan tradisional agar tidak kalah dengan makanan kekinian yang banyak digemari generasi muda.
Lapek Bugih Rang Pasisia memiliki karakteristik tersendiri dalam pengolahan dan penyajiannya. Salah satu perbedaannya terletak pada penggunaan santan yang ditempatkan di bagian dalam Lapek Bugih, sehingga lebih praktis ketika disantap.
Selain itu, bentuk pembungkus Lapek Bugih Rang Pasisia dibuat sedikit bervolume dengan bagian menyerupai gonjong. Menurut Kartika, bentuk tersebut sengaja dipertahankan karena membuat Lapek Bugih terlihat lebih menarik ketika disajikan dalam berbagai acara.
“Kalau ditaruh di piring, bentuknya jadi lebih cantik. Jadi kalau orang pesan untuk acara tunangan atau mendoa, tampilannya lebih bagus,” ungkap Kartika.
Keunikan lainnya terdapat pada pilihan isian yang beragam. Selain isian kelapa dan gula, Lapek Bugih Rang Pasisia tersedia dengan varian kacang, durian, ubi merah, jagung, hingga nangka.
Varian durian menjadi salah satu yang paling banyak diminati konsumen. Kartika mengatakan, varian tersebut tetap tersedia di luar musim durian dengan menggunakan daging durian yang dibeli dalam jumlah kilogram.
“Kalau sedang musim, kita beli duriannya langsung. Kalau tidak musim, kita menggunakan daging durian yang dibeli kiloan, jadi varian durian tetap ada,” katanya.
Menariknya, beragam pilihan rasa tersebut tetap ditawarkan dengan harga sekitar Rp2.000 per buah. Bagi Kartika, mempertahankan harga terjangkau menjadi salah satu cara agar masyarakat tetap dapat menikmati makanan tradisional.
Setelah berjalan selama sekitar sepuluh tahun, Lapek Bugih Rang Pasisia terus dipertahankan sebagai usaha sekaligus bagian dari upaya menjaga warisan kuliner. Kartika berharap makanan tradisional seperti Lapek Bugih tetap dikenal dan diminati masyarakat di tengah perkembangan kuliner modern.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....