Inflasi Tahunan Sumbar Maret 2026 Capai 3,37 Persen, Relatif Terkendali

  • 01 Apr 2026 21:31 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat, inflasi tahunan provinsi ini pada Maret 2026 sebesar 3,37 persen year on year (yoy), Rabu, 1 April 2026. Inflasi tersebut dipengaruhi low-base effect atau efek basis rendah akibat pemberian diskon tarif listrik serta kenaikan pada emas perhiasan, kendati mulai melandai setelah inflasi selama 30 bulan.

Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin mengatakan, inflasi tahunan Maret 2026 dipicu kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,86 pada Maret 2025 menjadi 111,49. Inflasi tahunan utamanya didorong oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau, Bahan Bakar Minyak (BBM), tarif listrik dan emas perhiasan yang mengalami inflasi sebesar 15,30 persen.

“Namun patut disyukuri range inflasi tahunan di Sumbar pada Maret 2026 masih terkendali. Tingkat kestabilan ada pada range dua setengah plus-minus satu. Ini bagus sekali terkait target inflasi pengendalian harga-harga IHK,” kata Nurul.

Nurul menjelaskan, meski emas perhiasan merangkak turun setelah 30 bulan lebih inflasi, faktor low base effect dari tarif diskon listrik pada Januari-Februari berdampak pada inflasi tahunan Maret 2026. “Namun, secara bulanan inflasi Sumatera Barat pada Maret 2026 masih tergolong rendah yakni, 0,04 persen atau turun sebesar 0,30 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Upaya intervensi pemerintah dapat menekan kenaikan harga konsumsi masyarakat, termasuk konsumsi emas perhiasan,” ujarnya.

Nurul Hasanuddin menambahkan, berdasarkan Kabupaten/ kota IHK di Sumatera Barat, Kota Bukittinggi mengalami inflasi tahunan tertinggi pada Maret 2026 sebesar 4,32 persen, sementara terendah terjadi di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 2,74 persen. Namun inflasi secara bulanan, pada Maret 2026 Pasaman Barat bersama Kota Padang kompak mengalami deflasi, masing-masing sebesar 0,05 dan 0,02 persen.

“Pada Maret 2026, dari empat wilayah cakupan IHK di Provinsi Sumatera Barat, semua wilayah mengalami inflasi secara tahunan. Kabupaten Dharmasraya mengalami inflasi sebesar 4,28 persen dengan IHK sebesar 113,05 dan Kota Padang mengalami inflasi sebesar 3,30 persen dengan IHK sebesar 110,85,” katanya.

Nurul mengatakan, kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 0,19 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen. “Komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok ini adalah konsumsi daging ayam ras, jengkol, ikan tongkol dan udang basah,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....