Gotong Sisingaan, Tradisi Sunda yang Sarat Makna dan Filosofi
- 23 Jun 2026 15:15 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Tradisi gotong sisingaan menjadi salah satu kesenian khas Sunda yang masih terus dilestarikan hingga sekarang. Kesenian tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan filosofi mendalam.
Pengurus Paguyuban Warga Sunda Kota Padang, Kang Dhani saat menjadi narasumber program Gentra Parahiyangan Pro 4 RRI Padang, mengatakan gotong sisingaan awalnya berasal dari daerah Subang, Jawa Barat. Tradisi itu bermula dari keinginan orang tua untuk menghibur anak yang akan dikhitan.
“Dulu awalnya hanya berupa kursi yang dihias lalu diangkat menggunakan tandu,” ujar Kang Dhani. Pada masa itu, bentuknya belum menyerupai singa seperti sekarang.
Menurutnya, kursi hias tersebut dahulu dikenal dengan istilah jampana. Seiring perkembangan zaman, bentuk jampana kemudian berubah menjadi patung singa yang dibuat dari bambu dan karung goni.
Kang Dhani menjelaskan penggunaan simbol singa memiliki kaitan dengan sejarah penjajahan Inggris di tanah Sunda. Singa dianggap melambangkan lambang penjajah Inggris pada masa itu.
“Anak yang disunat melambangkan generasi penerus bangsa,” katanya. Sementara empat orang pengusung tandu menggambarkan rakyat yang tertindas pada masa penjajahan.
Tradisi gotong sisingaan kini tidak hanya digunakan dalam prosesi khitanan. Dalam perkembangannya, kesenian tersebut juga tampil dalam berbagai acara seremonial dan festival budaya.
Paguyuban Warga Sunda Kota Padang melalui Lingkung Seni Gentra Parahiangan menjadi salah satu kelompok yang aktif menampilkan gotong sisingaan di berbagai kegiatan resmi. Penampilan tersebut kerap hadir dalam festival hingga penyambutan tamu penting.
“Gubernur dan wali kota juga pernah menggunakan sisingaan dalam penyambutan,” ujar Kang Dhani. Menurutnya, tradisi tersebut kini lebih fleksibel menyesuaikan kebutuhan acara.
Kang Dhani mengatakan pelestarian budaya menjadi alasan utama tradisi tersebut terus ditampilkan di Kota Padang. Saat ini, Paguyuban Warga Sunda juga mulai melakukan regenerasi anggota agar kesenian tersebut tetap bertahan.
Menurutnya, budaya tidak harus kaku dan dapat menyesuaikan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai tradisi. Karena itu, gotong sisingaan dinilai tetap relevan ditampilkan di berbagai kegiatan modern.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....