Baju Milik Jadi Magnet Festival Minangkabau 2026

  • 25 Jun 2026 20:34 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang -Keunikan budaya Nagari Padang Magek, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar menjadi sorotan dalam pembukaan Festival Minangkabau 2026 di Istano Basa Pagaruyung, Kamis, 25 Juni 2026. Sebanyak lebih kurang 180 Baju Milik dikenakan secara serentak dan berhasil menyita perhatian serta animo para pengunjung yang hadir pada festival budaya tahunan tersebut.

Baju Milik merupakan busana khas perempuan Nagari Padang Magek yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai kegiatan adat penting seperti batagak gala, baralek pernikahan, dan acara adat lainnya. Keunikan bentuk dan kelengkapan busana tersebut menjadikannya salah satu daya tarik utama festival dan menjadi lokasi favorit pengunjung untuk berfoto.

Busana adat tersebut terdiri dari tangkuluak, baju hitam, rok hitam, selendang, ikat pinggang, serta kambuik bajaik. Setiap bagian memiliki makna filosofis yang mencerminkan nilai-nilai adat Minangkabau yang berlandaskan prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Selain menjadi simbol identitas budaya, Baju Milik juga menggambarkan kekuatan tradisi yang tetap terjaga di tengah perkembangan zaman. Nilai yang terkandung di dalamnya mencerminkan adat nan indak lakang dek paneh dan indak lapuak dek hujan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Pembukaan Festival Minangkabau juga dimeriahkan dengan penampilan tari kolosal Saribu Katidiang Saok dari Nagari Tanjung Alam, Kecamatan Tanjung Baru. Pertunjukan tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat mulai dari anak-anak hingga bundo kanduang yang tampil secara harmonis di hadapan para tamu dan pengunjung.

Gerakan tari yang ditampilkan menggambarkan semangat gotong royong masyarakat Nagari Tanjung Alam dalam menjaga dan melestarikan adat serta budaya di tengah era modern. Penampilan itu mendapat sambutan meriah karena mampu mengangkat nilai kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau.

Tidak hanya pertunjukan seni, setiap nagari di Kabupaten Tanah Datar juga menampilkan beragam warisan budaya leluhur yang masih dilestarikan hingga saat ini. Berbagai prosesi adat seperti turun mandi, maanta marapulai, managuah, dan mamanis-manisi anak diperagakan kepada pengunjung, sebelum ditutup dengan tari kolosal multi etnik dari Nagari Baringin.

Sementara itu, kawasan Lapangan Cindua Mato (LCM) Batusangkar menjadi pusat kuliner tempo dulu yang turut menarik perhatian pengunjung. Beragam makanan tradisional seperti karupuak leak, pinukuik tampuruang, lompong sagu, dan godok ubi disajikan di lokasi tersebut. Bupati Tanah Datar, Eka Putra, bersama tamu undangan bahkan menyempatkan diri menikmati karupuak leak dan aie aka. Menurutnya, penyajian kuliner tradisional dalam Festival Minangkabau tidak hanya mengobati kerinduan masyarakat terhadap makanan warisan leluhur, tetapi juga menjadi sarana menggerakkan perekonomian masyarakat dan pelaku UMKM selama festival yang berlangsung hingga 28 Juni 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....