Mengapa Pohon Asam Ditanam di Pingir Jalan

  • 15 Jul 2026 12:17 WIB
  •  Padang
RRI.CO.ID,Padang - Pada masa penjajahan, pemerintah kolonial Hindia Belanda gemar menanam pohon asam jawa di pinggir jalan. Asam jawa (Tamarindus indica) mempunyai ciri khas berbentuk polong yang panjang dan keras, serta kulitnya kasar.Daging buah asam jawa berwarna kecokelatan dan punya rasa asam yang kuat. Pohon ini menyebar ke berbagai wilayah di dunia melalui jalur perdagangan dan penjelajahan manusia.

Berdasarkan buku Khasiat Asam Jawa: Budaya dan Tradisi dalam Kuliner Indonesia oleh Vanesa Adisa, pohon asam jawa berasal dari Afrika, tetapi pertama kali dibudidayakan di India. Dari India, asam jawa lantas menyebar ke berbagai wilayah di Asia seperti Sri Lanka, Tailan, Myanmar, juga Indonesia.

Asam jawa juga kemudian dibawa pedagang Arab ke Timur Tengah dan sebagian wilayah Eropa pada abad ke-9 dan ke-10. Di Eropa, asam Jawa mulanya dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami dan pengawet makanan. Selanjutnya, buah tersebut diperkenalkan ke Amerika oleh penjajah Spanyol pada abad ke-16.

Pohon asam ditanam di pinggir jalan karena memiliki batang yang sangat kokoh, akar kuat, dan tajuk lebar yang berfungsi sebagai peneduh . Ditanam secara masif sejak zaman kolonial Belanda, pohon ini juga tahan terhadap cuaca ekstrem dan berfungsi ekologis untuk menjaga struktur tanah serta menghasilkan banyak oksigen.

Praktik ini awalnya digencarkan oleh pemerintah kolonial Belanda, seperti pada masa pembangunan Jalan Raya Pos (Anyer-Panarukan) oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Berikut adalah alasan utamanya:
  • Kebutuhan Pengguna Jalan: Pada zaman dahulu perjalanan dilakukan dengan jalan kaki, naik kuda, atau gerobak dan memakan waktu berhari-hari, sehingga pohon ini berfungsi sebagai tempat istirahat yang sejuk.
  • Daun Rindang namun Terang: Tajuknya lebar, tetapi daunnya berukuran kecil sehingga sinar matahari masih bisa menembus di sela-selanya. Ini membuat jalan tetap teduh tanpa menjadi terlalu gelap.
  • Keawetan dan Kekuatan: Pohon asam memiliki umur yang sangat panjang, mampu hidup hingga ratusan tahun, dan perakarannya kuat sehingga tidak mudah tumbang diterjang angin.
Dalam konteks budaya lokal, seperti di sepanjang kawasan Jalan Malioboro di Yogyakarta, pemilihan pohon asam (asam Jawa) juga memiliki filosofi tersendiri. Pohon asem melambangkan sengsem (ketertarikan) dengan harapan pengguna jalan merasa senang dan tertarik.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....