Prof. Wesnina Sebut Desain Busana Lebih dari Sekadar Komoditas Industri

  • 16 Jul 2026 08:37 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • Desain busana harus dipahami sebagai bagian integral dari kebudayaan yang mencerminkan identitas, nilai, simbol, sejarah, dan relasi sosial masyarakat, bukan hanya sebagai produk estetika atau komoditas industri.
  • Busana berfungsi sebagai bahasa dan tanda komunikasi yang memungkinkan manusia menyampaikan identitas diri, asal-usul, dan nilai yang mereka bawa kepada masyarakat.
  • Perkembangan teknologi digital, media sosial, dan globalisasi membuka peluang bagi desainer untuk berinovasi lebih cepat, tetapi juga menghadirkan risiko busana terjebak dalam logika pasar yang mengabaikan kedalaman makna budaya.

RRI.CO.ID, Padang - Desain Busana tidak cukup dilihat sebagai produk estetika, apalagi sekadar komoditas industri. Menurut pakar Ilmu Desain Busana Desain Mode Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof .Dr Wesnina, M.sn, Desain Busana adalah bagian dari kebudayaan, karena berhubungan dengan tubuh manusia, identitas, nilai, simbol, sejarah, relasi sosial, dan cara sebuah masyarakat memahami dirinya.

Wesnina mengungkapkan, ia memilih tema Desain Busana sepanjang perjalanan akademik, penelitian, dan pengabdiannya. Sebab hal ini tidak bisa dipahami hanya sebagai keterampilan membuat pakaian saja.

"Busana bukan hanya sesuatu yang dikenakan atau dipakai. Busana adalah bahasa. Busana adalah tanda. Busana adalah ingatan budaya," ungkap Wesnina, Kamis 16 Juli 2026. "Maka melalui busana, manusia menyampaikan siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan nilai apa yang ia bawa."

Jadi dalam masyarakat kontemporer, dunia fesyen berkembang sangat cepat. Teknologi digital, media sosial, globalisasi ekonomi, dan percepatan tren telah mengubah cara manusia memproduksi, memakai, menampilkan, dan menilai busana.

Di satu sisi, menurut Wesnina perkembangan ini membuka peluang besar. Desainer bisa mencipta lebih cepat, serta motif bisa dikembangkan secara digital, produk bisa dipasarkan lebih luas, dan karya lokal dapat dikenal secara global.

Namun di sisi lain lagi, kata Wesnina, perkembangan ini juga menghadirkan tantangan. Busana sering kali hanya dipandang sebagai tampilan visual. Motif hanya dianggap sebagai ornamen. Budaya hanya dijadikan dekorasi. Bahkan, fesyen dapat terjebak dalam logika pasar, cepat diproduksi, cepat dikonsumsi, cepat diganti, dan cepat dilupakan.

Di sinilah, kata Wesnina persoalan pentingnya. "Jika desain busana hanya tunduk pada ekonomi dan teknologi, maka ia dapat kehilangan kedalaman makna. Jika busana hanya mengikuti tren, maka busana itu bisa kehilangan akar budaya. Jika motif tradisional hanya dipakai sebagai hiasan tanpa pemahaman nilai dan simbolnya," ujarnya. "Tak ayal maka warisan budaya dapat mengalami pengosongan makna."

Karena itu, Wesnina ingin menegaskan bahwa Desain Busana harus dikembalikan pada kedudukannya sebagai praktik kebudayaan. Desain Busana tidak hanya menciptakan bentuk, tetapi juga merawat makna. Tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga menjaga identitas. Tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga mengarahkan teknologi agar tetap berpihak pada manusia, budaya, dan keberlanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....