Sumbar Masuk Pancaroba, BMKG Ingatkan Ancaman Hujan Ekstrem
- 24 Jun 2026 19:05 WIB
- Padang
Poin Utama
- Wilayah Sumatra Barat tengah menghadapi musim transisi (pancaroba) yang memicu fenomena cuaca ekstrem.
- Pasca-banjir bandang sebelumnya, sebagian besar dari 1.000 aliran sungai di Sumbar mengalami pendangkalan parah akibat tumpukan sedimen tinggi.
- Akurasi sistem peringatan dini darurat BMKG untuk jangka pendek (skala 3 jam) kini telah menembus angka di atas 90%.
RRI.CO.ID, Padang - Musim pancaroba yang dinamis dan sulit ditebak kini tengah membayangi wilayah Sumatra Barat dengan potensi ancaman bencana hidrometeorologi. Hal tersebut terungkap dalam dialog interaktif Bercerita Bencana yang disiarkan pada Selasa, 23 Juni 2026 di Pro 1 Padang.
Koordinator Bidang Observasi BMKG, Yudha Nugraha menyatakan perubahan iklim global memicu durasi musim kemarau menjadi jauh lebih panjang. Namun saat hujan turun intensitasnya justru menjadi sangat ekstrem sehingga memicu limpasan air yang berbahaya bagi masyarakat sekitar.
Kondisi tanah yang sempat mengering selama kemarau membuat pori-pori tanah kosong dan sangat rapuh saat menyerap air. Prof. Isril Berd dari Forum DAS menjelaskan fenomena inilah yang memicu gerakan tanah dan longsor di perbukitan.
Topografi Sumatra Barat memang tergolong sangat ekstrem karena memiliki lebih dari 75% kawasan lereng curam hingga sangat curam. Kawasan tersebut kian rawan karena dilalui oleh jalur Bukit Barisan dan dialiri oleh sekitar 1000 aliran sungai.
Pihak BPBD Sumatra Barat yang diwakili Ilham Wahab kini tengah memetakan seluruh tingkat kerawanan di daerah. Ia menyebutkan daya tampung sebagian besar sungai saat ini sangat rendah akibat tumpukan sedimen pasca banjir bandang.
Untuk mengantisipasi jatuhnya korban jiwa, pihak BPBD Sumbar juga memastikan kesiapan seluruh personel lapangan beserta peralatan evakuasi. Mereka kini memanfaatkan Gudang Regional BNPB di Padang untuk menyimpan persediaan logistik makanan dan juga peralatan darurat.
Pemerintah daerah bersama lintas sektor bahkan telah merancang draf SOP penanganan darurat berbasis 6 klaster bencana utama. Prosedur taktis yang menjadi pertama di Indonesia ini rencananya akan segera diuji publik pada tanggal 29 Juni 2026.
Tantangan mitigasi di lapangan kian berat karena kapasitas drainase perkotaan dinilai tidak lagi sesuai dengan curah hujan. Standar drainase nasional hanya menampung 60 milimeter padahal curah hujan lokal di Padang sering menembus 100 milimeter.
Profesor Isril Berd juga mengkritik penurunan kualitas tutupan hutan Sumatra Barat akibat maraknya aktivitas pembalakan liar saat ini. Masyarakat diimbau untuk tidak membuang sampah ke sungai dan menunda perjalanan jika cuaca ekstrem mulai melanda wilayah.
BMKG sendiri memastikan akurasi peringatan dini cuaca darurat untuk jangka pendek kini telah mencapai di atas 90 persen. Informasi taktis yang diperbarui setiap 3 jam tersebut disebarkan secara masif untuk mendukung langkah evakuasi mandiri warga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....