Inflasi Sumbar Tertinggi Kedua di Indonesia
- 05 Jan 2026 20:18 WIB
- Padang
KBRN, Padang: Tahun 2025 ditutup dengan angka inflasi yang tinggi di Sumatera Barat (Sumbar). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi bulanan di provinsi Sumbar pada Desember 2025 mencapai 1,48 persen. Kemudian secara kumulatif pada 2025, Sumbar mengalami inflasi 5,15 persen. Angka itu menempatkan Sumbar para posisi kedua secara nasional di bawah Provinsi Aceh dengan angka 6,71 persen.
Menurut Kepala BI Sumbar, Abdul Majid Ikram, inflasi dipengaruhi kenaikan harga pangan bergejolak (volatile food). Terutama beras, bawang merah, dan cabai merah. Hal itu mulai terlihat pada pertengahan tahun.
“Cuaca ekstrem mengubah pola tanam dan menurunkan produktivitas pertanian, khususnya padi yang relatif rentan terhadap faktor cuaca. Di sisi lain, beras Sumbar juga mulai diminati pasar luar daerah seperti Riau, Kepulauan Riau, Jawa, hingga Malaysia, terutama untuk memasok rumah makan Padang,” ucapnya, Jumat (5/1/2026).
Tekanan inflasi juga terjadi pada komoditas cabai merah akibat penurunan produksi dan terganggunya suplai. Kemarau panjang juga mempengaruhi produksi cabai merah.
“Untuk memenuhi kebutuhan cabai, Sumbar juga memasok dari daerah lain seperti dari Lampung dan Jawa. Pasokan dari luar juga sering terganggu akibat akses putus karena bencana,” ucapnya.
Selain karena kenaikan harga pangan, inflasi juga dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan yang mengikuti tren harga global. “Kalau emas ini memang pengaruh global ya,” tuturnya.
Meski mengalami tekanan pada 2025, namun pada 2026, BI Sumbar tetap memproyeksikan inflasi berada di kisaran 2,25 persen dengan deviasi plus minus satu persen. Pengendalian inflasi difokuskan pada penguatan ketahanan pangan, perbaikan distribusi, serta sinergi lintas instansi untuk menjaga stabilitas harga dan pemulihan ekonomi daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....