Geliat Literasi Forum Lingkar Pena Sumbar Menjaga Tradisi Menulis di Era Digital

  • 14 Sep 2026 16:20 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • FLP Sumatera Barat telah aktif sejak tahun 2000, di mana salah satu tokoh perintisnya di Ranah Minang adalah Melvi Yendra (penulis skenario Ojek Pengkolan).
  • Gerakan komunitas ini berlandaskan pada tiga prinsip pokok, yaitu Kepenulisan, Keorganisasian, dan Keislaman.
  • Setiap naskah tulisan anggota melewati kurasi dan diskusi bedah karya sebelum diterbitkan secara luas, baik dalam bentuk cetak maupun digital.

RRI.CO.ID, Padang - Dialog obrolan malam melalui ruang komunitas menghadirkan komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) Sumatera Barat. Program ini dipandu oleh Tito Oktri dan disiarkan pada hari Jum'at, 11 September 2026 melalui Pro 1 RRI Padang.

Koordinator Kaderisasi FLP Sumatera Barat, Muhammad Rivaldi yang hadir sebagai narasumber menjelaskan gerakan literasi ini sudah aktif sejak tahun 2000 silam. Salah satu tokoh perintis forum tulisan di Ranah Minang ini adalah Melvi Yendra penulis skenario Ojek Pengkolan.

Komunitas penulis ini membagi tingkatan organisasi mulai pusat wilayah provinsi cabang kabupaten kota hingga ranting di sekolah. Wilayah Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota atau Paliko saat ini bahkan telah sukses memasuki masa kepengurusan periode kedua.

Sementara, pengurus wilayah FLP Sumatera Barat Amrullah Semabu menyatakan, saat ini pihaknya sedang membuka pendaftaran anggota baru nasional. Calon peserta cukup memenuhi kriteria batasan umur minimal 13 tahun serta dapat mendaftar hingga tanggal 23 September.

Para anggota baru yang bergabung nantinya akan mengikuti program pembinaan sekolah menulis intensif kurun waktu 8 bulan. Seluruh peserta akan mempelajari teknik penyusunan karya fiksi maupun nonfiksi secara terarah bersama para mentor senior berpengalaman.

Narasumber obrolan malam tersebut menegaskan bahwa komunitas ini dibangun atas pondasi tiga pilar utama yaitu kepenulisan, keorganisasian, serta keislaman. Ketiga prinsip pilar pokok tersebut saling mengikat erat guna membentuk karakter para penulis muda Indonesia yang berintegritas.

Amrullah Semabu yang juga mengelola Taman Bacaan Masyarakat Rumah Cahaya membagikan tips penting membiasakan budaya membaca keluarga. Ia juga rutin mendampingi dua anaknya membaca lima buku cerita ringan sebelum tidur untuk membentuk kebiasaan sejak dini.

"Ketika kita mau mengambil bagian untuk bisa menjadi sejarah maka kita harus menulis hari ini," tegas Amrullah Semabu. Budaya membaca karya sejarah sangat krusial agar generasi muda paham betul perjalanan panjang perjuangan para pahlawan bangsa.

Muhammad Rivaldi yang bergabung sejak 2016 menyebut rasa berinteraksi dengan fisik buku cetak tidak tergantikan oleh layar HP. Membaca buku fisik memberikan pengalaman emosional mendalam serta menghadirkan roh tulisan yang lebih hidup bagi para pembacanya.

"Dengan banyaknya kita membaca berarti kita banyak memiliki ilmu pengetahuan yang bisa kita asah dan kembangkan," ujar Rivaldi. Dirinya rutin mengalokasikan waktu membaca minimal 1 jam tiap pagi demi menggali inspirasi ide-ide penulisan kreatif baru.

Setiap naskah cerita buatan anggota forum bakal melewati tahapan diskusi rutin bedah karya sebelum diajukan penerbitan buku. Proses kurasi ketat dilakukan demi menjaga kualitas tulisan agar layak dikonsumsi publik baik cetak maupun format digital.

Siaran interaktif obrolan malam RRI Padang ini ditutup ajakan hangat bagi pemuda Minang untuk aktif berkarya menulis. Masyarakat dapat memantau info kegiatan literasi terkini lewat akun media sosial resmi Instagram milik FLP Sumatera Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....