Memancang Pilar Mitigasi Bencana dalam Filosofi Adat Minangkabau
- 29 Apr 2026 14:34 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Bencana banjir bandang atau galodo bukan sekadar fenomena alam, melainkan pertanda keseimbangan yang mulai goyah. Prof. Fauzi Bahar selaku Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat mengingatkan, leluhur Minangkabau telah lama memancangkan pilar mitigasi dalam filosofi Alam Takambang Jadi Guru
Menurut Prof. Fauzi, hutan atau rimbo dalam tatanan adat Minangkabau bukanlah komoditas, melainkan pusaka yang memiliki fungsi perlindungan mutlak. Ia juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali peran rimbo larangan sebagai benteng alami yang menjaga hulu sungai agar tidak menjadi petaka bagi masyarakat di hilir.
“Penting edukasi kembali kepada kaum muda dan para pengusaha, tanah ulayat dan hutan punya aturan main. Jangan sembarangan menebang kayu karena jika hulu dirusak, sama saja mengundang galodo datang ke pintu rumah warga,” jelas Prof. Fauzi Bahar pada Selasa, 28 April 2026.
Lebih jauh, Ketua LKAAM Sumbar menekankan, edukasi adat bagi generasi muda adalah investasi keselamatan jangka panjang. Mitigasi tidak hanya soal alat deteksi dini elektronik, tetapi tentang rasa memiliki terhadap tanah ulaya.
Pengusaha pun diimbau agar tidak hanya mengejar profit, namun wajib menghormati kearifan lokal yang telah terbukti menjaga Sumatera Barat selama berabad-abad. Di tengah ancaman perubahan iklim, sistem mitigasi berbasis kearifan lokal ini diharapkan menjadi tameng yang kokoh, agar gemuruh Galodo tak lagi menggantikan suara damai aliran sungai di Ranah Minang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....