Kisah Para “Pejuang” di Balik Sarapan Praktis 10.000
- 03 Feb 2026 08:02 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Setiap dini hari, ketika sebagian besar kota masih terlelap, puluhan ibu rumah tangga di Padang justru mulai beraktivitas. Dari dapur rumah masing-masing, mereka menyiapkan ratusan kotak makanan untuk dikirim ke satu titik: Sarapan Praktis Padang Markas Pejuang Rp10.000.
Bagi mereka, ini bukan sekadar rutinitas memasak, ini adalah perjuangan ekonomi. Rizha, pemilik sekaligus pengelola Markas Pejuang Rp10.000, menyebut sebagian besar anggotanya adalah ibu-ibu yang dulunya aktif bekerja di bidang profesional, seperti perhotelan dan kuliner, namun berhenti karena tuntutan keluarga.
“Mereka sebenarnya jago. Tapi setelah menikah, waktunya terbatas. Di sini mereka bisa masak dari rumah, lalu hasilnya dikumpulkan di markas,” ujar Rizha.
Setiap anggota atau “pejuang” dibayar setiap hari, berdasarkan jumlah box yang terjual. Dalam kondisi tertentu, satu orang bisa memproduksi hingga 140 box per hari, dengan penghasilan yang kini mencapai jutaan rupiah per hari, jauh meningkat dibanding masa awal usaha.
Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Pada awal peluncuran, Markas Pejuang 10.000 sempat menghadapi tantangan berat, termasuk bencana banjir yang melanda Padang.
Alih-alih berhenti, Rizha dan para pejuang justru mengubah tantangan menjadi aksi sosial dengan membuka donasi makanan 10.000 untuk korban bencana. “Kami antar langsung ke lokasi. Dari situ orang mulai tahu, ternyata makanan murah bisa dikemas rapi dan tetap layak,” kata Rizha.
Kini, proses seleksi anggota baru pun dibuat ketat. Setiap menu harus melalui uji rasa dan kelayakan, demi menjaga kepercayaan konsumen.
Rizha mengaku tak segan menolak jika kualitas belum memenuhi standar. “Saya di depan. Kalau makanannya tidak enak, yang kena saya dulu,” ujar Rizha.
Keunikan Markas Pejuang 10.000 terletak pada keberagamannya. Menu berganti setiap hari, mencakup makanan tradisional, Asia, hingga western, sehingga pelanggan tidak mudah bosan.
Meski ramai dan terus berkembang, Rizha memilih untuk tidak tergesa membuka cabang. Fokusnya saat ini adalah menjaga kualitas dan kesejahteraan para pejuang yang sudah ada.
“Bukan soal besar cepat, tapi kuat dan konsisten,” katanya. Di balik deretan meja penuh kotak makanan itu, tersimpan kisah kerja keras, solidaritas, dan harapan puluhan keluarga yang kini bangkit dari dapur rumah masing-masing.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....