Kaharuddin Yosodipuro Penyambung Lidah sang Presiden DaruratMuseumm
- 31 Agt 2026 17:49 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Ketika Yogyakarta jatuh pada Agresi Militer Belanda II, garis pertahanan Republik tidak lantas lenyap. Di jantung Sumatra Barat, api perlawanan justru menyala lewat Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin Sjafruddin Prawiranegara.
Namun, pemerintahan gerilya ini tak akan ada artinya tanpa Kaharuddin Yosodipuro dan tim teknisi RRI yang menjadi penyambung lidah sang presiden darurat. Di bawah incaran patroli darat dan intaian pesawat intelijen Belanda, Kaharuddin bersama timnya memikul perangkat pemancar portabel seberat puluhan kilogram. Mereka tak menetap di satu tempat.
Berjalan kaki menembus pekatnya hutan belantara, menyeberangi arus sungai deras, hingga memanjat perbukitan terjal Minangkabau mulai dari Halaban, Koto Tinggi, hingga kawasan rimba Bidar Alam. Rumah-rumah panggung warga lokal dan gubuk ladang terpencil menjadi stasiun radio darurat mereka. Setiap kali hendak mengudara, mesin generator yang berat harus diputar manual dengan sisa-sisa tenaga, di tengah udara malam pegunungan yang menusuk tulang.
Di bawah remang lampu teplok dan ancaman penyergapan yang bisa terjadi kapan saja, Kaharuddin dengan tenang mendekati mikrofon:
"Di sini Radio Pemerintah Darurat Republik Indonesia... Pemerintah Republik Indonesia masih ada dan terus berjuang dari pedalaman Sumatra!"
Lewat gelombang pendek yang dipancarkan dari balik lebatnya rimba Sumatra Barat, pesan-pesan instruksi PDRI berhasil disalurkan ke para pejuang di berbagai daerah. Tak hanya itu, kawat berita yang mereka kirimkan berhasil ditangkap oleh pemancar di Aceh dan India, lalu disampaikan ke forum PBB.
Kaharuddin Yosodipuro dan timnya membuktikan bahwa meski harus merayap di lumpur dan tidur di balik semak belukar, suara kedaulatan bangsa tak pernah bisa dibungkam oleh kekuatan militer sehebat apa pun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....