Cucu Legenda Tari Minang Buka Ruang Musik Bagi Disabilitas

  • 23 Agt 2026 09:43 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • Anak-anak disabilitas netra memiliki kepekaan nada yang luar biasa tajam dan mampu menguasai instrumen musik hanya dalam waktu kurang dari 30 menit.
  • Keterbatasan fasilitas dan tempat berkesenian membuat aktivitas musik di panti sosial masih sering dianggap sebatas kegiatan ekstrakurikuler atau hiburan sampingan.
  • Mendorong dukungan fasilitas yang lebih layak bagi anak disabilitas, sekaligus menyoroti penurunan minat generasi muda terhadap alat musik tradisional seperti talempong.

RRI.CO.ID, Padang - Berkesenian atau berkarya dalam dunia seni merupakan hak dari semua individu termasuk para penyandang disabilitas. Hal ini merupakan tema utama yang dihadirkan program Ruang Disabilitas dan Inklusi di Pro 1 Padang pada hari Sabtu, 22 Agustus 2026 yang menghadirkan sosok pemuda bernama Muhammad Ihsan Ali guna membagikan kisah perjalanan seni tradisinya serta pengalaman berbagi ilmu bermusiknya kepada penyandang disabilitas.

Pemuda bertalenta tinggi ini merupakan cucu kandung legenda tari Minang ternama bernama almarhumah Ibu Sofyani dan Yusaf Rahman. Ihsan mulai menekuni dunia seni musik tradisional sejak menduduki bangku sekolah dasar kelas 5 pada usia 11 tahun.

Meskipun tumbuh besar di lingkungan sanggar seni, dia memilih berkuliah pada jurusan Hubungan Internasional Universitas Andalas Kota Padang. Pilihan jurusan perguruan tinggi tersebut diambil berkat pesan mendalam neneknya agar menyerap berbagai ilmu pengetahuan luas di luar.

Neneknya berpesan agar ilmu musik cukup dipelajari melalui sanggar saja sementara pendidikan formal berguna untuk mencari wawasan lain. Saran berharga dari sang maestro tari tersebut akhirnya terus dipegang erat oleh Ihsan hingga melangkahkan kaki ke kampus.

Mahasiswa angkatan 2023 itu sangat menguasai instrumen talempong melodis serta piawai memetik senar gitar modern saat mengiringi tarian. Bagi dirinya pribadi, musik merupakan sarana paling efektif dalam memahami kondisi dunia seluruhnya serta merepresentasikan gejolak perasaan manusia.

Kiprah bermusik Ihsan bersama Sanggar Sofyani telah membawanya terbang melintasi batas negara hingga sempat tampil memukau di Pakistan. Dia juga terlibat aktif melatih kebudayaan Minangkabau kepada warga asing lewat program Beasiswa Seni Budaya Indonesia periode 2016-2023.

Sejak tahun 2024 lalu, Ihsan mulai mendedikasikan waktunya mengajar seni musik di panti sosial bina netra dan grahita. Pengalaman mengajar tersebut membuka mata hatinya tentang besarnya potensi seni yang dimiliki oleh para penyandang disabilitas di Padang.

Anak-anak disabilitas netra memiliki kepekaan rasa dan pendengaran musik luar biasa tajam meskipun tidak bisa melihat wujud instrumen. Mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit saja untuk menangkap susunan nada serta memainkan instrumen secara mahir.

Namun ruang berkesenian bagi penyandang disabilitas dinilai masih sangat terbatas serta belum mendapat dukungan fasilitas yang benar-benar memadai. Kehadiran seni musik di lingkungan panti sosial sering kali hanya ditempatkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler atau sekadar hiburan sampingan.

Ihsan sangat berharap agar masyarakat luas serta pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap bakat seni teman disabilitas. Dukungan fasilitas yang layak diyakini mampu mendorong para pemuda disabilitas menjadi seniman besar lewat karya musik luar biasa.

Di sisi lain, minat generasi muda terhadap pelestarian seni tradisional Minangkabau dirasa mulai mengalami penurunan yang cukup signifikan. Anak muda zaman sekarang cenderung lebih tertarik mempelajari alat musik modern seperti gitar dibandingkan memukul perangkat talempong tradisi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....