Prof. Wesnina (UNJ): Busana Adalah Medium Pembentuk Identitas Sosial dan Budaya

  • 16 Jul 2026 08:11 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • Busana adalah medium pembentuk identitas sosial yang menghubungkan tubuh dengan ruang sosial, menunjukkan status, nilai, keyakinan, estetika, dan cara manusia menempatkan diri di tengah masyarakat.
  • Indonesia memiliki warisan tekstil yang sangat kaya seperti batik, tenun, songket, sulaman, dan ikat yang bukan hanya warisan visual tetapi juga warisan pengetahuan budaya yang mendalam.
  • Teknologi digital printing dapat digunakan sebagai medium translasi visual untuk mentransformasikan motif tradisional ke dalam desain busana modern tanpa menghilangkan identitas simboliknya.

RRI.CO.ID, Padang - Pakar Ilmu Desain Busana Desain Mode Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof .Dr Wesnina, M.sn menyebut, dalam kajian fesyen, busana dipahami sebagai bagian dari sistem budaya dan sistem sosial yang melibatkan desainer, industri, media, pendidikan, teknologi, dan masyarakat. Busana menjadi medium pembentuk identitas sosial.

"Busana menghubungkan tubuh dengan ruang sosial. Busana memperlihatkan status, nilai, keyakinan, estetika, dan cara manusia menempatkan diri di tengah masyarakat," kata Wesnina, Kamis 16 Juli 2026.

Ia mengungkap, di era digital, busana tidak hanya hadir di ruang fisik, tetapi juga di ruang visual. Busana dipotret, dikurasi, diunggah, dikomentari, disukai, dan disebarluaskan. Citra busana bahkan kadang lebih cepat beredar daripada makna busana itu sendiri. Karenanya, tugas keilmuan desain busana saat ini bukan hanya menciptakan karya yang indah dan fungsional, tetapi juga membangun kesadaran kritis.

"Bagaimana teknologi digunakan tanpa menghilangkan nilai, bagaimana ekonomi kreatif dikembangkan tanpa merusak akar budaya, bagaimana inovasi dilakukan tanpa mengorbankan humanitas" ujar Wesnina.

Guru besar UNJ asal Balai Jariang, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat ini menyebutkan, Indonesia memiliki kekayaan tekstil yang luar biasa. Batik, tenun, songket, sulaman, ikat, dan berbagai ragam hias Nusantara. Bukan hanya warisan visual, tetapi juga warisan pengetahuan.

Menurtnya, setiap motif memiliki cerita, setiap warna memiliki makna, setiap teknik memiliki sejarah, setiap kain menyimpan relasi sosial, nilai spiritual, identitas komunitas, dan kecerdasan lokal.

"Karena itu, ketika motif tradisional dikembangkan ke dalam desain kontemporer, proses tersebut tidak boleh dilakukan secara sembarangan," kata Wesnina. "Ia membutuhkan pemahaman budaya, kepekaan estetika, kemampuan desain, dan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab."

Wesnina juga mengungkapkan dalam perjalanan penelitian sejak tahun 2020 - 2025, ia berupaya menunjukkan bahwa warisan tekstil Nusantara dapat menjadi sumber inovasi desain busana modern. Pada tahun 2020, Wesnina meneliti lagi motif Songket Kubang melalui teknik cetak digital pada busana siap pakai.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi digital dapat menjadi alat untuk mentransformasikan motif tradisional ke dalam busana modern tanpa menghilangkan identitas simboliknya," ujarnya.

Wesnina menambahkan, digital printing dalam hal ini bukanlah pengganti tradisi. Ia adalah medium translasi visual. Melalui teknologi, motif dapat diolah kembali dalam komposisi, warna, skala, proporsi, dan ritme visual yang sesuai dengan kebutuhan desain kontemporer.**

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....