Fenomena Doom Spending, Tren Belanja yang Kian Marak di Kalangan Generasi Muda
- 26 Jul 2026 13:46 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang – Fenomena doom spending atau kebiasaan berbelanja secara impulsif akibat rasa cemas terhadap kondisi ekonomi, masa depan, maupun tekanan kehidupan saat ini menjadi salah satu tren yang banyak diperbincangkan. Istilah tersebut menggambarkan perilaku seseorang yang memilih membeli barang atau menikmati pengalaman tertentu sebagai cara untuk mengurangi stres, meskipun tindakan itu berpotensi mengganggu kondisi keuangan pribadi.
Tren ini semakin terlihat seiring meningkatnya penggunaan media sosial dan kemudahan akses layanan belanja digital.
Berdasarkan berbagai laporan media internasional seperti CNBC, Forbes Advisor, dan Bankrate, fenomena doom spending banyak terjadi pada kalangan generasi muda, khususnya Generasi Z dan milenial. Kekhawatiran terhadap inflasi, tingginya biaya hidup, sulitnya memiliki rumah, hingga ketidakpastian ekonomi mendorong sebagian orang memilih menikmati uang yang dimiliki saat ini daripada menabung untuk masa depan. Perilaku tersebut sering kali muncul sebagai respons emosional terhadap berbagai tekanan yang dirasakan sehari-hari.
Di Indonesia, meskipun istilah doom spending belum sepopuler di negara lain, gejalanya mulai terlihat melalui meningkatnya transaksi belanja daring, pembelian produk gaya hidup, serta tren mengikuti promosi besar di berbagai platform e-commerce. Kemudahan pembayaran melalui layanan paylater maupun kartu kredit juga membuat masyarakat lebih mudah melakukan pembelian tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan secara matang. Di sisi lain, media sosial turut mendorong munculnya keinginan mengikuti tren agar tidak merasa tertinggal.
Psikolog menjelaskan bahwa perilaku tersebut merupakan bentuk coping mechanism atau cara seseorang mengatasi tekanan emosional. Rasa senang yang muncul setelah berbelanja memang dapat memberikan kepuasan sesaat, namun efek tersebut biasanya tidak bertahan lama. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi pola konsumsi yang tidak sehat dan memicu masalah finansial di kemudian hari. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali penyebab emosional sebelum memutuskan melakukan pembelian.
Pakar keuangan juga mengingatkan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Menyusun anggaran bulanan, menetapkan tujuan keuangan, serta membatasi penggunaan fasilitas kredit menjadi beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mengendalikan kebiasaan belanja impulsif. Selain itu, meningkatkan literasi keuangan dinilai menjadi salah satu solusi agar masyarakat mampu mengambil keputusan finansial secara lebih bijak di tengah situasi ekonomi yang dinamis.
Fenomena doom spending menunjukkan bahwa kondisi kesehatan mental dan pengelolaan keuangan memiliki keterkaitan yang erat. Ketika tekanan hidup meningkat, keputusan finansial seseorang juga dapat dipengaruhi oleh faktor emosional. Oleh sebab itu, membangun kebiasaan mengelola stres melalui aktivitas positif seperti berolahraga, berdiskusi dengan keluarga atau teman, hingga mengembangkan hobi dinilai lebih bermanfaat dibandingkan menjadikan belanja sebagai pelarian utama.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa gaya hidup konsumtif tidak selalu dipicu oleh keinginan memiliki barang baru, tetapi juga oleh rasa cemas terhadap masa depan. Dengan memahami penyebab munculnya doom spending serta meningkatkan kesadaran dalam mengelola keuangan, masyarakat diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara memenuhi kebutuhan saat ini dan mempersiapkan masa depan yang lebih aman secara finansial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....