Ancaman Bencana Sumbar, Perkuat Mitigasi dan Kesiapsiagaan

  • 20 Sep 2026 06:54 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Sebagai salah satu wilayah rawan bencana di Indonesia, Sumatera Barat menuntut kepedulian dan sinergi kolektif dari seluruh lapisan masyarakat. Kesiapsiagaan warga menjadi kunci krusial untuk menekan risiko korban jiwa, kerusakan lingkungan, dan kehancuran ekonomi daerah.

Sekretaris BPBD Provinsi Sumatera Barat Ilham Wahab mengatakan, berada di daerah rawan bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, kekeringan, hingga letusan gunung berapi. mengharuskan masyarakat membangun langkah mitigasi, baik diri sendiri maupun keluarga. Untuk mitigasi bencana, secara umum pemerintah Provinsi Sumatera Barat, khususnya Kota Padang sudah menyiapkan beberapa jalur evakuasi dan pemasangan rambu arah evakuasi tersebut di beberapa titik.

“Bahkan jika terjadi bencana gempa yang berpotensi tsunami, maka di beberapa ruas jalan di Kota Padang juga sudah terpasang blue line yang merupakan perkiraan batas aman landaan tsunami,” ujar Ilham, Sabtu 19 September 2026.

Lebih lanjut Ilham Wahab mengatakan, di beberapa tempat juga sudah dilakukan pemasangan sirine peringatan dini tsunami. Untuk memastikan sirine ini berfungsi dengan baik, uji coba juga rutin dilakukan tanggal 26 setiap bulannya.

Kemudian beberapa gedung juga dipersiapkan sebagai shelter. Diantaranya gedung tersebut adalah gedung SMA Negeri 1 Padang yang berada di Lolong Balanti, gedung Masjid Raya Syech Ahmad Khatib Al Minangkabawi, gedung Polda Sumbar, serta escape building di kantor gubernur Sumbar.

“Memang belum semua gedung di berikan merek bahwa bisa sebagai shelter, karena gedung gedung tersebut harus dilakukan pemeriksaan secara teknis apakah layak atau tidak menjadi shelter,” kata Ilham.

Selain memahami jalur evakuasi, masyarakat perlu menyiapkan perlengkapan darurat berisi makanan, air, obat, dokumen, serta penerangan sederhana yang bisa disiapkan dalam tas siaga bencana. Persiapan tersebut membantu keluarga bertahan sementara ketika layanan publik terganggu akibat bencana yang melanda wilayah mereka.

Latihan evakuasi secara berkala, kata Ilham, juga penting dilakukan agar masyarakat terbiasa bertindak cepat, tertib, dan tidak mudah panik. Simulasi dapat melibatkan keluarga, sekolah, komunitas, pemerintah daerah, serta relawan untuk membangun koordinasi menghadapi keadaan darurat.

Kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh masyarakat dalam menjaga keselamatan lingkungan bersama. Kepedulian terhadap tetangga, terutama kelompok rentan, dapat memperkuat kemampuan komunitas menghadapi kondisi darurat secara lebih terkoordinasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....