Inflasi di Sumbar pada April Terkendali, Daya Beli Tetap Terjaga
- 05 Mei 2026 19:58 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang-Realisasi inflasi tahunan pada April 2026 di Sumatera Barat (Sumbar) tercatat terkendali dan berada di bawah capaian nasional. Inflasi tahunan Sumbar sebesar 1,97 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,42 persen (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar, M. Abdul Majid Ikram mengatakan, terkendalinya inflasi ini dipengaruhi penurunan harga pada kelompok barang bergejolak atau volatile food. Kondisi tersebut turut menjaga stabilitas harga di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
"Secara kumulatif, pada periode Januari hingga April 2026, Sumbar masih mencatat deflasi sebesar minus 0,43 persen (ytd). Hal ini menunjukkan tekanan harga secara umum masih relatif terkendali sejak awal tahun," ucapnya.
Dengan perkembangan tersebut, inflasi sepanjang tahun 2026 diprakirakan tetap berada pada kisaran sasaran 2,5±1 persen (yoy). Kondisi ini dinilai mendukung daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi daerah.
Penurunan inflasi tahunan juga ditopang oleh inflasi bulanan yang tetap terjaga. Pada April 2026, inflasi bulanan Sumbar tercatat sebesar 0,39 persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,04 persen (mtm).
Kenaikan inflasi bulanan dipengaruhi oleh faktor musiman pasca Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri. Selain itu, kenaikan harga energi dan transmisi harga barang global turut memberi tekanan terhadap harga di daerah.
Dari sisi komoditas, inflasi April didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara serta harga sejumlah bahan pangan. Komoditas tersebut meliputi bawang merah, minyak goreng, jengkol, kentang, serta nasi dengan lauk.
Tarif angkutan udara mengalami inflasi cukup tinggi sebesar 32,24 persen (mtm). Kondisi ini dipicu berakhirnya diskon tiket pesawat, kenaikan harga avtur dan fuel surcharge, serta penyesuaian tarif batas atas.
Bawang merah tercatat mengalami inflasi sebesar 10,52 persen (mtm) akibat meningkatnya permintaan dari dalam maupun luar Sumbar. Sementara itu, minyak goreng naik 4,75 persen (mtm) seiring kenaikan harga CPO di pasar global.
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh deflasi pada sejumlah komoditas pangan strategis. Cabai rawit dan cabai merah masing-masing mengalami deflasi signifikan didukung peningkatan produksi lokal dan pasokan dari Sumatera Utara.
Penurunan harga juga terjadi pada emas perhiasan yang mengalami deflasi sebesar 2,92 persen (mtm) seiring melemahnya harga emas global. Selain itu, daging ayam ras turut mencatat deflasi sebesar 2,93 persen (mtm) akibat membaiknya pasokan.
Secara spasial, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,67 persen (mtm). Sementara itu, Kabupaten Pasaman Barat justru mengalami deflasi sebesar minus 0,02 persen (mtm).
Di Kota Padang dan Kota Bukittinggi, inflasi masing-masing tercatat sebesar 0,51 persen (mtm). Hingga April 2026, inflasi tahunan tertinggi berada di Dharmasraya sebesar 3,44 persen (yoy), sementara daerah lain masih di bawah 3 persen (yoy).
Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia bersama TPID terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi. Langkah ini dilakukan melalui koordinasi lintas sektor guna memastikan stabilitas pasokan dan harga.
Upaya yang dilakukan antara lain percepatan rekonstruksi infrastruktur pascabencana untuk mendukung distribusi. Selain itu, dilakukan pula Rakortek TPID dan forum diskusi untuk mitigasi risiko cuaca dan menjaga produksi pertanian.
Selanjutnya, intensifikasi operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah terus digencarkan. Optimalisasi kerja sama antar daerah juga dilakukan untuk menjaga ketersediaan stok pangan secara berkelanjutan.
Ke depan, inflasi Sumatera Barat diprakirakan tetap terjaga seiring normalisasi produksi dan perbaikan distribusi. Namun demikian, sejumlah risiko seperti kenaikan harga pangan global, gangguan rantai pasok, dan cuaca ekstrem tetap perlu diwaspadai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....