Tabuik Piaman, Tradisi Tahunan yang Tak Pernah Kehilangan Pesona

  • 26 Agt 2026 14:15 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Dentuman gandang tasa, riuh suara masyarakat, dan arak-arakan tabuik menjadi pemandangan yang selalu dinanti di Kota Pariaman setiap bulan Muharam. Tradisi tahunan ini tidak hanya menghadirkan kemeriahan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu cara warga Piaman menjaga warisan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Tabuik digelar setiap 10 Muharam atau bertepatan dengan Hari Asyura, yang berkaitan dengan kisah wafatnya Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam Perang Karbala. Dalam perkembangannya, tradisi tersebut tumbuh menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Pariaman dan dikemas sebagai pesta budaya yang mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.

Menariknya, kemeriahan Tabuik tidak muncul secara tiba-tiba pada hari puncak. Rangkaian tradisi telah dimulai sejak 1 Muharam melalui prosesi Maambiak Tanah, kemudian berlanjut dengan Manabang Batang Pisang, Maradai, Turun Panja, Maatam, Maarak Jari-Jari, Maarak Saroban, hingga Tabuik Naiak Pangkek dan prosesi puncak Tabuik dibuang ke laut.

Pada prosesi Maambiak Tanah, misalnya, anak tabuik mengambil tanah dari dasar sungai dengan cara menyelam. Tanah tersebut kemudian dibungkus kain putih dan dibawa menuju rumah tabuik, sebelum ditempatkan di daraga, dengan filosofi bahwa manusia berasal dari tanah dan pada akhirnya akan kembali kepada tanah.

Prosesi berikutnya juga tidak kalah menarik karena setiap tahapan memiliki simbol dan cerita tersendiri. Manabang Batang Pisang dilakukan dengan satu kali tebasan dan dimaknai sebagai simbol ketajaman pedang dalam kisah Perang Karbala, sementara Maatam menggambarkan kesedihan atas penderitaan yang dialami Husain.

Di balik kemegahan tabuik yang menjulang hingga belasan meter, terdapat proses panjang yang melibatkan keterampilan para perajin. Kayu, bambu, rotan, dan berbagai ornamen dirangkai secara teliti menjadi bagian-bagian tabuik, sebelum akhirnya disatukan dalam prosesi Tabuik Naiak Pangkek yang menjadi salah satu momen paling dinantikan masyarakat dan wisatawan.

Bagi masyarakat Pariaman, Tabuik pada akhirnya bukan hanya tentang kemeriahan, keramaian, atau bangunan besar yang dihoyak menuju laut. Di balik dentuman gandang tasa dan antusiasme wisatawan, tradisi ini menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan, mengenalkan sejarah kepada generasi muda, sekaligus menjaga identitas budaya Piaman agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....