Impor Migas Melonjak, Neraca Perdagangan Sumbar Menyusut pada Mei 2026
- 08 Jul 2026 00:00 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat neraca perdagangan Sumatera Barat pada Mei 2026 menyusut sebesar 77,62 juta dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan impor sektor minyak dan gas (migas) menjadi penyebab utama melemahnya tren neraca perdagangan setelah sebelumnya menguat pada awal tahun.
Meski demikian, secara kumulatif Januari–Mei 2026 neraca perdagangan Sumbar masih mencatat surplus sebesar 700,85 juta dolar AS karena nilai ekspor tetap lebih tinggi dibandingkan impor. Namun, surplus tersebut menurun 146,58 juta dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 847,43 juta dolar AS.
Pelemahan kinerja perdagangan tersebut sejalan dengan meningkatnya nilai impor migas yang melonjak 173,36 persen pada Januari–Mei 2026. Sementara itu, pada Mei 2026 nilai impor migas juga naik 268,02 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 403,08 juta dolar AS, sehingga defisit sektor migas mencapai 291,16 juta dolar AS.
Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin, mengatakan defisit neraca perdagangan Mei 2026 dipicu lonjakan impor migas meskipun ekspor masih menunjukkan pertumbuhan positif. "Hal ini disebabkan masifnya komponen impor yang tumbuh hingga hampir tiga kali lipat sebesar 182,18 persen pada Januari-Mei 2026," katanya, Sabtu, 4 Juli 2026.
Menurut Hasan, nilai ekspor Sumbar pada Januari–Mei 2026 meningkat 16,10 persen dari 1.017,81 juta dolar AS menjadi 1.181,63 juta dolar AS. Namun, kenaikan tersebut belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan impor, terutama pada komoditas migas.
Hasan menjelaskan, Singapura masih menjadi negara asal impor migas terbesar bagi Sumatera Barat dengan nilai 293,18 juta dolar AS atau sekitar 60,98 persen dari total impor migas selama Januari–Mei 2026. Malaysia berada di posisi kedua dengan nilai impor mencapai 112,12 juta dolar AS.
"Tidak ada perubahan negara asal impor migas jika dibandingkan dengan 2025 lalu. Hanya saja, khususnya untuk ampas/sisa industri makanan, ini dari Argentina menjadi peringkat ketiga pada Januari-Mei 2026," ujar Hasan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....