Demam Kimpul dan Kebangkitan Pangan Lokal Menu Sehat Kaum Urban
- 17 Sep 2026 17:14 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang -Jagat maya belakangan ini mendadak diramaikan oleh tren kuliner unik yang mengangkat pamor umbi tradisional bernama kimpul ke permukaan. Bahan pangan yang dahulu hanya dianggap sebagai camilan pedesaan, kini bertransformasi menjadi primadona baru di dapur masyarakat perkotaan.
Viralnya video kreativitas mengolah talas belitung ini di media sosial sukses memicu rasa penasaran generasi muda untuk mencobanya. Gerakan masif ini membuktikan bahwa platform digital mampu menjadi motor penggerak yang kuat dalam mengenalkan kembali kekayaan pangan Nusantara.
Bukan sekadar ikut-ikutan tren kosmetik visual, popularitas komoditas ini didorong oleh kesadaran publik akan pentingnya kualitas nutrisi harian. Karakteristik pati yang baik membuat komoditas ini digemari sebagai alternatif karbohidrat fungsional yang mengenyangkan.
Tinjauan gizi dari Alodokter menyebutkan bahwa kimpul memiliki indeks glikemik yang lebih rendah daripada nasi putih. Hal ini menjadikannya sangat cocok bagi penderita diabetes serta pelaku diet yang ingin mengontrol kadar gula darah.
Selain aman bagi metabolisme gula tubuh, umbi lokal ini juga dikenal kaya akan serat pangan dan bebas gluten secara alami. Konsumsi secara berkala sangat bermanfaat untuk menjaga kelancaran sistem pencernaan sekaligus memberikan energi berkelanjutan.
Namun, para ahli gizi mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam proses pengolahan jenis talas-talasan ini. Menurut riset dari Agavi, kimpul mengandung senyawa kalsium oksalat alami yang dapat memicu rasa gatal di tenggorokan jika tidak dicuci dan direndam air garam dengan benar sebelum dimasak.
Melalui edukasi pengolahan yang tepat, tantangan tersebut justru memicu lahirnya berbagai inovasi resep kekinian yang menggugah selera. Diversifikasi menu dari sekadar direbus hingga menjadi bahan dasar kue membuktikan fleksibilitas bahan pangan lokal di era modern.
Pada akhirnya, fenomena viral ini membawa dampak positif yang besar bagi agenda ketahanan pangan nasional. Menurut pandangan ahli gizi di Universitas Airlangga, momentum ini merupakan langkah awal yang baik untuk menyukseskan program diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....