Rupiah Melemah Tajam, Ekonom Unand Sebut Dampak ke Harga Barang

  • 24 Apr 2026 17:40 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dilaporkan menembus angka Rp17.300. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi domestik, terutama terkait inflasi dan daya beli masyarakat.

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Padang, Syafruddin Karimi kepada RRI pada Jumat, 24 April 2026 menjelaskan, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global, khususnya akibat gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah. Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz yang menjadi jalur lebih dari 20 persen distribusi minyak dunia.

“Ketika terjadi ketegangan di kawasan tersebut, pasar global bereaksi. Investor cenderung mencari aset aman atau safe haven seperti dolar AS, sehingga permintaan terhadap dolar meningkat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujarnya.

Selain faktor eksternal, tingginya ketergantungan Indonesia terhadap barang impor juga memperparah tekanan terhadap rupiah. Kebutuhan impor energi seperti BBM dan gas membuat permintaan dolar terus meningkat.

Pengamat tersebut menambahkan, tren pelemahan mata uang juga terjadi di kawasan Asia Tenggara. Namun, depresiasi rupiah tercatat lebih dalam dibandingkan beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, dengan penurunan sekitar 0,79 persen.

Dampak langsung dari pelemahan rupiah adalah meningkatnya inflasi, khususnya imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor. Kenaikan harga energi diperkirakan akan memicu efek berantai terhadap harga barang dan jasa lainnya.

“Ketika harga-harga naik, daya beli masyarakat akan tergerus. Jika ini berlanjut, maka akan berdampak pada aktivitas ekonomi riil, bahkan berpotensi meningkatkan angka pengangguran,” tuturnya.

Dari sisi perdagangan, pelemahan rupiah sebenarnya dapat menjadi peluang bagi peningkatan ekspor. Namun, laju pertumbuhan ekspor Indonesia masih lebih rendah dibandingkan impor. Saat ini, pertumbuhan impor tercatat di atas 10 persen, sementara ekspor masih di bawah 5 persen.

“Situasi ini dapat mengurangi surplus neraca perdagangan kita. Meskipun masih surplus, tetapi ke depan berpotensi menurun jika tren ini terus berlanjut,” katanya.

Untuk mengurangi tekanan terhadap rupiah, pengamat menyarankan penguatan produksi dalam negeri dan pengurangan ketergantungan terhadap impor. Pengembangan energi alternatif seperti biofuel (bahan bakar nabati) juga dinilai menjadi langkah strategis dalam jangka panjang.

Sementara itu, masyarakat diimbau untuk lebih adaptif terhadap kondisi ekonomi saat ini. Termasuk dengan mencari sumber pendapatan tambahan dan mengurangi konsumsi barang impor.

“Semakin kita bergantung pada produk impor, maka semakin rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Sebaliknya, jika kita memperkuat produk dalam negeri, maka ketahanan ekonomi juga akan meningkat,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....