Mahyeldi: Kerja Sama Antardaerah Penting Jaga Stabilitas Harga Pangan

  • 03 Jun 2026 21:48 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Inflasi Year on year atau tahunan Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada Mei 2026 menyentuh angka 3,91 persen akibat lonjakan komoditas pokok di sejumlah daerah. Pemerintah Sumbar mendorong Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten/Kota mengoptimalkan strategi 4K, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Gubernur Mahyeldi mengatakan, selain faktor domestik, tekanan harga juga dipengaruhi kondisi global, termasuk kenaikan harga minyak mentah dunia yang berdampak pada biaya distribusi dan harga barang kebutuhan pokok. “Kenaikan harga energi juga turut memicu penyesuaian biaya logistik hingga harga kemasan pangan di pasaran, kami mendorong kerja sama antardaerah konsumsi dengan produksi saling menopang satu sama lainnya,” ujarnya, di Padang, pada Rabu, 3 Juni 2026.

Mahyeldi menjelaskan, mendorong penguatan kerja sama antar daerah untuk menjaga pasokan dan menggelar pasar murah agar harga tetap stabil. “Maka dari itu melalui optimalisasi strategi 4K tadi, langkah ini kami harapkan dapat menstabilkan harga bahan pokok terutama di Kabupaten Dharmasraya dan Pasaman Barat. Melalui sinergi kabupaten/kota dan Bulog turut berperan meredam gejolak inflasi ini,” katanya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar mencatat, angka inflasi tahunan di Sumbar pada Mei 2026 berada di peringkat 10 besar provinsi nasional.Tercatat, komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi (y-o-y) yakni, emas perhiasan, beras, cabai merah dan Sigaret Kretek Mesin (SKM).

“Kenaikan harga berbagai komoditas pokok memicu lonjakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,69 pada Mei 2025 menjadi 112,94 pada Mei 2026,” kata Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin usai merilis Berita Resmi Statistik Sumbar, Selasa, 2 Juni 2026. Menurutnya, tingginya rata-rata inflasi Sumbar menjadi perhatian khusus terhadap dampak stabilisasi inflasi secara tahunan.

Hasan menjelaskan, melonjkaknya inflasi y-on-y Sumbar pada Mei 2026, terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 11 kelompok pengeluaran. “Dari sektor pengeluaran, paling besar dipengaruhi oleh makanan, minuman dan tembakau,” katanya.

Hasan menyebut, beberapa komoditas pokok tercatat juga memberi andil deflasi atau penurunan tekanan harga secara tahunan. Komoditas itu antara lain, kentang, bawang putih, kelapa, santan segar, sabun cair pencuci piring, susu bubuk, serta udang basah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....