KOGAMI Dorong Mitigasi Non-Struktural: Latih Refleks Warga Hadapi Gempa

  • 28 Sep 2026 15:52 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Kesiapsiagaan menghadapi bencana alam tidak hanya bergantung pada fisik bangunan, tetapi juga pada kesiapan mental dan tindakan masyarakat. Menyadari hal tersebut, Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI) secara konsisten hadir memberikan edukasi dan pelatihan mitigasi bencana, khususnya melalui pendekatan jalur non-struktural.

Pendiri KOGAMI, Patra Rina Dewi, menjelaskan, pilihan fokus pada mitigasi non-struktural didasari oleh realita infrastruktur yang ada saat ini. “Belum semua bangunan kita ramah gempa, nah karena bangunan mungkin lama proses perbaikannya maka KOGAMI mengambil jalur mitigasi non-struktural,” ungkap Patra.

Mitigasi non-struktural berfokus pada peningkatan kapasitas manusia, mulai dari pelatihan berkala, mengenali potensi ancaman di lingkungan sekitar, hingga memahami langkah-langkah penyelamatan diri yang tepat. KOGAMI memastikan edukasi ini tidak sekadar menjadi teori di atas kertas, melainkan dilatih secara praktis agar menjadi bagian dari refleks masyarakat.

Penyelamatan Diri Saat Gempa

Patra membagikan panduan taktis bagi masyarakat saat menghadapi guncangan gempa ketika berada di dalam bangunan:

  • Opsi Pertama (Posisi Dekat Akses Keluar): Jika berada di lantai satu dan dekat dengan pintu keluar yang mudah diakses, segera lindungi kepala dan berlari menuju area terbuka. Pastikan area tersebut bebas dari risiko tertimpa papan reklame, tiang listrik, maupun pohon.
  • Opsi Kedua (Guncangan Kuat / Jauh dari Akses Keluar): Jika guncangan terlalu kuat sehingga tidak memungkinkan berlari ke luar, jangan memaksakan diri. Segera cari tempat berlindung di dalam ruangan, seperti di bawah meja yang kokoh, di samping meja, atau di sudut ruangan yang memiliki tiang penyangga utama hingga guncangan mereda.
  • Langkah Setelah Gempa Reda: Begitu gempa berhenti, tetap lindungi kepala dan berjalanlah keluar ruangan menuju tempat terbuka.

Melatih Refleks untuk Mengatasi Kepanikan

Kunci utama keselamatan saat bencana adalah waktu tanggap (response time). Dalam situasi darurat, detik-detik awal sangat menentukan.

“Kalaupun bangunan kita akan ambruk, maka kita harus mendahului bangunan ambruk tersebut sehingga terhindar dari bencana,” kata Patra.

Melalui pelatihan yang intensif dan berkelanjutan, masyarakat diharapkan memiliki refleks yang terlatih. Dengan demikian, ketika gempa terjadi, warga tidak lagi merasa bingung atau kehilangan waktu berharga hanya karena panik, melainkan dapat langsung mengambil tindakan penyelamatan diri yang tepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....