Detik-Detik Lahirnya Sang Penjaga Udara Republik

  • 31 Agt 2026 16:49 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Usai gelora Proklamasi 17 Agustus 1945 mengangkasa, Indonesia memang telah merdeka. Namun, ancaman untuk membungkam suara bangsa baru ini terus mengintai.

Di tengah kepungan ketidakpastian dan intimidasi tentara pendudukan, para pemuda dan pejuang radio tak tinggal diam. Mereka sadar, tanpa pemancar, kemerdekaan hanya akan menjadi bisikan yang tak terdengar dunia.

Pada 11 September 1945, sebuah rumah sederhana di Jalan Adityawarman No. 7, Surakarta, Jawa Tengah, menjadi saksi bisu peristiwa monumental. Di kediaman Adang Kadarusman tersebut, delegasi dari 8 stasiun radio eks-Hoso Kyoku se-Pulau Jawa berkumpul. Mereka datang memikul tanggung jawab besar: menyatukan seluruh kekuatan gelombang udara demi mengawal kedaulatan Indonesia.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban sekaligus ketegangan itu melahirkan keputusan bersejarah. Hari itu, Radio Republik Indonesia (RRI) resmi didirikan. Prof. Dr. Abdulrahman Saleh dipercaya sebagai pemimpin pertama, dan tanggal 11 September ditetapkan sebagai hari lahir sang obor penyiaran nasional.

Tak sekadar mendirikan lembaga, para perintis tersebut mencetuskan janji suci Tri Prasetya RRI, sebuah komitmen teguh untuk terus menyelamatkan alat siaran, berdiri di atas segala aliran atau golongan, serta mengabdi hanya kepada Negara dan Bangsa.

Dari Surakarta dan Jakarta, stasiun RRI pertama mulai memancarkan denyut nadi perjuangan. Meski kelak harus ikut bergerilya naik-turun gunung menembus hutan seiring bergejolaknya Perang Kemerdekaan, RRI tetap setia menjadi benteng informasi dan pengobar semangat rakyat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....