Sebanyak 20 Ton Rempah Sumbar dengan Nilai Rp1,3 Miliar Berlayar ke Thailand

  • 11 Jul 2026 17:39 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Enam perempuan paruh baya tampak tekun membersihkan kulit kayu manis saat matahari pagi mulai meninggi di sebuah gudang di Jalan Kampung Nias, Kota Padang, Sabtu, 11 Juli 2026. Dengan sarung tangan yang melekat, mereka telaten mengikis debu atau jamur yang mungkin melekat.

“Kulit kayu manis yang sudah dijemur harus dibersihkan karena mungkin ada sisa jamur atau debu. Sekaligus disortir sesuai ukuran panjangnya agar mudah ketika dikemas,” ucap salah seorang pekerja.

Lantas, rempah berbentuk batang dengan panjang 20-50 sentimeter berwarna cokelat itu disusun rapi ke dalam karung berkapasitas 60,6 kilogram. Aroma khas kayu manis memenuhi sudut gudang, menjadi penanda perjalanan panjang rempah Sumatera Barat (Sumbar) menuju pasar dunia.

Pekerja sedang menyortir dan mengemas kulit kayu manis sebelum diekspor menuju Thailand (Foto: RRI/Dodik Setyo)

Tak lama berselang, ritme kesibukan berganti. Sebuah truk memasuki halaman gudang, disusul empat pekerja yang bergantian memanggul karung-karung rempah menuju bak kendaraan. Ternyata, tidak hanya kayu manis, karung-karung itu juga berisi kapulaga, cengkeh, dan biji pala. Seluruhnya akan diberangkatkan ke Pelabuhan Teluk Bayur sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bangkok, Thailand.

Sebanyak 20 ton rempah asal Sumbar diekspor oleh CV Nature Indo Global (NIG), UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar bersama Akademi Mudah Ekspor. Pelepasan ekspor berlangsung di gudang perusahaan dan dihadiri Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumbar Novrial serta Deputi Kepala BI Sumbar Andi Setyo Biwado.

Direktur CV Nature Indo Global, Alfred Oemar, mengatakan pengiriman ini menjadi ekspor kedua yang berhasil dilakukan perusahaannya setelah sebelumnya mendapat pendampingan melalui pelatihan dan kegiatan business matching dari Bank Indonesia. Nilai ekspor kali ini mencapai 76 ribu dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp1,3 miliar.

Alfred menjelaskan, rempah yang diekspor diperoleh dari berbagai daerah. Kayu manis, kapulaga, dan biji pala dipasok dari sejumlah sentra produksi seperti Sungai Penuh dan Bukittinggi, sedangkan cengkeh didatangkan dari Kepulauan Mentawai yang dikenal memiliki kualitas baik.

"Sebagian rempah kami ambil dari petani, sebagian dari pengepul juga. Kalau komoditas cengkeh dibeli dari Kepulauan Mentawai karena kualitasnya bagus," kata Alfred.

Alfred mengaku, ia merupakan penerus keluarga yang turun-temurun berwiraswasta sebagai distributor beras. Dengan persaingan yang semakin ketat, ia menancapkan niat memperluas usaha menjadi eksportir rempah-rempah yang mulai dirintis sejak tahun 2024. Usaha itu tak lantas berjalan mulus. Kendalanya yakni mencari pasar atau menemukan buyer. Berkat dukungan berbagai pihak untuk ikut serta dalam bussines matching, pintu rezekinya di bidang ekspor terbuka. Oleh karena itu, Ia berharap pembinaan dari BI, Akademi Mudah Ekspor, dan Disperindag Sumbar terus berlanjut. Apalagi, Alfred meyakini produk rempah Sumbar dapat menembus pasar yang lebih luas, termasuk Eropa.

Deputi Kepala BI Sumbar, Andi Setyo Biwado (tengah), Kepala Diseprindag Sumbar, Novrial (kiri), dan Direktur NIG, Alfred Oemar (kanan) saat melepas ekspor 20 ton rempah-rempah menuju Thailand (Foto: RRI/Dodik Setyo)

Deputi Kepala BI Sumbar, Andi Setyo Biwado, menilai keberhasilan ekspor tersebut menjadi bukti bahwa komoditas rempah Sumbar mampu memenuhi standar pasar internasional. Capaian itu merupakan hasil sinergi berbagai pihak, mulai dari Disperindag Sumbar, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, Akademi Mudah Ekspor hingga Balai Karantina.

"Ekspor ini menjadi pembuka jalan atau akses UMKM menuju rantai pasok global. Harapannya jenis komoditas yang diekspor juga bisa bertambah," ucap Andi. BI, kata Andi, akan terus mendampingi UMKM untuk meningkatkan kualitas produk, memperbaiki kemasan, serta memperluas akses pasar melalui business matching.

Sementara itu, Kepala Disperindag Sumbar, Novrial, menilai ekspor menuju Thailand menjadi terobosan yang patut dicontoh eksportir lainnya. Selama ini, pasar utama rempah Sumbar lebih banyak berada di kawasan Asia Selatan, seperti India, Bangladesh, dan Pakistan.

"Artinya ada pasar baru yang berhasil dijangkau. Tentu masih ada negara lain yang bisa menjadi tujuan ekspor, ini yang perlu digali," tutur Novrial.

Ia mengajak para eksportir Sumbar terus membaca peluang dan kebutuhan pasar internasional agar komoditas unggulan daerah tidak hanya dipanen dari kebun dan berakhir di pasar tradisional. Rempah Sumbar yang diakui secara internasional benar-benar berlayar atau terbang ke luar negeri untuk diolah menjadi bumbu-bumbu di setiap hidangan yang ada di restoran-restoran mewah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....