Menjemput Fajar tanpa Noda, Mengembalikan Kesucian Baralek di Ranah Minang

  • 28 Jun 2026 12:19 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Sebuah pesta pernikahan atau baralek di Minangkabau sejatinya adalah hal yang sakral. Baralek bukan sekadar perayaan bertemunya dua hati, melainkan prosesi adat yang sarat doa dan tempat bertemunya dunsanak menjemput berkah.

Namun belakangan ini, terjadi pergeseran karena pesta yang seharusnya menjadi ladang pahala, bertukar rupa menjadi ajang mudarat yang dipaksakan bergulir hingga subuh menjelang. Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Prof. Fauzi Bahar, Sabtu, 27 Juni 2026 melempar sebuah refleksi mendalam yang menampar kesadaran bersama. Ia mengingatkan sebuah realita yang luput dari mata pesta dimana ada tubuh-tubuh yang teramat lelah di balik gemerlap pelaminan.

“Bisa dibayangkan fisik anak daro, sang mempelai perempuan yang sejak fajar menyingsing sudah didera kesibukan luar biasa, mulai dari menyapa ratusan tamu, berdiri berjam-jam, sembari menahan beratnya suntiang yang menekan kepala. Suntiang menjadi simbol kehormatan yang megah, namun secara fisik, ia menuntut ketahanan tubuh,” ujarnya.

Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Prof. Fauzi Bahar

Sangat disayangkan, bahkan cenderung tidak manusiawi, jika sisa tenaga yang sudah terkuras jelas Prof. Fauzi terus dipaksakan untuk menyaksikan pesta yang bergeser menjadi panggung hura-hura di tengah malam. Musik yang berdentum hingga pagi, joget yang tak lagi mengindahkan batas norma hingga hilangnya kesadaran akibat minuman keras yang membuka pintu bagi kemaksiatan dan zina.

Edukasi yang diurai Prof. Fauzi Bahar bukan bermaksud membatasi kebahagiaan. Ini benteng untuk melindungi marwah. Membatasi durasi baralek agar tidak larut hingga pagi adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada kedua mempelai dan keluarga karena sejatinya pernikahan adalah awal dari ibadah terpanjang seumur hidup, amat malang jika lembaran pertamanya ditulis dengan tinta mudarat.

Pada kesempatan tersebut, Ketua LKAAM Sumbar mengajak masyarakat di Ranah Minang untuk mengembalikan esensi baralek yang humanis. Menurutnya, rumah tangga yang berkah tidak dibangun dari sisa malam yang riuh oleh hura-hura, melainkan dari kedamaian yang terjaga sejak hari pertama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....