Baju Kuruang Basiba Cerminkan Harmoni Adat dan Islam di Ranah Minang

  • 13 Jun 2026 07:29 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Baju kuruang basiba menjadi salah satu identitas budaya perempuan Minangkabau yang sarat akan nilai adat dan agama. Keberadaannya tidak hanya sebagai pakaian tradisional, tetapi juga mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat Minang yang menjunjung tinggi kesopanan dan syariat Islam.

Ketua Umum Komunitas Basiba Sumatera Barat, Ramayari, saat menjadi narasumber dalam Program Siaran Budaya Nusantara Pro 4 RRI Padang, Jum’at 12 Juni 2026 menjelaskan bahwa baju kurung sebenarnya telah dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia. Namun, baju kuruang basiba memiliki ciri khas yang membedakannya dengan baju kurung pada umumnya.

Menurut Ramayari, perkembangan pakaian perempuan Minangkabau mengalami perubahan sejak masuknya Islam ke wilayah Sumatera Barat sekitar abad ke-14. Sebelumnya, perempuan lebih banyak mengenakan kain sarung yang dililitkan ke dada dan digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

“Setelah masuk Islam, pakaian yang digunakan mulai menyesuaikan dengan kebutuhan menutup aurat sehingga lahirlah penggunaan baju kurung yang lebih sesuai dengan nilai-nilai keislaman,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa bentuk baju kurung yang dikenal saat itu tentu berbeda dengan model yang berkembang saat ini.

Ramayari menjelaskan bahwa istilah “basiba” menjadi pembeda utama antara baju kurung biasa dan baju kuruang basiba. “Basiba itu adalah garis dari bahu sampai ke bawah baju di bagian depan, belakang, kiri, dan kanan yang membuat baju menjadi longgar dan tidak membentuk tubuh,” katanya.

Selain memiliki potongan yang longgar, baju kuruang basiba juga tidak menggunakan saku maupun resleting, sementara bagian lengannya dibuat lebih lebar. Desain tersebut bertujuan agar tubuh pemakainya tidak terlihat jelas serta memudahkan perempuan dalam menjalankan aktivitas, termasuk ketika hendak berwudu dan melaksanakan salat.

Lebih lanjut, Ramayari menegaskan bahwa baju kuruang basiba bukan sekadar hasil rancangan jahitan, melainkan memiliki filosofi yang mendalam. “Baju ini adalah filosofi perempuan Minang yang bergerak dengan leluasa, tetapi tetap menjaga adat dan nilai-nilai yang diwariskan,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....