LKAAM Sumbar Ajak Generasi Muda Lestarikan Etika Berbahasa Minang

  • 28 Mei 2026 21:36 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Program MAOTA (Ngobrol Asik Ala Urang Awak) di RRI Padang, Kamis, 28 Mei 2026 menghadirkan diskusi menarik tentang pentingnya tutur kata dan etika berbahasa dalam budaya Minangkabau. Dialog yang dipandu presenter Wahyudi Maswar dan Rini Kamal itu menghadirkan Ketua Harian Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Amril Amir, serta Duta Kampus Politeknik Negeri Padang (PNP) 2025, Nur Annisa Hadad.

Dalam perbincangan tersebut, Amril Amir menegaskan masyarakat Minangkabau sejak dahulu dikenal sebagai masyarakat penutur yang menjunjung tinggi etika dalam berbahasa. Menurutnya, posisi tutur kata sangat penting karena mencerminkan jati diri dan penghormatan kepada lawan bicara.

“Orang Minang itu dikenal sebagai penutur. Dalam adat Minangkabau ada yang disebut langgam, yakni bagaimana menggunakan bahasa sesuai konteksnya,” ujar Amril Amir.

Amril menjelaskan, dalam budaya Minangkabau terdapat konsep “kato nan ampek” yang mengatur tata cara berkomunikasi, mulai dari kato mendaki, kato mendata, kato menurun hingga kato malereng. Ia menyebut, penggunaan bahasa yang tepat menjadi bagian penting dalam menjaga keharmonisan hubungan sosial di tengah masyarakat.

Menurutnya, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga mengandung nilai estetika dan kesantunan. “Kalau berbahasa menunjukkan estetika jati diri kita, itu disebut baso. Tapi kalau dalam tataran komunikasi dan langgam, itu disebut kato,” katanya.

Sementara itu, Duta Kampus PNP 2025, Nur Annisa Hadad, menilai nilai-nilai adat Minangkabau terkait etika komunikasi masih relevan diterapkan di kalangan generasi muda dan lingkungan kampus. Hanya saja, penerapannya membutuhkan pembiasaan sejak lingkungan keluarga.

“Masih bisa banget diterapkan. Mungkin memang agak susah karena pelajaran adat Minangkabau sudah jarang muncul. Jadi bisa dimulai dari circle terkecil dulu, seperti keluarga dan pertemanan,” ujar Nur Annisa.

Dalam dialog tersebut, Amril Amir juga menepis anggapan bahwa generasi muda saat ini sudah kehilangan etika dalam berbahasa. Menurutnya, anak muda sekarang sebenarnya masih menerapkan nilai kesopanan, meski tidak lagi mengenal istilah-istilah adat secara mendalam.

“Saya tidak setuju kalau dikatakan anak muda kini tidak beradab. Masih ada. Cuma mereka mungkin tidak hafal istilah kato mendaki atau kato malereng, tapi aplikasinya tetap ada dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Melalui kegiatan Maota RRI Padang itu, para narasumber berharap nilai-nilai adat Minangkabau, khususnya etika berbahasa dan bertutur kata, tetap diwariskan kepada generasi muda agar budaya santun dalam komunikasi terus terjaga di tengah perkembangan zaman modern.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....